Boom! Bah!—LOVE! | Prolog

Boom! Bah! Love!

Jo Liyeol’s present ©2017

Boom! Bah!—LOVE!
What the-? 

( Kamis sore, 27 Oktober. Menjadi hari yang tak pernah mau Taehyung ingat meski di secuil memori otaknya yang begitu baik. )

.

OCC || AU || Typo || BL
[ PrologueDrabble. ]

.


“Tidak.”

Satu pernyataan telak yang Jungkook keluarkan tepat ketika Taehyung berhenti mengutarakan perasaannya. Membuat si Kim tergugu dengan mulut hampir menganga. Seluruh afeksi congkaknya terganti begitu saja, raut angkuh yang sedari tadi ia pancarkan kala menyatakan isi hati pada Jungkook seketika buyar begitu kurang ajar.

Kalau saja Taehyung tidak ingat mereka tengah berada di kafe—bersama berpasang mata siswi-siswi serta ahjumma centil yang mencuri pandang ke arahnya—maka sudah Taehyung pastikan ia telah menjerit-jerit histeris mendengar tanggapan si Jeon.

“Jungkook, serius?” namun hanya pertanyaan itu yang keluar dari kerongkongannya, entah kenapa tiba-tiba terasa kering.

Frustasi di puncak imajinasi Taehyung menggamang ketika mendapati tanggapan begitu santai dari raut hambar Jungkook, “Serius.”

Karena untuk kali pertama seorang Kim Taehyung ditolak setelah umurnya genap 13 tahun.

Maka pengalihan dari atensi peningnya adalah menarik gelas karton moca blended di atas meja lalu menyeruputnya kasual (seberusaha mungkin tetap kelihatan elegant meski kepalanya tengah ditumbuk habis-habisan), kembali mendongak sekedar salah tingkah dengan melonggarkan simpul dasi—yang sungguh membuat kaum hawa di sana terjangkit sesak napas tiba-tiba, berlanjut memancarkan aura kanibal ke arah Jungkook—sambil menggoyangkan kelapa kikuk. Taehyung berdeham dua kali dengan tangan kanan mengepal di depan mulut, lalu kembali bersuara sambil menyentak pelan pantatnya bermaksud menggeret kursi yang ia duduki maju, menimbulkan bunyi bising; decit kaki-kaki kursi bertubruk ubin memenuhi pendengaran si Jeon.

Taehyung menjilat belah bibir seiring tatapan yang tak kunjung ia alihkan mengarah pada Jungkook, “Kau serius?” tanyanya masih tak percaya. Sorot mata inteljen ia pendarkan begitu intens menelisik sekembar obsidian Jungkook yang sama sekali tanpa canda.

“Menurutmu?”

Pernyataan singkat si Jeon mengundang Taehyung mengedip beberapa kali, sebelum remaja Kim itu mengulum senyum ringis. Berlanjut kembali serius dengan sebelah alis terangkat, “Yakin?”

Lagi. Jungkook mengangguk, “Yakin.”

“Kenapa?” kepolosan Taehyung menggamang. Pendaran obsidiannya menyalang menatap Jungkook penuh tanya.

“Aku tidak menyukaimu.”

Oke Taehyung frustasi, tanggapan tak berdosa Jungkook benar-baner tulus sosok itu keluarkan tanpa minat meminta atensi lebih dari Taehyung.

Terlebih ketika si Jeon menimpali saat si Kim kembali menyesap moca blended dari gelas karton di tangannya alih-alih menerkam sosok itu sekarang juga sangking gemasnya, “Itu punyaku, omong-omong. Yang kau pesan dark chocolate ‘kan?” sambil menunjuk gelas karton lain di meja mereka.

.

Attention! Taehyung frustrationCompleted.

.

Hening beberapa sekon sebelum dengan acuh Taehyung kembali memupuk ego di selaput jantung hingga menebal. Seakan tak peduli pada malu ia berdeham dua kali, tidak mengindahkan tatapan remaja manis itu yang masih menuntut minumannya kembali, “Lupakan soal apa yang kupesan—”

Mendengar pernyataan si Kim dengan cepat Jungkook menyela tidak terima, “Lupakan? Hey-hey, dark chocolatemu berharga tiga ribu won, sedangkan moca blendedku empat setengah ribu. Aku kehilangan seribu lima ratus won cuma-cuma dan kau bilang lupakan?”

Hening lagi. Omelan Jungkook membuat Taehyung benar-benar ingin berteriak histeris saat ini. Bagaimana bisa ada orang yang begini hitung-hitungan dengannya?—Jungkook orangnya, jangan ditanya. Bocah itu sungguh kelewat luar biasa memperlakukan Kim Taehyung begini tak terdefinisi.

Jadi bersamaan aura kesal yang tiba-tiba mengerubunginya, Taehyung berujar hampir memekik, “Kubilang lupakan! Aku bisa membelikanmu moca blended satu kardus sekarang juga. Aku hanya mau alasan kenapa kau menolakku?”

Hening lagi. Untuk beberapa detik entah kenapa Taehyung merasa menang, mememperhatikan raut perpaduan tampan-manis Jungkook menatapnya tanpa kedip.

Ya … menang, sebelum meleburkan diri dari puncak awan ke permukaan aspal jalan raya.

Ketika tanpa canda Jungkook menatapnya penuh celaan bercampur tatapan tidak suka, meski tak Taehyung pungkiri Jungkook masih menahan egonya dengan mengeluarkan suara begitu santai: “Karena ini, karena kau begini—orang kaya, huh? Hidupmu tidak pernah susah, Kim. Lihat—coba kau hitung berapa jumlah beras yang bisa didapat jika keseluruhan fashion dari ujung kepala hingga kakimu terganti lembaran won?” jeda, namun tak cukup untuk memberi waktu Taehyung menjawab, “Teman-teman sekelasku bisa makan enak dua minggu penuh dengan daging sapi di masing-masing kotak bekal mereka.”

Taehyung benar-banar diam tak menjawab bahkan saat Jungkook sungguhan memberi jeda baginya untuk membela diri.

Jadi sekedar menambal hening si Jeon kembali buka suara santai sambil menggedik bahu, “Aku tidak tertarik dengan anak yang terlahir kaya, mengandalkan uang orang tua—manja dan tidak biasa susah. Aku bukan tipe pengharap Cinderella satu malam yang keesokan harinya dijamin akan kau buang. Tipe sepertimu: menggandakan wanita di tiap hubungan hingga empat atau lima, bermodal uang apapun jadi, tidak setia dan sama sekali tidak bertanggung jawab; otoriter dan penuh dominasi, keras kepala, tidak bisa ditangani, pacar adalah hewan; belenggu menjadi rantainya yang kau gembok di pergelangan kakimu, bebas—terlalu bebas sampai tidak bisa dikendalikan. Bisa saja pacar hanya satu, tapi koncianmu milyaran diluar sana. Tipe jalang di hotel bintang lima. Murahan, tapi elegant,” jeda ketika Jungkook mengangguk-angguk sok paham akan ucapannya sendiri, “Bukan tipeku—sama sekali bukan tipeku.”

.

.

.

.

©Boom! Bah!—LOVE! : What the-?

PrologueFIN.


Jo Liyeol’s Curhat Timing


Hallo i’m comback! Kali ini kubawa fanfik series BTS =w= Entah kenapa kulebih nge-feel kalo Bang Mphii jadi alien idiot atau bajingan kepedean yang bangsadhnya kaga ketulungan :v Dan semoga sukaaa~

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s