Boom! Bah!—LOVE! | Bab 4

Jo Liyeol’s present ©2017

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!
BTS (+SEVENTEEN) FF! DLDR! RnR!


“Taehyung itu mantankorban bullying,”

“Kalau kau menaruh kecurigaan apapun pada kami—yah, tidak masalah.Itu hakmu dan nyatanya benarapa yang kau pikirkan soal cara kami bergaul hanya dengan sesama anak terpandang. Tapi—c’mon, Jungkook! Kalian bertiga akan jadi pengecualiandi sini. Karena ini tentang kawan baik kami yang tertarikpadamu. Maka jika itu absolut, kau pun adalah kawan kami dan kawan-kawanmu juga kawan kami. Alright?”

“Kau meragukan sesuatu?” “Apa Taehyung terlihat segitu meragukanbuatmu?” “—yah, terserah, itu sih benar-benar hakmu. Hanya saja sebagai kawannya dari kecil, aku tidak pernah melihat bocah brengsek itu begini sukanya pada seseorang.”

“Jungkook, aku bisa mengerti perasaanmu. Mungkin ini aneh dan tidak masuk akal, tapi cobalah percayai Taehyung sekali saja. Dia tidak searogan kelihatannya, kami yang jamin,”

.

“Korban bullying, hm?”

.

.

.

| | Vkook – TaeKook | |

.

.

.

.

©Chapter 4 : Wanna trust me, Jungkook?
Previous : | prolog | bab 1 | bab 2 | bab 3 |

.

.

“… Kook?”

“Jungkook!”

Si pemilik nama tersentak di kursinya. Mengedip mata banyak sekali lalu menggeleng cepat.

—sialan, dia melamun lagi.

Jungkook menoleh kikuk ke sumber suara sekedar mendapati Hansol mengernyitkan dahi kesal. Mata si Jeon menyipit tatkala mendapati kawannya mengeja tanpa suara, ‘Pinjam penghapus‘ katanya.

Tak perlu pengulangan, Jungkook melempar kotak pensilnya serampangan ke meja Hansol, membuat sedikit kegaduhan bising, lantas kembali menghadap depan memperhatikan Cha-ssaem yang fokus mencatat di papan tulis.

Taehyung itu mantan korban bullying.

Obsidian Jungkook mulai menerawang lagi, menembus kosong objek pandang di depan sana—otaknya melompong dan pikirannya mulai kacau.

Oke, pada akhirnya; dia melamun lagi.

Tidak tau kenapa, sebab korsleting kacau di bagian mana isi kepalanya. Ia pun bingung sendiri, sebab mulai memikirkan kata-kata Seungkwan juga aksi adu mulut Jimin-Soonyoung di kantin siang tadi.

Membuat otaknya dipenuhi pikiran macam-macam, mulai membayangkan sebab-akibat yang diterima Taehyung dari masa lalunya.

Bukan urusannya memang—lagi pula, ini cuma masa lalu. Kisah lama dari histori kelam Taehyung yang sudah lapuk. Jungkook tidak mau memikirkan ini, sumpah. Tapi kinerja pikirannya lebih dulu bekerja merangkai imajinasi tersendiri.

Ada sebersit niatan dari dirinya buat mendorong diri bertanya langsung pada yang mengalami. Tapi keberaniannya tidak cukup besar sampai mampu mengajukan tanya blak-blakan. Sisi lain, Jungkook rasa bukan hal sopan mengungkit-ungkit memori lama yang Taehyung sendiri tidak mau membeberkan langsung pada orang-orang.

Berakhir menjadikan si Jeon ini persis orang dungu, repot-repot memikirkan hal yang semestinya tidak perlu susah payah ia gali titik terangnya, dengan senang hati membayangkan bagaimana cara si Kim keluar dari zona keterpurukannya, dan memikirkan bagaimana sulitnya Taehyung sebelum jadi begini terang dimata orang-orang.

Ya, mungkin Jungkook terlalu ingin tau urusan orang. Tapi mau dipikir bagaimana juga, Kim Taehyung tidak lagi terasa asing buat rancu ia khayalkan.

.

.

.

.

.

[]

.

.

Boom! Bah!—LOVE!
idk like a dimmo

( Yah, Jungkook tau isi kepalanya mulai tidak beres. Sebab tanpa di perintah bayang-bayang Taehyung mulai memenuhi memorinya. )

.


Seperti biasa, bel berbunyi tepat jam lima sore. Sebentar lagi musim panas, usai liburan mungkin sekolah bakal lebih panjang dengan kelas tambahan dan jam malam.

“Sol-ah, warnet?” Jungkook menghunus kata-kata tanpa alih memberesi buku di muka meja, tepat usai Cha songsaenim keluar kelas.

Yang dimaksud mendelik lewat ujung mata, memasukkan penghapus ke tempat pensil Jungkook lalu dilempar ke si empunya, “Ayo,” kemudian sibuk pada barang-barangnya sendiri, “Line Jihoon suruh keluar cepat.”

Tanpa menjawab Jungkook mengeluarkan ponsel dari kantong gakuran, abai sejenak pada peralatan di kolong meja, mengontak siswa Lee di kelas tetangga tak terlalu lama lalu memasukan lagi ponselnya, “Sudah, sebentar lagi selesai katanya—ada ulangan dadakan Sastra Korea.”

Hansol mengangguk sambil menyisipkan buku ke tas, diam-diam menahan tawa, “Bagus, pasti anak itu sedang mendumal tidak karuan mencercai Nam-ssaem. Ulangan dadakan—ya Tuhan, lebih baik mati.”

Tawa sarkas Jungkook mengudara sebelum tanggapannya terdengar, “Berlebihan, Choi. Seperti kita siswa sungguhan saja, padahal biasanya jawab soal semester asal-asalan.”

“Sobat, itu pilihan terakhir kalau partner di sekitarmu model Chanwoo atau Bambam pas ada ujian. Jahanam pelit—sialan, mereka kalau sudah di hadapkan lembar ulangan bisa jadi lupa kawan—brengsek, bikin kesal kalau diingat-ingat.”

Jungkook tertawa geli atas dumalan kawannya, sambil memungut pena yang jatuh ia membalas cuek, “Makanya jangan diingat. Kalau sudah tau begitu, mending jawab soal sekenanya saja ‘kan, dari pada sakit hati?” lalu tertawa keras sekali saat mendapati muka Hansol bersungut-sungut.

Lantas hening tatkala keduanya fokus merapihkan alat KBM masuk ke tas. Memembiarkan bising lain dari kawan-kawan mereka mendominasi kelas. Saat kegaduhan ini berubah menjadi hening dalam sekejap—terganti bisik-bisik aneh yang saling bersaut, Hansol mendongak.

Keningnya nyaris bertaut saat mendapati rombongan kelas sebelah, yang siang tadi ada di satu meja kantin dengannya. Berjejer di sana—di ambang pintu kelas, tidak lagi terkejut tatkala mendapati Kim Taehyung berdiri paling depan, tersenyum angkuh saat obsidian mereka bersibobrok, lantas Hansol dapat dengan jelas menangkap makna dari isyarat mata Taehyung yang melirik cepat pada kawannya.

“Jungkook.”

Si Jeon baru selesai beres-beres barang di loker meja, nyaris menggendong tali tas ketika ia mesti menengadah. Menatap Hansol yang lagi-lagi memanggil namanya. Sambil mengenakan dengan benar ranselnya di bahu, Jungkook berdiri tanpa minat, “Apa?” ucapnya apatis.

Lantas mendapati air muka si Choi berubah rese sambil menggedik alis iseng, jemari siswa itu terangkat menunjuk arah pintu kelas.

Sebab ini Jungkook bergeming, tidak berbalik atau menoleh. Bermodal naluriah yang peka, ia paham betul siapa yang ditunjuk Hansol pada ambang pintu. Terdukung pula gemerisik riuh kawan-kawan kelasnya yang heboh di tempat.

Brengsek, pasti Taehyung.

Dan persepsinya dikonfirmasi dengan suara husky bocah SMU dengan sebelah tangan menepuk bahunya, “Jungkook, sudah balik ‘kan?” si Jeon menoleh, retinanya langsung disuguhkan tampang congkak Taehyung dengan empat cecunguknya yang mengekor di belakang, “Pulang denganku? Atau kuantar?” ada jeda saat dengan jelas-jelas bisa si Jeon tangkap senyum tulus di muka sombong itu, “Pilih mana?”

Helaan tercekat; ia tangkap dari bagaimana napas kawan kelasnya berembus, bersama picingan iri yang tertuju padanya sungguhan tidak tertutup alih-alih.

Bangsat, anak manja ini makin berani mengejarnya terang-terangan ternyata.

“Tidak kedua-duanya, terimakasih, aku pulang sama Hansol-Jihoon,”

Atas tanggapan itu dari ujung mata Taehyung mendelik, menatap penuh makna Hansol yang tak jauh di sana. Menangkap isyarat ini, si Choi mengedip polos sebelum menarik senyum tipis di sudut bibir. Memberi logika bagus akan tanggapannya untuk si Kim.

“Ng … Kook-ah. Lupa. Harus beli bungeoppang dulu di dekat terminal, Seungcheol-hyung titip tadi pagi. Warnetnya kapan-kapan saja oke?” bagus, mereka jadi komplotan sekarang.

Dahi Jungkook berkerut tidak suka, tau betul ada yang tidak beres dengan kawannya, “Kalau begitu pergi sama-sama—kuantar.”

“Tidak per—” di detik yang tepat ketika Hansol nyaris kebingungan menanggapi Jungkook (yang makin menuntutnya lewat retina), menjadi waktu Jihoon muncul di ambang pintu kelas, dengan tampang batu yang entah bagaimana terlihat bagai superhero bagi si Choi. Sedikit kikuk ia mengacungkan telunjuk pada adik ketua OSIS itu, “Tidak perlu! Aku pergi dengan Jihoon, kau pulang saja sana. D-dah ya! Bye!” kemudian buru-buru kabur usai melambai singkat, setengah berlari buat menerjang Jihoon dalam rangkulan. Sekedar membuat siswa Lee itu kebingungan, tidak bisa berbuat apa-apa saat Hansol menariknya menjauh dari sana.

Tak lama dari kebohongan pendek akal Hansol, Jungkook dibuat ling-lung saat kawan-kawan si Kim pun mulai beranjak satu persatu dengan dusta yang sama tidak elitnya.

Dari Soonyoung yang beralasan akan mengantar Hansol membeli kue ikan, karena jemputannya sudah datang duluan (sementara logisnya, jemputan mereka sudah menunggu dari tadi), ditimpal Seungkwan yang minta ikut (entah buat apa, padahal manajernya sudah menunggu di bawah). Lalu Jimin yang beralasan —tidak penting sama sekali— ingin ke ruang OSIS buat minta izin sang Ketos, soal absensi Hoseok Jung hari ini sebab olimpiade nasional. Diakhiri racauan tidak jelas Mingyu yang membahas perkara konstelasi angkasa —atau apalah tentang pelanet mars— cuma untuk meminta pamit padanya juga Taehyung buat pulang duluan (mesti ke bidan. Bayi kucingnya lahiran, katanya).

Man! Bayi kucing?

Yah … mungkin anak-anak manja ini jago akting, diajarkan cara mengekspresikan dialog dari lembaran naskah. Tapi yang pasti bagi Jungkook. Mereka benar-benar payah dalam berbohong, bahkan hal itu menular pada sahabat Choinya yang ikutan sakau dan jadi kikuk luar biasa. Padahal biasanya paling lincah mengibuli orang.

Berhujung meninggalkannya dengan si Kim bersama kawan-kawan kelas yang masih heboh mengagumi figur atraktif Taehyung.

“Jungkook—pft …,” jelas sekali ia bisa dengar bagaimana Taehyung menahan gelegak hebohnya, “Ayo pulang,” jemari panjang itu perlahan menarik-narik lengan atas gakurannya ragu. Dari ujung mata Jungkook mendelik tidak suka, lantas membuat si Kim buru-buru melepas pangutan, berubah menyuguhkan V-sign di sisi kepala. Lantas berbisik cepat mengenyahkan lagak congkaknya, “Janji tidak macam-macam lagi—janji! Boleh pukul aku kalau kali ini sama!”

Aneh.

Semenjak orang tuanya bercerai, Taehyung tidak pernah lagi tau cara untuk memohon. Selepas ia bangkit dari arena intimidasi jaman sekolah dasar, tak pernah sekali pun Taehyung berusaha supaya seseorang mau menyadari kehadirannya. Dan sejak terlahir ke dunia, sekalipun, ia tidak pernah diajari buat memaksa orang agar mempercayainya sungguh-sungguh.

Karena sekarang, ia sama sekali tidak peduli apa kata orang. Dirinya adalah miliknya, dan hidupnya ya sesukanya.

Tapi ini aneh tatkala Taehyung harus dihadaphan dengan Jungkook. Sosok yang selalu ragu akan pernyataannya, pada segala tingkah laku serta ketulusannya.

“Yah? Jungkook—percaya?” binar mengkilap itu menjernih tulus dari bagaimana si Kim usaha meyakinkan Jungkook dari segala curiga juga keragu-raguan.

Entah watak Taehyung yang kini kembali pada waktu dulu, saat perangainya dikenali tertutup dan dungu oleh kawan-kawan sekolahnya. Atau memang eksistensi Jeon Jungkook membuatnya ingin kembali pada masa-masa lalu, di waktu dirinya masih mengenal cara berharap dan berjuang untuk sesuatu.

Yang Taehyung tau pasti, ia mulai kehilangan egoisme begitu besar tiap kali kakinya berpijak di hadapan Jungkook. Tidak masalah kalau harus merengek, mendesak atau bahkan memohon. Sebab Taehyung hanya mau membuat Jungkook percaya buat membuka hatinya, untuk memberinya kesempatan dan Taehyung janji tidak akan mengecewakannya.

Karena selagi mereka terbang sama-sama, Taehyung bakal membawa mereka pada puncak di mana Zeus bersemayam, atas seluruh surga langit ketujuhnya. Melepaskan obsesi—hanya mau menjanjikan kebahagiaan. Lalu akhir bahagia sudah menunggu mereka di penghujung hari.

Dalam dekapannya merengkuh Jungkook erat-erat, tanpa pernah terlintas dalam pikirannya buat menjatuhkan Jungkook ke dasar bumi.

Apa kalau begini, niatan Taehyung salah?

.

.


“Sial, jadi sungguhan beli bungeoppang,” Hansol mendengus lumayan keras, meniup kue ikan di tanggannya lalu meraupnya rakus.

“Mau bagaimana lagi? Tua bangka itu cerewet sekali menyuruhku profesional-profesional terus. Lebih baik kabur ikut kalian, sungguhan beli bungeoppang juga tidak buruk kok,” duduk di sebelah kanan si Choi, Seungkwan menanggapi sambil membuka bungkus kertasnya.

Mungkin ini perlu ditertawai, karena entahlah, efek terlalu polos atau memang tidak mau menanggung dosa. Jihoon-Hansol dengan dua kawan Taehyung tadi benar-benar ke terminal Namhyun pakai mobil Soonyoung. Usai debat sengit dengan manajer Seungkwan yang memaksa si Boo buat segera ke lokasi syuting, akhirnya mereka di sini.

Keluar dari Bentley tipe Mulsanne kepunyaan si Kwon, meninggalkan supirnya yang diam di bangku pengemudi cuma untuk duduk mengampar di pinggiran luar terminal—persis di sebelah gerobak penjual bungeoppang.

Yah, walau tadi bocah-bocah ini bicara tidak jelas dengan pikiran berantakan. Pada nyatanya, masing-masing melakukan apa yang mereka katakan tadi pada Jungkook—selain Mingyu, tentu saja. Karena Jimin pun melakukan hal sama, yang mereka tebak, pasti sekarang sedang adu mulut dengan sang ketua OSIS.

Sebab selain gembar-gembor soal Kim Taehyung yang mengejar Jeon Jungkook setengah mati, perkara hebat soal permusuhan ketua OSIS YaGook dengan penerus tunggal Young-Park Corporation, menjadi topik menyenangkan lain untuk jadi bahan pembicaraan di tengah siswa-siswi sekolah. Karena Jimin pernah tidak sengaja menumpahkan cup susu melonnya ke lembar-lembar penting yang tanpa minat Yoongi bawa, ketika mereka beradu badan sampai si Min tersungkur saat Jimin kejar-kejaran dengan Hoseok di koridor.

“Peduli setan deh, kenapa pula kalian harus bawa-bawa aku, hah?”

Soonyoung yang satu-satunya menoleh, menatap lekat Jihoon yang menyerapah sebal di sebelah kiri Hansol. Oke, mau dilihat bagaimana juga, Lee Jihoon memang benar-benar manis tidak peduli saat wajahnya keruh sekalipun, “Kau tidak beli?” si Kwon cuma penasaran sebab hanya Jihoon yang tidak memegang bungkus bungeoppang.

“Tidak ada uang,” tanpa dosa ia membalas demikian, langsung mengundang si Choi menyemburkan kue ikan dalam mulutnya, dan membuat Seungkwan kaget karena terbahak-bahak heboh.

Hansol menoleh sambil mengusap remahan kue di bibir, “Masih dihukum ayahmu gara-gara melawan Yoongi-hyung?” tanyanya penasaran, menyodorkan bungeoppang yang sisa setengah ke depan mulut Jihoon, “Gigit—jangan semuanya, kuhajar kau nanti,” dengan wajah sarkastik yang berubah sumeringah, lebar-lebar Jihoon membuka mulut, menyedot kue ikan kawannya pakai satu gigitan besar. Yang sukses membuat Hansol menyalak kesal, menepak kening Jihoon keras-keras agar melepaskan bungeoppangnya, lalu buru-buru menyembunyikan jajanan itu di balik tubuh, “Brengsek.”

Sang tersangka malah tanpa dosa memapangkan cengir mengesalkan lewat mulutnya yang penuh.

“Kalian persis orang kelaparan, tau?” Seungkwan mencibir melihat panorama absurd dua sekawan itu. Dibalas tawa kikuk Hansol dan Jihoon yang merasa masa bodoh.

Soonyoung yang duduk bersila di depan Jihoon cuma memberikan tawa kalem yang begitu bukan Kwon Soonyoung. Semua orang juga tau dia ini hiperaktif kelewatan, maka sudah pasti, apa yang ada di otak Hansol juga Seungkwan nyata kalau si Kwon hanya sedang jaga image di depan Jihoon. Walau sebenarnya si adik ketos itu bahkan tidak peduli sama sekali.

Hening sebentar sebelum Soonyoung beralih pada si penjual bungeoppang, “Paman, tolong lima lagi,” lalu keduanya melakukan barter antara lembaran won dengan bungkus kertas jajanan. Kue ikan ini masih hangat, oke, sungguhan bagus buat mengganjal perut. Dan tanpa si Lee perkirakan, nyatanya bungeoppang yang baru dibeli Soonyoung di sodorkan padanya, “Untukmu.”

Dihadiahi lirikan sinis Jihoon, “Berpikir seperti Kim Taehyung? Menganggap murid-murid YaGook tunawisma yang bisa disuplai dan dikasihani?”

Hansol sudah hampir mencengkram mulut Jihoon. Merutuki nasip mengapa memiliki kawan-kawan yang bisa begini punya otak negatif pada orang baik. Kalau saja Soonyoung tidak lebih dulu menjawab kalem, “Berpikir seperti Jeon Jungkook? Mengganggap kami seangkuh itu buat merendahkan kalian?”

Lalu hening sebentar saat mereka saling bertatap intens akan pikiran masing-masing, sedangkan Hansol dan Seungkwan justru bersilang tatap kebingungan.

“Tidak.” / “Tidak.”

Maka jawaban kompak kedua siswa di sana cukup untuk mencairkan suasana jadi lebih bersahabat. Terlebih dengan Jihoon yang tak perlu berpikir dua kali buat merampas bungkusan kertas di tangan Soonyoung.

“Alasanmu bisa diterima. Dan kawanku tidak sejahat itu buat berpikir kalian merendahkan kami—kalau memang bukan itu yang kalian lakukan. Jungkook cuma terlalu peka, bukan pecinta negatif thinking,” tanpa malu-malu Jihoon mengambil satu dari lima bungeoppang di bungkusan miliknya, kemudian dengan polos menengadah menatap Soonyoung sebelum menggigit kuenya, “Ini banyak sekali, astaga.”

Sudut-sudut bibir si Kwon tertarik ceria, “Makan saja,” lalu menatap Seungkwan dengan cengir bahagia.

Si Boo mencebik tak terpukau. Yah … ia bersyukur, setidaknya Jihoon tidak senaif Jungkook buat didekati.

Lalu fokusnya terganti untuk menatap Hansol juga Jihoon bergantian, “Kuakui Jungkook perasa yang baik. Kalau dibilang merendahkan, jujur saja kami pernah melakukan itu waktu awal-awal datang ke sekolah kalian. Tapi ini sudah lama sekali, sebelum Taehyung terang-terangan bilang kalau dia tertarik sama Jungkook,” kini retinanya beradu dengan manik Soonyoung. Melempar pikiran masing-masing kemudian balik menatap dua kawan si Jeon di sebelahnya, “Taehyung juga tidak sebejat itu untuk mempunyai pikiran kalau anak-anak YaGook sama dengan tunawisma yang patut di beri iba,” obsidiannya menjernih dari caranya mulai melanjuti kata-kata, “Bukan membelanya karena dia kawanku—hanya saja, Taehyung yang kukenal memang begini. Bukan si arogan di hadapan kalian atau anak cupu yang dari dulu Soonyoung-Jimin ingat, Taehyung yang kukenal … punya keperibadian paling baik dari pada tiga puluh siswa tinggi di kelas pertukaran. Walaupun pernah jadi korban penindasan, sedikitpun, dia sama sekali tidak berpikir untuk jadi pembulli saat keadaan sudah berbalik seperti ini. Mudah bergaul dan tidak suka membeda-bedakan orang dari segi materi, tidak seperti anak kaya kebanyakan. Dia bermain dengan anak mana yang datang tulus ke arahnya buat bersenang-senang, bukan memanfaatkan,” jeda sebentar, “Taehyung itu fleksibel, menyenangkan pada orang yang baik padanya. Tapi bisa kelewat kejam pada orang yang dari awal sudah berniat buruk saat mendekatinya. Dia tidak jahat—aku jamin itu dengan hidupku.”

Saat Seungkwan mengakhiri kata-katanya, hening mengudara.

Soonyoung terdiam tanpa kata, paham betul segala kebenaran yang si Boo katakan atas salah satu kawan mereka. Jihoon termangu, sedikit berpikir soal bagaimana ia harus merespon kenyataan tersebut, kenyataan bahwa Kim Taehyung jauh dari kata brengsek yang selama ini ia kira ketika mendekati sahabatnya; menjadikan Jungkook mainan dan bahan taruhan, mendengar kata-kata tulus Seungkwan, Jihoon mulai memikirkan persepsi ini dua kali. Dan Hansol yang menjadi benar-benar dungu, bukan karena persoalan tentang Taehyung yang mereka bahas (karena ia sudah menyaksikan langsung bagaimana keseriusan si Kim pada kawannya), namun tergugu tanpa kata sebab menyeimbangi hatinya yang bergemuruh, entah mengapa berdebar keras sekali mendapati bagaimana cara Seungkwan bertutur penuh kehangatan.

Angan-angan mereka melebur, tepat saat gelak tawa Soonyoung mengudara iseng. Separuh mencemooh ia melempar remasan bungkus bungeoppangnya yang sudah habis ke muka si Boo, “Ow! Ow! Uri Seungkwanie mulai lagi deh. Move on, Sobat—move on, sana!” dengan tepat Soonyoung menangkis kertas yang dilempar balik padanya, “Aku tau kau cinta sekali pada Taehyung—tapi tolong, sadar lah cepat! Perlu kuingatkan kalau kau ada di garis besar area friendzone-nya?” wajah atraktifnya dihiasi ekspresi cela berlebihan, “Duh sedih sekali,” jeda saat ia hampir terbahak mendapati air muka siswa Boo itu memerah padam, sumpah, senang betul meledeki kawannya, “Dan sekarang—hm … eottokhae? Uri Taehyungie sangat-sangat suka Jungkook loh,” demi Tuhan kalau saja Seungkwan lupa kalau yang bicara begitu adalah Kwon Soonyoung, sudah ia pereteli habis rambut di kepala si brengsek ini. Lebih-lebih ketika sambil berlagak inosen bocah itu mengusung raut jelek, lalu berkata sok lirih, “—kuharap kau tabah menjalani hidup.”

“Bajingan.”

.

.


Lagi, Jungkook kalah lagi. Kenapa selalu begini tiap kali ia dihadapkan dengan bangsat Kim satu itu?

Jika menjadi manusiawi itu salah, maka Jungkook bakal merutuki habis-habisan perasaan tersebut yang tanpa disuruh melekat jadi salah satu toleransi makhluk berakal .

Merasa simpati (yang setengah mati Jungkook anggap kalau ini murni rasa kasihan) saat binar sok berkuasa Taehyung sungguhan redup, menatapnya sungguh-sungguh lewat retina pongah yang berselaput kehangatan. Tak henti bertingkah kekanakan dari cara angkuhnya yang lenyap, hanya untuk merendahkan diri, mengganti aura itu menjadi kilapan cemerlang penuh harap.

Yah, pada dasarnya Jungkook tau betul ia tidak kasihan sama sekali—dari sudut manapun, tidak ada yang bisa dikasihani dari orang seperti Kim Taehyung. Persetan kalau dia pernah jadi korban bulli. Ini cuma masa lalu, kisah lama yang tak lagi berpengaruh kalau-kalau ada orang jahat yang ingin menyebarkannya sekalipun.

Tapi bukan perkara itu yang Jungkook masalahkan, sudah masa bodoh dengan bagaimana masa lalu Taehyung berlalu. Yang Jungkook tau, entah bagaimana cara mengakuinya, ia cuma merasa peduli. Buat segala tinggah otoriter Kim Taehyung yang berubah lembek ketika di depannya. Dan tanpa sadar mulai merasakan kuatir dari tiap-tiap menit ketidak peduliannya pada kisah lama si Kim, takut kalau nyatanya, masih ada sisa tertinggal yang mengganjal di hati sosok itu.

Sebab persaan ini ia menerima tawaran Taehyung—bukan karena peduli, tapi kasihan. Yah, anggap begitu. Terbengong, tak habis-habisnya mengagumi bagaian dalam mobil mewah yang ia tumpangi. Tidak cukup bodoh buat sadar, kalau kendaraan yang terakhir kali ia naiki berbeda dengan yang sekarang.

Kemarin ia ingat betul ada logo familiar di luar kendaraan bercat perunggu itu—BMW Strom, yang Jungkook bahkan tidak tau kalau mobil itu cuma ada sepuluh unit di dunia. Dan sekarang … apa ini yang ia naiki? Sejenis kendaraan presiden? Atau anggota kerajaan kah?

Di luar mobil ini warnanya putih, ukurannya lumayan panjang dari mobil kebanyakan. Bukan jenis LB atau Bugatti yang bakal bikin orang menganga sekedar meliriknya, sepenelitian Jungkook tidak pernah ada anak dari kelas sebelah yang pernah di jemput pakai kendaraan dengan bentuk ‘Wah’, ketentuan DMN Academy mungkin. Dan Taehyung pun begitu, kalau bukan kolektor gila kelas, mungkin mobil ini kelihatan biasa saja dari luar. Tapi nyatanya …

“Maybach Landaulet,” Taehyung berkata setengah terkekeh, lucu mendapati Jungkook yang tak hentinya menganga tanpa kedip, “Bernapas, Jungkook—napas. Ingat kau manusia.”

Reflek Jungkook menoleh, mendapati wajah tampan itu tersenyum geli padanya. Seketika merasa jadi orang paling tolol sedunia—ya Tuhan, bisa-bisanya ia bertingkah begini udik di depan anak orang kaya.

Buru-buru si Jeon menghadap depan, mengedar retinanya linglung sekedar mencari bahan pengalihan. Lantas menatap muka Taehyung lagi, berlagak kalem, “Maybat lendolet, apanya?”

Tiga garis simetris seketika tercetak jelas-jelas di dahi si Kim, bingung bukan main. Lalu saat nalarnya menyatu, ia langsung membuang muka ke arah berlainan wajah Jungkook, buat mati-matian menahan gelegak tawa yang sudah sampai menohok kerongkongan. Tapi usahanya tidak berlangsung lama karena ekspresi Jungkook terlalu polos ketika ia mendelik, maka semburan tawa siswa itu jadi tak tertutupi sama sekali.

Di depan mata Jungkook yang tak berkedip mendapati panorama mengesalkan, namun membingungkan sebab pacu jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Sekedar mendapati Kim Taehyung begini ceria di sbelahnya, tepat di depan matanya.

“Maybach Landaulet, Jungkook—may. Bach. Lan. Dau. Let,” sial, aksen Inggris Taehyung benar-benar bagus, bahkan ketika tuturannya berbaur gelak. Jungkook tidak menjawab untuk itu. Membiarkan histeria si Kim mengambil alih bising ruangan, sebelum gema memekakkan itu berhenti pelan-pelan. Taehyung berdeham dua kali, sama sekali tidak merasa bersalah—seperti biasa, “Ingat kau. Makanya aku minta paman Ahn bawa mobil ini,” suaranya melunak. Nadanya serius, “Maaf buat yang kemarin,” Taehyung menunduk saat berkata, menumpu siku di paha, “Aku kelepasan,” lalu kembali mensibobrokan tatapan mereka, “Tau itu tidak sopan. Rasanya badanku bergerak sendiri—tidak paham, hanya saja … yah,” kata-katanya mulai terdengar abstrak dan kikuk, bingung menjelaskan apa yang dirasa, “Mungkin efek karena terlalu senang kau akhirnya mau menerima ajakanku—” menggantung, Taehyung menunduk lagi dengan senyum cemooh buat dirinya sendiri, “—walau harus dipaksa dulu,” ia bersungguh-sungguh. Betulan menyesal dari intonasinya yang padat, pelan, tapi terlalu tangguh buat terdengar lirih.

Yah, pada akhirnya Taehyung menunjukan bagaimana ia bisa terlihat begini cupu di depan Jungkook. Tak pernah sedikitpun otaknya bekerja untuk mengimajinasikan dirinya yang meminta maaf begini lunak. Konyol. Egoismenya kalah, hancur lebur atas rasa bersalah tidak masuk akal. Semenjak Taehyung menjadi Kim Taehyung yang tangguh, tidak pernah lagi ia merasa begini frustasi setelah menjamah leher orang tanpa ijin.

Jungkook menggigiti bagian dalam bibir bawahnya, linglung sendiri sebab mendapati siswa Kim itu jadi seperti ini.

Apa yang salah? Apa lagi yang sudah ia perbuat? Apa begitu jelas keresahannya di mata Taehyung sebab kemarin?

Mengepalkan tangan di pangkuan, Jungkook membuang muka lurus ke depan, “Lupakan,” ungkapnya pendek. Taehyung sungguhan bungkam sebab itu, ekspresinya masih sama, “Bagus kalau sadar, itu sudah cukup buatku … toh aku juga sama,” suaranya ragu-ragu efek debar jantung yang berdetak tak sinkron satu irama. Sejenak, Jungkook menarik napas panjang. Menoleh pada Taehyung bersama sepasang obsidian yang berpendar tenang, “Terimakasih dwikkojinya,” senyum manisnya mengembang tipis, sukses memperparah debaran si Kim makin tak karuan dibuatnya, “Dan sudah besar hati mau menukar itu hanya dengan ciuman,” oke, kata-kata yang terlontar tenang dari sudut bibir tersenyum itu sebenarnya kalimat sarkas. Obsidian Jungkook membara sinis ketika melanjuti sambil kembali membuang muka ke depan, “—bangsat, kalau diingat kok aku jadi kesal, ya?” lalu mendengus keras-keras, “Ciuman pertamaku—sialan! Dibeli pakai barang—holy … murah sekali kau Jeon Jungkook.”

Radar Taehyung menyala terang sebab racauan tidak jelas orang di sebelahnya, langsung duduk tegap dengan ekspresinya yang penasaran, “Ciuman pertamamu? Yang tadi pagi itu?” suaranya naik beberapa oktaf, terkejut. Obsidiannya membola tak menyangka.

Keterperangahan benar-benar gamblang terkuar dari feromon tubuhnya, tapi rasa bangga dan bahagia yang luar biasa besar lebih mendominasi jati dirinya sekarang.

Tuhan, berarti … dia ciuman pertama Jungkook?

Buat seribu tahun ke belakang, Taehyung bersumpah, tidak ada kabar yang lebih indah ketimbang ini di kehidupan reinkarnasinya.

Si Jeon mendelik asal-asalan ke berbagai arah, debar jantungnya makin keras dan kini merasa benar-benar idiot. Dadanya sakit karena gemuruh itu terasa terlalu kencang, melahapnya habis daram kegugupan brengsek.

“Mo-mobilmu …,” haram jadah, kenapa pula suaranya mesti terbata-bata begini. Berusaha keras sekali Jungkook buat tidak mengusak rambutnya sampai acak-acakan (kebiasaannya kalau sedang frustasi), berdalih pura-pura batuk, lalu menatap Taehyung pakai wajah biasa. Seakan-akan denyut nadinya tidak sedang menghianati raganya buat berkompromi konsisten dengan debar jantungnya yang jahanam. Membuat aliran darahnya meletup-letup saat sadar Kim Taehyung itu luar biasa tampan. Lebih lagi, tanpa almamater dan rompi DMN Akademi. Hanya kemeja putih polos dengan dasi kendur yang menggantung di bawah kancing atas yang terbuka, “—ini mobilmu?”

Taehyung menggeleng, “Koleksi ayahku.”—ayah tiriku.

Jungkook mengangguk setengah hati mendengarnya, “Ayahmu kolektor mobil seperti ini?” si Kim mendengung pendek jadi jawaban, enteng sekali menanggapi pertanyaan berat Jungkoook, “Orang kaya—tidak heran.”

Taehyung tertawa tipis karenanya, “Mulai lagi?”

“Cuma bilang fakta, jangan salah paham. Aku hanya benci anak-anak manja yang terlahir kaya—bukan pengusaha sukses yang menjadi kaya.”

Oke, Taehyung sama sekali masa bodoh pada ujaran sarkastik si Jeon. Karena ia tidak merasa demikian (menurutnya dia tidak manja, Bung, sumpah). Malah lebih tertarik pada hal lain, “Oh? Tau dari mana?” tanggapnya satiris—mengolok-olok, “Ayahku …,”—yang satu itu—”Diplomat loh, bukan pengusaha. Sudah ditakdirkan kaya bahkan sebelum lahir, lebih-lebih dia anak sulung.”

Yang diajak bicara mendengus keras, matanya memicing sadis, “Kalau begitu akan kucoba buat benci ayahmu,” berkata datar tanpa beban.

“Sayangnya dia bukan anak manja. Terlalu hangat buat bersikap kekanakan dan arogan.”

“Bisa dilihat nanti.”

“Mau melihatnya di mana? Dia orang sibuk. Kecuali kau mau datang ke rumahku buat kukenalkan padanya jadi calon menantu—kalau itu sudah beda urusan. Tertarik? ”

“Maaf, masih cukup waras buat bertindak tolol.”

“Tetap kejam seperti Jeon Jungkook. Lebih manis tidak bisa? Sedikit saja?”

“Harga diriku bukan barang pasar yang bisa ditawar. Maaf sekali lagi.”

“Tidak masalah. Dengan begini kau lebih menantang buat didapati.”

“Sayangnya aku tidak bermaksud menarik perhatianmu.”

“Bagus, berarti perlu dikonfirmasi kalau aku yang murni tertarik padamu. Dan itu ego omong-omong, bukan harga diri.”

“Begitu? Yah, terserah. Nilaiku C di Bahasa Korea soalnya.”

Taehyung bungkam, reflek mengerjap cepat, tidak lagi punya kata-kata untuk membalas pernyataan si Jeon. Buat seumur hidup akhirnya ia kalah dalam debat argumen. Tapi sungguhan, yang terakhir itu sanggup membuatnya menyemburkan gelak keras sekali sampai bertepuk tangan heboh, mengeluarkan air mata dan keram perut.

Jungkook mengernyit tidak mengerti, apa lagi tatkala bisa ia dengar paman Ahn yang sibuk menyetir di depan sana juga turut menggelegarkan tawa. Tanpa sepertujuan, sebenarnya driver (sekaligus penjaga pribadi) Taehyung itu terus mendengarkan obrolan tidak penting mereka di ruang belakang mobil, sesekali tersenyum kecil saat mendapati cara bicara tuan mudanya luar biasa salah dari bagaimana perangai Taehyung yang ia kenal tiap hari.

Si Jeon mengedip tiga kali, cepat dan ringkas. Kebingungan karena … memang apa yang lucu?

“Ya Tuhan, Jungkook, kau itu kenapa sih?” susah payah buat Taehyung menggendalikan diri. Menatap Jungkook takjub dari iris matanya yang menyipit kagum, ia bahkan lupa kapan terakhir kali bisa tertawa selepas ini. Lalu menggeleng snobis, “Tidak bisa ditebak. Luar biasa,” kemudian tertawa lagi hingga suaranya serak, Taehyung menoleh sekedar membuat raut datar Jungkook berubah menjadi tegang berbaur candu manis, sebab ribuan kupu-kupu keparat itu kembali mengepakkan sayap di dasar perutnya, “Membuatku jadi benar-benar menyukaimu—Tuhan! Kurasa kali ini … sudah tidak bisa berpaling sama sekali. Maaf. Aku … sungguhan kacau.”

.

.

.

.

.

.

.

.

©Boom! Bah!—LOVE!
IV : Wanna trust me, Jungkook?

tbc.


Jo Liyeol’s Curhat Timing


Duh, akhirnya dedek bisa juga buat si kudanil jadi OCC, dari seonggok Boo Seungkwan absurd yang gila ngejar cowok ganteng (ini yang selalu Li bayangin soal dia) =w= muehehehe …

Dan sebenernya di sini dedek ga mau nongolin ship lain, cuma pure ke BwiGguk sama something(?) OTP yang bakal jadi konflik di sini. Tapi apalah daya? Jiwa ini gak sanggup menelantarkan mereka jadi single buluk =3= muehehehe … kalo buat akang Jeyhop sih beda urusan lagi yaw. Diamah emang udah dilahirin jonesh dari takdir langit :v

Beteweh, maaciw buat feedback kalian~ duh dedek terharu huhuhu … maaf ga bisa bales satu-satu TT kusuka ketawa-tawa sendiri pas baca reviewan kalian yang kadang suka ngajak ribut. Tapi bener deh, review pembaca itu beneran penyemangat penulis (abal-abal—gak) kaya Li loh.

 

.

.

PS(1): Semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): Poppo dulu sini buat semua yang udah bacaaaa~ =3=

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s