Boom! Bah!—LOVE! | Bab 3

Jo Liyeol’s present ©2017

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!
BTS (+SEVENTEEN) FF! DLDR! RnR!


“Tapi cium aku dulu,”

Yah, sebenarnya Taehyung hanya mau bermain-main. Mengerjai Jungkook sekedar menuntaskan hasrat buat melihat si Jeon yang bersungut-sungut kesal memulai hari. Tapi angan-angannya salah karena berfantasi begitu dengan Jeon Jungkook yang sudah kehilangan akal sehat. Sebab dengan tanpa dosa siswa Jeon itu benar-benar melepas harga dirinya sejauh mungkin, menarik kerah seragam Taehyung yang menyembul dari jeogori yang dipakainya, menarik tangan si Kim yang menutupi bibirnya lewat jemari lalu menubrukan bibir mereka tanpa peduli bahwa bagitu banyak siswa yang menyaksikan, terakhir saat Taehyung sudah kehilangan nyawa atas raganya yang sudah melompong, Jungkook memeluk siswa itu sekedar meraih dwikkoji di balik tubuh si Kim.

Dan siswa pertukaran pelajar itu belum bisa menetralisir keadaan saat senyum manis merekah indah di wajah tampan Jungkook, begitu cerah dan berseri-seri bersamaan kilapan senang di sekembar obsidiannya menggenggam jepit rambut itu erat-erat di kedua tangan, “Dapat,” satu kata yang bisa Taehyung cerna dari suara ceria Jungkook yang mengudara.

.

.

.

| | Vkook – TaeKook | |

.

.

.

.

©Chapter 3 : Jungkook, it’s really love!
Previous : | prolog | bab 1 | bab 2 |

.

.

Semenjak mengenal Jeon Jungkook, Park Jimin paham betul bahwa Taehyung sudah kehilangan seluruh kewarasannya. Siswa itu menjadi stalker tidak tau malu, sang penguntit biadab yang senantiasa gila, sebab suka tertawa-tawa sendiri usai merenung.

Maka bukan lagi hal menakjubkan ketika mendapati kawannya sudah ada di kelas pagi-pagi sekali, memangku dagu di meja sambil menatap bagian luar jendela dengan mata berbinar, belum lagi bagaimana ekspresi dari senyum merekahnya yang sumeringah—persis orang tolol.

Yah, mungkin otak jenius Taehyung sudah bergeser lebih banyak.

Kabar baiknya, sejak mengenal Jeon Jungkook; Taehyung menjadi pribadi yang sangat rajin.

Siswa itu cerdas memang, benar-benar kelewat pintar dan suka sekali membantu para guru buat persiapan olimpiade. Hanya saja ketertarikannya menjejakan kaki di sekolah tidak lebih dari tempat main-main dan tebar pesona. Menaklukan siswi-siswi populer hanya untuk memenangkan taruhan bejat dari Park Jimin.

Dulu.

Taehyung sendiri merasa dirinya menjelma jadi sosok lain. Menjadi beda setelah dikirim sebagai salah satu siswa dari kelas pertukaran, menjejakan kaki di YaGook dan bertemu seorang Jeon Jungkook seperti sebuah takdir.

Kehidupannya terasa lebih menantang dalam sekejap mata. Memiliki ketertarikan pada si Jeon dari pertama kali bertemu, membuatnya menyukai keseluruhan siswa itu tanpa ampun. Dan dalam program mendapatkan Jeon Jungkook-nya. Nyaris dua bulan terakhir Taehyung menobatkan sekolah sebagai salah satu surga dunia, serta menjadikan deretan diktat teori sebagai saksi nyata kecerdasan Kim Taehyung bermuara.

“Duh, korslet lagi deh otaknya,” Jimin memutar bola mata acuh saat mendapati kawannya cengengesan tidak jelas. Sedikit prihatin ia melangkah ke tempatnya duduk. Kursi yang ada di depan meja Taehyung dekat tembok.

Sedikit brangasan si Park menarik bangku besi sesampai di sana, dengan gaya persis bencong ala-ala ia sengaja membuat kegaduan brengsek buat menyadarkan kawannya, namun nihil, karena Taehyung masih setia berangan-angan ria, “Sialan!” ia mengumpat jengah, menoleh sekedar melirik tajam kawannya, lantas mengambil posisi menduduki tempat selepas mendengus keras-keras.

Kembali sengaja membuat suara ribut dengan melempar lumayan kasar ranselnya ke meja, diiringi gerak rusuh yang menyebalkan. Tapi Taehyung tetap jadi monumen indah tanpa gerak, sementara kawan-kawan kelas mereka yang lain mulai terusik dan memicing kesal pada Jimin.

Tanpa meminta maaf, si Park cuma mengedar pandang dengan cengiran sok polos. Kemudian fokus lagi pada kawanya yang terlihat lebih sinting karena tersenyum-senyum makin jadi. Jimin mendengus sekali, nyaris meggeplak kepala Taehyung kalau saja suara bising dipadu gedebuk riuh tidak lebih dulu mengintrupsi dari arah pintu belakang.

Mingyu, Soonyoung, dan Hoseok dituding sebagai tersangka utama pelaku keributan. Karena mereka figur-figur yang muncul pertama disusul Boo Sungkwan yang jalan santai beberapa meter di belakang, sambil mengaplikasikan ion face di wajah si Boo fokus memperhatikan pantulan wajahnya di kaca dalam genggaman. Tidak peduli kerusuhan tiga kawannya.

First!” Mingyu berseru kencang di sela napas yang tak karuan, tangannya menunjuk langit-langit di sisi kepala.

Hoseok mendelik kesal, ritme dadanya terlihat teratur meski helaan napas dari hidungnya berembus berantakan, “Bangsat!”

Soonyoung yang terlihat paling menedihkan cuma membungkuk, mencengkram dengkul kuat-kuat, tak sanggup bersuara dengan pompa paru-paru yang begini serampangan.

Ketiganya berjalan ke tempat masing-masing di sekitaran kursi Taehyung juga Jimin, mengekor di belakang Seungkwan usai memberi sepuluh ribu won ke tangan Mingyu yang menengadah semangat.

.

.

.

.

.

[]

.

.

Boom! Bah!—LOVE!
Is that true?

( Mungkin Jungkook sudah gila kalau ia benar mempercayai semua ini. )

.


“Dia kenapa?” si Boo bertutur pertama sambil menduduki diri di kursi sebelah tempat Hoseok, sedikit heran mendapati Taehyung tak bergerak sama sekali.

Jimin mendelik apatis, berlagak sok keren ketika menyisir rambut silvernya ke belakang, “Tidak tau, kesambet mungkin.”

Soonyoung membelalak sok kaget, “Lagi?” lalu berjalan ke tempat duduknya di sebelah Jimin habis menggedik bahu.

Mingyu berdeham beberapa kali sebelum memasang tampang mesum, melirik satu persatu kawannya, lantas berkata dengan aegyo mengerikan, “Kesambet cinta Jungkookie?” disambut tepakan kasar ransel berat Hoseok yang mendarat di kepalanya.

Saat Mingyu mengaduh, si Jung justru tanpa peduli melepaskan seluruh tali ranselnya buat ia lempar ke meja. Tempatnya persis di sebelah Taehyung. Hoseok berjalan ke belakang buat menyandarkan tubuh ke deretan loker kelas, membiarkan Mingyu menduduki kursinya.

Hening sebentar ketika Hoseok menyembulkan kepala mengintip air muka Taehyung, wajah tampannya bersungut sesaat, kedua alisnya nyaris berpaut, memasung mimik parabolis saat kembali memandang kawan-kawannya yang lain, “—oh! Lihat-lihat! Siapa yang sedang kasmaran sampai segini gila?”

Lantas mengundang aegyo mengerikan Mingyu kembali ke peradaban, menanggapi dengan sok imut, “Kim Taehyung loh! Kim Taehyung!” tiga lainnya merespon dengan pura-pura syok kelewatan.

“Wooow!”

Sebab kelakuan itu, mereka berhasil mengalihkan fokus si Kim. Taehyung mendelik sinis, mengalihkan segenap khayalan indah yang nyaris sampai puncaknya.

Beralih mendengar hardikan Hoseok, “Wah-wah! Hebat juga si Jungkook-Jungkook itu, ya? Pakai ilmu apa dia?” dengan menjijikan si Jung menangkup wajah, berlagak terkejut dan berpikir.

Luar biasa sukses membuat isi lambung Taehyung menohok saling adu buat keluar. Ingin menampong Hoseok kalau saja tanggapan Jimin di depannya tidak lebih menyebalkan.

“Mantra terlarang dari nenek moyang!” siswa Park itu menyahut keras, membuat keempat siswa lain di sana berseru membenarkan. Lantas ia memajukan wajah kala hendak melanjuti, membuat kawan-kawannya mendekat dalam hening, kecuali Taehyung yang tau betul apa yang bakal bocah cebol itu katakan. Seakan-akan ngeri, Jimin mencicit, “Pelet. Pantat. Bunglon!”

damn.

For fuck’s flat jokes sake!

Taehyung berani sumpah kalau itu tidak lucu sama sekali, tapi ini yang menyebalkan dari kawan-kawannya. Segaring apapun lawakan yang ada, itu bakal jadi luar biasa menggelikan ketika dirujuk untuk menyindir atau jadi bahan hinaan.

Maka bukan lagi hal mencengangkan saat mendapati kelima kawan baiknya yang brengsek ini terbahak-bahak bersama, membuat seisi kelas bergema, tidak peduli tatapan lelah kawan kelas mereka yang mulai tidak peduli dan sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Toh, mereka juga sama berisiknya.

Oke, sungguh! Kadang kala ini alasan mengapa ia benci memiliki kelas baru beserta seisi kawan yang tidak mempermasalahkan keadaan sekitar. Walau seluruh murid dalam kelas pertukaran akan menjadi makhluk bisu saat KBM berlangsung, namun ketika tak ada kegiatan belajar-mengajar, bising yang menyeluti kelas begini ribut bukan lagi hal yang bisa dikendalikan. Taehyung tidak mengelak kalau kelasnya di DMN memiliki kelakuan tak jauh beda dari ini, tapi ayolah, ia tau mengapa sekarang dirinya sering kali merutuki usul gila Seungkwan buat mengajak Hoseok, Jimin, Mingyu, juga Soonyoung buat ikut mendaftarkan diri jadi siswa pertukaran.

Karena kenyataan mengiringnya ke mari, menjadikan mereka berenam berada dalam satu kelas.

Lima anak itu kawan baiknya—sahabat dekatnya, di sekolah ataupun tempat pergaulan. Tapi tak pernah sekalipun ia membayangkan mereka bakal ada di satu kelas yang sama—karena sekelas dengan Boo Seungkwan saja sudah membuatnya kesal bukan main.

Taehyung paham ini menyenangkan ada di tengah kawan baiknya, tapi tetap saja, bukan perkara membahagiakan berada di satu kelas dengan bedebeh-bedebah brengsek idola sekolah, yang sanggup membuat kehidupan remajanya makin dikerubungi siswi-siswi centil tukang jejeritan.

Bukan masalah dikerubunginya yang Taehyung rutuki, tapi cobaan dari para bajingan berkedok sahabat ini yang jadi masalah. Bagaimana mungkin kumpulan brengsek ini terus menjualnya buat menunjang kehidupan indah masa sekolah mereka? Keenamnya.

Taehyung itu tampan, semua orang tau. Penggemarnya banyak diketahui dari akun instagram pribadinya yang difollow lebih dari enam juta followers. Dan ini dimanfaatkan kelima kawannya untuk membuat fanpage berbayar yang berisi all about Kim Taehyung. Berisi foto-foto, video singkat, bahkan beragam fakta keseharian si Kim yang disuguhkan tergantung pembayaran tiap minggunya. Taehyung bukan selebriti, tapi ini yang malah membuat ribuan siswi di luar sana tertarik buat mengagumi juga menekuin Kim Taehyung sebagai idola remaja.

Yang Taehyung tidak mengerti … kenapa harus dia?

Kenapa mesti dirinya yang dijadikan tumbal mereka buat dijadikan ulzzang pasca SMU? Mengapa mesti dirinya yang disuguhkan agar ribuan won terus mengalir ke rekening bersama yang dibuat Seungkwan?

Tidak buruk memang mendapat tumpukan dana dari pembayaran tiap minggu, pun komisi dari brand-brand pakaian yang melekat di badannya saat bergaya dalam jepretan kamera. Atas ratusan foto juga video yang tertera di fanpage soal dirinya.

Tapi … memang harus dirinya? Mengapa harus dia di saat ia bergaul dengan para pelaku yang bahkan berada di level yang sama dengannya?

Taehyung masih tidak mengerti sampai sekarang, namun satu yang pasti. Manusia-manusia itu manjadikan jiwa supel dan ramahnya sebagai tameng utama, berkata bahwa dengan bekal demikian hanya si Kim lah yang paling pantas dijadikan ambassadour utama DMN Academy. Visualisasi magnet sekolah yang memukau.

Tidak peduli meski Jung Hoseok atlit taekwondo nasional. Kim Mingyu model di majalah JL. Kwon Soonyoung putra dua petinggi negara ternama. Park Jimin anak tunggal dari Presdir Young-Park Corporation. Dan Boo Seungkwan yang terkenal menjadi salah satu pemeran penting di serial drama-remaja populer, saluran TV KBR.

Yah, nyatanya apapun itu. Kim Taehyung adalah stan attractor di antara keenamnya.

“Tutup mulutmu brengsek, kuhajar kalian nanti!” itu geraman Taehyung, menjadikan Jimin yang paling dekat dari jangkauannya sebagai pelampiasan emosi, keras-keras ia menepak kelapa siswa itu.

Nyaris terjeledak ke belakang, Mingyu yang menanggapi sambil menghindari tangan Taehyung yang nyaris mengenai wajahnya, “Nah, galak lagi ‘kan?”

Hening sebentar diisi raungan nyeri Jimin yang berhisteria mengusak kepala, sedangkan keempat kawan lainnya tertawa keras sekali sebelum Hoseok tertular penyakit Mingyu, “Oh! Uri Taehyungie sudah sadar—dia sudah sadar!” berseru dengan suaranya yang meninggi cempreng.

Disambut tanggapan dramatis Mingyu juga Soonyoung, kompak memasukan kepalan tangan ke mulut, “Uwah-uwah!”

Perkumpulan bangsat. Sahabat sialan. Taehyung tau mereka sudah kelewat sering melakukan hal semacam ini buat satu sama lain, tapi sungguh, kali ini rasanya benar-benar mengesalkan saat dirinya yang kena ledek. Taehyung selalu mempunyai cara dalam mengontrol afeksinya, menjadi remaja yang bahkan mendekati kata mustahil untuk marah-marah. Namun ia sama sekali tidak paham mengapa kepalanya serasa mendidih, sekedar mendapati mereka mengolok-olok kelakuannya ketika begini jatuh hati pada Jungkook, “Ya!” keras-keras Taehyung berteriak jengah, matanya menyipit, kedua tangannya mengepal erat.

Lalu hening merajai atas itu.

Kelima sahabatnya diam memperhatikan seksama gestur tanpa canda si Kim. Memperhatikan betapa transparan Kim Taehyung di puncak sentimennya. Tempramen itu membumbung nyata dan terhempas, menyalurkan adrenalin tersendiri bagi siswa di sekitarnya.

Siswa satu sekolah tau bahwa Taehyung tidak pernah marah, sebajingan apa pun kelakuan orang lain memperlakukannya. Maka mendengar teriakan begini dongkol menyalak dari kerongkongan si Kim, reflek menjadi daya tarik murid satu kelas menoleh, memfokuskan perhatian padanya.

Dan kelima sahabatnya masih diam tanpa kata, sementara aura keki terus meledak-ledak dari sekembar retina Taehyung menatap mereka.

Mungkin kalau kelimanya sahabat normal, mereka bakal menunduk dan bergumam maaf setulus-tulusnya. Mengakui kesalahan dan mencoba meredakan amarah Taehyung. Lantas memberi semangat buat si Kim supaya mendorong jiwa optimisnya yang sedang membara-bara menginginkan Jeon Jungkook—yah, kalau mereka sahabat normal.

Sayangnya tidak demikian.

Jadi Kim Taehyung hanya harus menahan napas dalam-dalam demi mengontrol emosional di puncak kepala, saat kawan-kawannya justru kembali terbahak keras sekali. Heboh dan luar biasa senang bukan main. Bagi mereka; Kim Taehyung itu jarang—bahkan menjadi sosok yang terkadang tidak bisa marah, maka mendapati aura kanibalisme membumbung dari pori sosok itu begini nyata. Menjadi tontonan menarik tersendiri yang mesti diingat sebaik mungkin.

“Ampun-ampun,” Soonyoung yang bersuara pertama, berkata separuh tergelak saat Taehyung kembali apatis membuang muke ke arah jendela, “Jangan ngambek dong! Memang kau anak perempuan?”

Empat kawannya mengangguk setuju sambil mengulum tawa, ditimpal langsung dari Seungkwan yang akhirnya bersuara, “Iya betul, ganti gender dulu sana,” berhenti sejenak mengaplikasikan ion face di wajah saat melanjuti, “Siapa tau jadi imut?”

Taehyung mendelik jengkel usai mendengar ‘pft‘ keras dari kawan-kawannya, “Bangsat!” dengusnya sembari menggemelatukan graham. Lagi-lagi hal sepele seperti ini mengundang gelegak riuh kelima sahabatnya bergema. Maka Taehyung kembali acuh dengan menoleh kembali pada jendela, “Terserah deh.”

Iris Soonyoung menyipit, menatap satu persatu kawannya yang saling melempar pandang. Berdeham sekali, menahan tawanya yang susah payah terhenti, “Eeey … oke—maaf? Jangan ngambek, yeah? Kau laki-laki tulen, Man,” lalu menarik senyum usil sambil menendang satu tangkai meja Taehyung yang dekat kakinya, “Kenapa? Lagi bahagia, hah?”

Hening yang menyahut ketika Taehyung sama sekali tidak minat menjawab.

Namun seiring detik berjalan, otaknya melompong seketika, mendapati kawan-kawan resenya terus menunggu dalam hening. Tidak ada yang berceloteh iseng demi mendapati responnya. Yah, Mungkin Taehyung yang terlalu sulit menahan diri agar terus emosi, sampai akhirnya buat kesekian kali ia yang lagi-lagi kalah. Mendelik sekedar menatap Soonyoung lewat ujung mata yang berbinar terang, “Kelihatannya?” berkata sok acuh meski gestur auranya berkata terbalik.

Soonyoung berpikir sejenak, menahan tawa pingkalnya mendapati Taehyung yang terlalu mudah dibaca. Ia mengangguk dua kali seolah berpikir, “Yeah …”

Tanggapannya tersela antusias Seungkwan yang sontak bengkit dari tempat, berjalan ke sisi meja Taehyung dan bersandar di sana dengan ion face dan kaca yang tak lepas dari genggaman, “Ada apa? Punya berita bagus?”

“Jangan berharap banyak. Paling juga soal Jungkook lagi,” itu tanggapan tak tertarik dari Jimin.

Dan Taehyung sama sekali tidak peduli bagaimana cara si Park berkomunikasi begitu cuek. Hanya kerena mendengar nama Jungkook tersuara matanya jadi berbinar-binar, “Nah!” ia berseru riang, “Tepat!” ungkapnya sebelum tawa bahagia terkumandang di wajah sumringahnya, “Hehehe …”

Serempak mendatangkan sorak tak terpukau kelima siswa di sana, “Huuu!”

Taehyung mengulum senyum malu-malu karena itu. Sedangkan yang lain mendelik jijik pada si Kim, lalu Boo Seungkwan menjadi orang pertama yang kembali waras ketika mendapati wajah kawannya yang tak lepas dari raut bahagia, “Aku mencium aroma kemajuan di sini …,” ia berbisik, berlagak jadi intelijen kelas kakap, “Roman-romannya, kau dapat jackpot dari feedback yang dikasih Jungkook—benar?”

Feedback?” Jimin menyahut cepat, “Mustahil,” lanjutnya sarkas, lantas menatap Seungkwan lewat ujung mata, “Kalau kau anggap dikacangi, ditolak puluhan kali, dan diberi tatapan tajam itu termasuk feedback sih aku tidak bakal protes,” suaranya penuh akan cemooh, benar-benar masa bodoh dengan picingan kesal Taehyung yang sontak terarah padanya.

Kalau saja Hoseok tidak menimpal seatensi, mungkin si Park sudah habis Taehyung jadikan empan kadal, “Betul,” maka siswa Kim itu menoleh ke sumber suara, “Maka jackpotnya adalah Jungkook yang jadi makin risih dan pura-pura tidak kenal. Atau …,” sengaja si Jung menggantung kalimat ketika ia melangkah sekedar menjulurkan tangan membelai surai merah terang itu, “Taehyung yang jadi sinting karena mendengar kabar Jungkookie-nya cari pacar, sebab tidak kuat diintili sekian lama oleh stalker mesum tidak waras.”

Ajuannya mengundang seru setuju dari Jimin yang tiba-tiba berdiri, “Yeah, Man! Itu jackpot besar!” berseru demikian sembari mengangkat sebelah tangannya pada si Jung.

Hoseok menyambut gembira jemari bantet kawannya, memberi high five keras dengan semangat.

Peduli setan dengan Kim Taehyung yang mendelik kesal, menatap bergantiang kedua orang itu dengan sengit, “Brengsek.”

Umpatannya ditanggapi gelak riuh kelima kawannya, lagi-lagi menertawai amarahnya yang meletup.

Seungkwan menjadi sosok penengah. Kembali menjadi orang yang menghentikan tawa pertama kali, “Ya! Sudah-sudah! Jangan begitu, coba dengarkan dulu curahan hati kawan kita satu ini,” usulnya diiring sebelah tangan menggantikan jemari Hoseok membelai surai Taehyung, “Siapa tau ada bahasan yang lebih bagus buat ditertawai, selain kekejian Jungkook teruntuknya?” memang sengaja ia berkata begitu, yang seketika membangkitkan gelak tawa semakin parah. Terlalu niat menggoda Taehyung dan segenap kontrol emosionalnya.

Maka yang dimaksud beralih mendelik ke arahnya, menepak kasar pergelangan si Boo dari atas kepalanya, “Niat awalmu itu apa, sialan?”

Dengan sok kaget Seungkwan memegangi pergelangan tangannya, berlagak kesakitan sambil menatap Taehyung seakan tak percaya, “Ih, barbarnya kumat!” empat kawannya yang lain kembali tertawa kencang karena itu, disambut si Boo yang ikut terbahak-bahak. Senang sekali mendapati wajah atraktif kawan mereka yang memberengut lusuh, “Oke, calm, Man. Pardon, jebal. Sudah cerita saja, kami dengarkan—sumpah, tidak cela-cela lagi!” Seungkwan mencekal pergelangan Taehyung yang membuang mukanya ke arah jendela dengan luar biasa kesal. Terbata-bata berkata di tengah gelak tawanya yang susah di kendalikan.

Hening lagi usai kelimanya bisa menahan gejolak mereka.

Dan Taehyung bersumpah buat kali ini ia mau menjahit bibirnya rapat-rapat, berusaha persetan dengan kawan-kawan biadabnya dan tetap buangkam seperti ini. Berusaha setengah mati buat memberitahu bahwa ia kesal. Tidak peduli kalau ini terdengar kekanakan, tapi ia mau menunjukan kalau seorang Kim Taehyung juga bisa marah.

Maka dari itu ia mengumpati dirinya sendiri banyak sekali. Saat akal sehatnya sama sekali kontras dengan apa yang ia mau, bertindak di luar jalur perintahnya, dan membuat isi kepala beserta otaknya menyatakan kalau ini tidak benar.

Taehyung ingin menyerapah, bukan hanya untuk kelima kawannya. Tapi buat segala kebodohan dan omong kosong soal jantung hatinya yang dipupuk kebaikan terlalu banyak. Kata orang.

Yah, mungkin orang-orang itu ada benarnya. Karena dalam sekejap, ia bisa menetralisir amarah bagitu gampang. Seakan emosinya buyar saat retinanya mendelik dan mendapati wajah brengsek Jimin yang menatapnya teduh. Oke, buat kesekian kali, Kim Taehyung kembali kalah dengan egoismenya sendiri.

“Umm …,” ia mendengung lama. Entah dorongan dari mana, sepasang obsidiannya berpendar hangat dan menjernih dalam sekejap. Kembali berseri-seri tatkala membayangkan apa yang bakal ia jawab dari pernyataan Seungkwan, “Itu … J-Jung—” debaran jantungnya terlampau keras buat ia acuhkan, degupan yang tiba-tiba berdentum serampangan sekedar mengingat momen terakhir kali ia bertemu pujaan hatinya pagi ini, “—duh, tadi pagi …,” terlalu terbata dan bingung, ama sekali tidak merasa konsisten dengan dirinya selama ini yang terus berusaha menjadi anak lelaki sejati. Maka Taehyung mendongak sambil menarik napas dalam-dalam, menatap lurus pada Jimin yang paling utama tertangkap indra pengelihatannya, “Aku, gerbang, banyak orang …,” ungkapnya kacau sambil menunjuk arah luar kaja dari jendela di sebelahnya, “Di depan mereka—ng …,” kemudian kembali ragu saat tidak cukup sajak yang bisa ia rangkum buat menjadi barisan kalimat yang tepat, “Itu … ada satpam sekolah juga, di depan gerbang—aku … aku …,” serius membuat kelima kawannya terbengong usaha mencerna kata-kata abstraknya dengan mulut nyaris menganga, menelisik apa inti penggalan kalimat dari celah bibir kawan mereka. Tapi yang ada otak kelimanya memunculkan sembelit saat Taehyung berkata semakin rancu, “Aku … pagi-pagi sekali—”

Tapi kali ini tersela umpatan kesal Jimin yang dengan jahanamnya menepak kencang sebelah kepala Taehyung, “Brengsek! Idiotmu kumat, hah?! Bicara yang becus!”

Si Kim mengaduh berisik karena itu, mengusak ganas sebelah kepalanya yang kesakitan. Lantas menunduk dalam-dalam saat tatapan mengintimidasi menyerangnya dari lima pasang mata berbeda, jemarinya kini bermain-main kalut di meja.

Taehyung bersumpah, untuk kali pertama dalam hidup, baru kali ini pipinya memanas bukan main sekedar membayangkan seseorang menciumnya di depan umum, “PagitadiJungkookmenciumkudigerbangdepanbanyakorang!”

Sangnamja! Sangnamja! I’m sangnamja!’ itu teriakan batin Taehyung yang meraung-raung menyedihkan. Meratapi keadaannya sendiri yang kini menciut bukan main. Mengambil alih peran pemuda kecil yang di mabuk cinta, menjadi begitu manis dan tak bisa berkata-kata, dengan jantung berdegup kencang dan pipi bersemu merah sampai cuping telinga. Melenyapkan segala otoriter dan arogansi yang begitu Kim Taehyung.

Berkat tindak reflek Jeon Jungkook, ke mana perginya Taehyung yang suka bersikap layaknya diva dunia?

segalanya enyah, meninggalkan remaja yang selayak baru mengenal cinta monyet dini hari.

“Apa?” pertanyaan itu tersuara kompak dari kelima siswa yang sungguhan menganga sekarang.

Jimin menjadi orang yang tempramennya paling cepat tersulut di sini. Mendapati kawan baiknya jadi begini dungu sekedar menghadapi perkara cinta, sungguh membuat isi kepalanya cepat mendidih menanggapinya, “Hei kalau betul mau cerita—yang benar! Astaga … jangan bikin sensasi pagi-pagi begini, mau bertengkar hah?! Ayo kelapangan saja!”

Taehyung mendelik persis anak anjing kelaparan. Kalau saja otaknya tidak dipenuhi musim semi dengan ribuan memori Jeon Jungkook di dalamnya, mungkin si Park sudah habis ia buat bonyok sebonyok-bonyoknya berani menantang ia begini terang-terangan.

Tapi bunga-bunga terlalu banyak mengisi isi kepalanya, meletupkan debaran kupu-kupu yang bersarang di dalam dadanya, hanya untuk menyulutkan amarah buat menghajar Park Jimin. Yang ada otaknya makin miring membuatnya jadi orang idiot, “Pa—pagi tadi …,”

Fokus kawan-kawannya makin terpatri, penasaran saat tanpa sengaja Taehyung menggantung kalimat. Obsidian mereka mewanti-wanti apa yang tadi si Kim katakan, mengingat segelintir kata yang tersuara terlalu cepat barusan. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa dan memilih mendengarkan baik-baik kali ini.

Jemari si Kim terpaut gelisah di pangkuan, merasa cupu bukan main mendapati kenyataan dirinya jadi sangat berdebar. Lamat-lamat ia menunduk makin dalam sekedar menghinghindari tatap muka pada kawan-kawannya, mereka menatap terlampau intens. Sebab Taehyung masih terlalu waras buat memampangkan wajah apelnya ke segerombol bajingan, yang absolut bakal menertawakannya sampai mati kalau melihatnya begini merah. Maka Taehyung mencicit selagi bersuara, “Jungkook menciumku di depan gerbang, di hadapan banyak orang.”

Dan kali ini hening menggudara bukan karena Kim Taehyung sebagai pelaku utama. Melainkan kelima kawannya yang membatu di tempat.

Taehyung mendongak pelan-pelan, merasa heran karena tidak ada tanggapan sampai cukup lama. Hingga selang beberapa detik, kelima kawannya berseru kompak, “WHAT THE F—” merasa perkataan si Kim bagai bom nuklir yang baru saja meledak. Mereka kembali menganga, makin lebar sebab tak menyangka. Obsidian kelimanya membola tak percaya, dan merasakan bagaimana udara menjadi tidak bersahabat; karena seakan menjadi gumpalan terlalu besar buat jalur pernapasan mereka yang kecil.

Entah kelimanya harus mengapresiasikan hal ini dengan memberi selamat, atau gelegak tawa mencemooh sekencang-kencangnya.

Sebab, apa yang bisa mereka ungkapkan saat Jeon Jungkook tiba-tiba mencium Taehyung—ketika dua bulan terakhir mengacuhkannya bagai kotoran?

Pastinya ada yang tidak beres!

Dan teriakan solid mereka berlanjut, tersuara bersamaan dipadu lelehan liur yang memuncrat, “—FLOWER!” membanjiri wajah Taehyung dengan indahnya semburan air terjun berjamaah.

For fuck’s sake, Kim! You’re so daebak!”

.

.


Boom! Bah!—LOVE!


Kalau tidak ingat dwikkoji cantik yang tersimpan baik-baik dalam tasnya, mungkin Jungkook sudah menyembur Kim Taehyung yang sejak pagi tadi terus mengintilinya di luar kelas.

Terlebih, ini jam istirahat makan siang. Tanpa dosa si Kim mengajak kawan-kawan paling dekatnya buat bergabung (atau merecok) ke meja kantin Jungkook, Jihoon, dan Hansol.

Itu tidak masalah. Hanya saja remaja Jeon ini langsung berpikir, apa isi kepala Taehyung sampai begini mengesalkan menempelinya ke mana-mana? Perkara soal ketertarikan si Kim padanya, sampai kini pun tetap menjadi bualan omong kosong bagi Jungkook.

Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya pada salah satu siswa pertukaran pelajar ini. Murid sepenjuru YaGook sudah tau bahwa si cassanova DMN Academy mabuk kepayang padanya, bahkan guru-guru, staf, juga satpam sekolah pun mengetahui fakta ini dengan begitu absolut. Efek lain dari Kim Taehyung yang terlalu supel dan mudah bergaul, ditambah modal tampang juga harta, menjadikan namanya mudah diingat dan gampang menjadi tenar di setiap tempat yang ia jejaki. Maka ini menjadi faktor utama mengapa bisa berimbas besar pada nama Jeon Jungkook bisa turut terkenal di kalangan orang yang mengenal Taehyung.

Karena tanpa atau dengan sepengetahuan si Jeon. Sadar atau tidak. Taehyung terus menceritakan betapa memikat Jungkooknya pada setiap orang yang ia ajak bercerita ria.

“Mau apa?” Taehyung menoleh sambil memangku dagu, menatap lekat-lekat Jungkook yang duduk tepat di sebelahnya.

“Mauku?” jeda mengudara singkat sebelum senyum menyebalkan terpetak di paras manis si Jeon, “Kau pergi. Bagaimana? Terdengar bagus?”

Saat ekspresi kawannya juga kawan-kawan si Kim kompak mengusung raut mengiba nanar, lawan bicaranya justru tergelak riang.

demi kambing! Mungkin Kim Taehyung itu masokis gila tanpa otak.

“Serius Jungkook, kau mau makan apa?”

Tak ada ekspresi lain yang si Jeon pampangkan teruntuk siswa itu, selain flat dan datar yang memiliki artian sama. Mungkin Jungkook sudah mulai terbiasa dengan tatapan dari sekeliling yang mengarah untuknya, maka bukan lagi manernya mengmusingkan bisikan iri dari sepasang retina yang terus mengintimidasi. Yang ia prioritaskan sekarang adalah bagaimana cara menenggelamkan Kim Taehyung ke dalamnya samudra, hingga sosok itu tak lagi sanggup muncul ke peradaban.

“Terimakasih. Tapi aku bisa beli sendiri.”

Perkataannya disambut tak seatensi dari pemikiran keras kepala Taehyung yang sudah mematenkan keinginan, “Tidak bisa, aku yang belikan, kau di sini saja.”

Namun justru itu penyebab otak kepala batu Jungkook hadir tanpa diperintah. Menyangkal kemauan si Kim dengan rasionalitasnya yang sudah bulat, “Aku punya sepasang kaki yang masih sehat dan uang jajan yang cukup. Jadi tidak perlu, terimakasih.”

“Kau punya aku yang bisa mewakili kaki dan uangmu. Kau di sini, oke? Aku yang jalan—” nyaris Taehyung bangkit dari duduk kalau saja Jungkook tidak reflek merangkul pundak siswa itu buat tetap duduk.

“Kau pikir aku tunawisma, hah? Aku bisa jalan sendiri!” separuh mendesis Jungkook menggemelatukan gigi-giginya usaha menggertak si Kim agar melupakan niatan.

Tapi Kim Taehyung terlampau keras kepala sebagaimana kepala Jungkook yang seperti batu.

Dari jarak sedekat ini, begitu mudah bagi Taehyung buat memberi gertakan lebih berbahaya pada si Jeon. Tanpa ragu remaja Kim itu mendekatkan wajah mereka sampai kening keduanya terbentur, menarik senyum pongah seraya berbisik rendah, “Aku yang beli—atau kucium kau di sini?”

Reflek, Jungkook menahan napas. Respirasinya tersumbat namun kekesalannya lebih dulu mengambil alih, “Kuhajar kau kalau sampai berani lakukan itu,” tak kalah rendah Jungkook balik berbisik membalas lontaran Taehyung.

Yang dimaksud menarik ujung bibir makin arogan, “Eeey, katakan itu pada orang yang menciumku di gerbang tadi pagi.”

Jungkook memicing. Lewat ujung bibir ia mendecih kilat, “Kau yang minta, Brengsek, kalau kau tidak bilang begitu aku juga tidak sudi menciummu!”

Lalu hening menyambut tak lama sebelum tawa rendah Taehyung mengudara di antara mereka berdua, “Hei-hei! Jadi kalau aku minta, kau akan memberikannya, begitu?” Jungkook mebelalakkan mata tak percaya, bukan itu yang ia maksud, kurang ajar betul siswa Kim ini. Nyaris memundurkan kepala dari jarak intens mereka kalau saja sebelah tangan Taehyung tidak lebih dulu menahan tengkorak belakangnya buat tetap di posisi, “—oh! Lalu bagaimana kalau aku meminta …,” benar-benar sengaja si Kim mengambangkan ucapan seiring retinanya melirik pelan-pelan ke bagian bawah perut si Jeon, “Itu?”

Hening sejenak, sampai waktu di mana Jungkook menyadari arah dari akal kotor si brengsek ini bermuara. Cepat-cepat ia melepas rangkulan dari pundak Taehyung, dengan keras mendorong siswa Kim itu jauh-jauh darinya hingga terjungkal ke ubin kantin.

“Bangsat! Dasar mesum!”

Mereka sudah menjadi pusat perhatian dari awal, makin menegangkan ketika saling berpangut barusan, dan luar biasa mengambil fokus penghuni kantin dengan bising gaduh Taehyung yang terjengkang, teriakan kesal Jungkook yang menggelegar dan gelak tawa si Kim yang terbahak-bahak senang dari tempatnya tersungkur.

Pada akhirnya Jungkook kalah. Kekeras kepalaan Taehyung mengalahkan otak kepala batunya, dengan gampang siswa itu bangkit dari lantai, dan bilang ke kawan-kawannya juga kawan Jungkook bahwa makan siang hari ini ia yang membelikan. Semuanya.

Maka tidak ada lagi alasan bagi Jungkook buat menolak, sebab Lee Jihoon, adalah orang pertama yang menyetujui tawaran ini. Sedangkan kawan-kawan Taehyung malah sibuk membuat siswa Kim itu kepayahan mengingat apa yang mereka pesan.

Seperginya Taehyung ke konter nasi. Canggung mengudara mendominasi atsmosfer di antara delapan siswa ini. Tidak ada yang buka suara di lima detik pertama. Sampai Seungkwan yang sibuk dengan ponselnya mulai melirik Jihoon di sebelah buat ia ajak bicara.

Disusul Hoseok yang ada di tengah-tengah Jimin juga Hansol mulai heboh bercerita soal pertandingan bola malam kemarin. Berlanjut Mingyu yang mulai sok kenal dengan Jungkook sambil menghina-hina Soonyoung yang ada di sebelahnya.

Hanya senyum kecil, dan potongan-potongan tawa hambar yang Jungkook keluarkan untuk mereka. Berbeda sekali dengan Jihoon juga Hansol yang langsung berubah akrab dan bergaul sekan teman lama. Jungkook tidak bisa, isi kepalanya masih campur aduk buat menilai anak-anak kaya ini.

Walau kenyataan sudah terang-terangan berkata, bahwa mereka tidak seangkuh kelihatannya. Yah, mungkin ini faktor dari cara siswa-siswa itu bergaul—atau, ada maksud lain dari keramahan mereka yang tidak biasa ini?

Setau Jungkook, ia tidak pernah melihat satupun siswa pertukaran dari kelas sebelah sempat bergaul atau bahkan bertegur sapa dengan anak-anak sekolahnya, selain tebar pesona—kecuali si gila Kim Taehyung yang memang niat mengintilinya. Antara terlalu ramah, atau memang tidak waras.

Seungkwan yang pertama kali sadar, mencuri tatap di tengah fokusnya berceloteh ria dengan Jihoon. Memperhatikan bagaimana Jungkook menanggapi tanpa minat candaan Mingyu atau bahkan lawakan kocak Kwon Soonyoung. Sampai menit di mana ia memberi sarat pada si Lee buat menoleh dan menatap Jungkook di sebelahnya, Seungkwan berhenti bercerita pada adik ketua OSIS itu. Barganti fokus teruntuk Jungkook yang terlihat tak fokus menerima ocehan kawan-kawannya.

“Taehyung itu mantan korban bullying,” perkataan tiba-tiba si Boo sontak membuat tujuh siswa di sekitarnya bungkam, memfokuskan tatapan padanya. Keempat kawannya sadar dalam sekejap mengapa Seungkwan berkata demikian, saat mendapati ke mana fokus remaja itu terarah.

Jungkook mengerjap, lamat-lamat mulai paham mengapa siswa Boo itu menatapnya. Tapi masih heran mengapa si Boo memulai pembicaraan serius seperti ini.

Dan lantas sadar tatkala Seungkwan melanjuti sambil mengutak atik isi ponsel, “Kalau kau menaruh kecurigaan apapun pada kami—yah, tidak masalah. Itu hakmu dan nyatanya benar apa yang kau pikirkan soal cara kami bergaul hanya dengan sesama anak terpandang. Tapi—c’mon, Jungkook! Kalian bertiga akan jadi pengecualian di sini. Karena ini tentang kawan baik kami yang tertarik padamu. Maka jika itu absolut, kau pun adalah kawan kami dan kawan-kawanmu juga kawan kami. Alright?”

Jimin mendelik, “Kau meragukan sesuatu?” sontak mengalihkan atensi Jungkook dari Seungkwan langsung terjurus padanya, “Apa Taehyung terlihat segitu meragukan buatmu?” jeda, “—yah, terserah, itu sih benar-benar hakmu. Hanya saja sebagai kawannya dari kecil, aku tidak pernah melihat bocah brengsek itu begini sukanya pada seseorang.”

Soonyoung yang duduk di sebrang si Jeon mengangguk satu paham, “Jungkook, aku bisa mengerti perasaanmu. Mungkin ini aneh dan tidak masuk akal, tapi cobalah percayai Taehyung sekali saja. Dia tidak searogan kelihatannya, kami yang jamin,” berkata demikian halus, menjadi orang berbeda dengan Soonyoung yang tadi berhisteria dengan lawakan absurd.

Yang lain ikut mengangguk setuju, kecuali Jimin yang lantas menoleh heboh nyaris menjerit, “Kami?” obsidiannya menyalak pada si Kwon yang mengusulkan ini, “—hell no! Aku tidak mau jamin ah!” lalu bersungut-sungut di tempat sambil menyisir rambut silvernya ke belakang, “Ingat? Terakhir kali aku menjamin begini ke Mama Kim, si brengsek itu hangover di Sanaun Saloon—”

“Sssh …!” ucapannya tersela sebab telapak tangan Mingyu lebih dulu membekap mulutnya kencang sekali. Remaja Kim satu itu memberi cengir sok polos yang memamerkan gigi-gigi taringnya pada si Jeon, sebelum menunduk mengarahkan tatapan menyalak untuk Jimin, “Bangsat, bisa diam tidak?” berbisik demikian rendah terkhusus buat siswa itu, “Dan berhenti panggil Taehyung brengsek di depan Jungkook, Sialan!” jeda, tangannya makin gemas mempekap mulut si Park sekalian mencekik lehernya pakai rangkulan tangan kanan, “Kau ini mau niat bantu atau menjerumuskan kawanmu sendiri, hah?”

Jimin berontak anarkis sampai belenggu Mingyu benar-benar terlepas seutuhnya. Sejenak melirik sinis pada siswa Kim itu yang justru terlihat sok inosen. Lalu mencibir buat terakhir kali sebelum kembali fokus pada Jungkook, sambil menunduk merapihkan seragamnya yang naik ia berkata, “Kalau yang jadi masalah buatmu justru karena tingkatan kasta, soal anak-anak kaya, wajah brengseknya, popularitas dan sejenis apapun itu …,” jemarinya terhenti di simpul atas dasi, menengadah sekedar mematenkan subyek obsidiannya pada si Jeon, “Perlu kau tau. Dulu Taehyung tidak seperti ini.”

“Jimin—duh!” kali ini pekikan Soonyoung yang terlepas dari sisi lain tempat duduk Mingyu, berusaha menghentikan kata-kata si Park.

Yang dimaksud mendelik tidak suka, “Kenapa? Kita buka saja kenyataannya, toh itu cuma masa lalu. Kalau Jungkook memang tidak bisa terima si brengsek itu apa adanya—ya sudah, aku juga tidak sudi melepas kawanku tergila-gila lebih dalam pada orang yang jauh lebih brengsek dari dia!”

“Setuju!” itu Hoseok yang menyahut. Akhirnya buka sudara dengan fokusnya menatap layar ponsel.

Ditimpal Seungkwan yang mengangguk membenarkan, “Iya, Jimin benar.”

Maka dengan bangga hati Jimin membusungkan dada, “Nah!” menelisik air muka Jungkook yang tak berekspresi sama sekali, “Dulu-dulu Taehyung itu luar biasa parah,” sudut bibir tebal si Park terangkat pongah. Berusaha serius, namun yang ada hal itu memberi sarat angkuh juga otoriter tersendiri dengan perkataanya, “Sebelum jadi sebrengsek ini. Dia cuma bocah nerd yang cupu. Keluarganya berantakan, dia terlalu tertutup pada orang lain, pendiam dan tidak mudah bergaul,” entah apa yang lucu, tapi Jimin tertawa usai mengakhiri pengakuan tadi.

Suara Seungkwan menyambut sambil menunjuk Jimin yang duduk lumayan jauh darinya, “Jiminie yang terus lindungi dia waktu itu. Makanya sebiadab apapun kelakuan bocah ini, Taehyung tidak pernah bisa marah padanya,” ia mengangguk sekali sebelum mendengung lama, “—walau … nyatanya dia memang susah marah sih,” kemudian terkekeh di tempat dengan manisnya.

Lalu sahutan Hoseok terdengar dari fokusnya pada ponsel, mencoba mengoreksi, “Yah, paling kena hajar dikit.”

Dan si Boo mengangguk usai berpikir bahwa ini benar, “—hm … yah, paling kena hajar dikit.”

Sebab itu mereka terbahak-bahak bersama begitu senang, kecuali Jungkook dan Jihoon yang merasa bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang lucu sampai bisa di tertawakan sama-sama.

Tatkala gelak mereka mulai mereda, Mingyu yang angkat suara selanjutnya, “Sebenarnya Soonyoung dan Jimin kawannya dari SD. Tapi waktu itu Soonyoung berhianat cuma karena masalah cinta monyet.”

Si Kwon buru-buru menimpal merasa tidak terima, “Ya! Bisa tidak usah ungkit yang itu? Aku juga ‘kan sudah minta maaf!”

“Tapi kau ikut membulinya!”

“Memang waktu itu kau sudah ada? Jangan sok tau! Mau cari gara-gara, hah?!”

Mendengar pembelaan ini, Jimin yang duduk di sisi lain Mingyu reflek jenjulurkan lengannya demi menggeplak keras-keras kepala Sooonyoung dari belakang, “Kau yang mau cari gara-gara, Sialan! Aku saksi hidupnya, sini kuhajar kau sampai mampus kalau mau menyangkal itu!”

Soonyoung mengaduh, menggusak kepalanya sampai meringkuk di meja. Lalu mendongak sekedar memasang tampang memelas pada si Park, “Eeey … pardon please, itu sudah lama sekali. Jangan diungkit dong, ‘kan aku jadi tidak enak.”

Dari semua orang, Jimin yang paling sensitif kalau topik ini sudah masuk ke obrolan mereka. Emosionalnya cepat sekali berubah jadi amarah yang membara-bara kesal, “Kalau aku jadi Taehyung, sudah kuhajar kau dari dulu-dulu!” tapi tetap tidak banyak berbuat apa-apa karena nyatanya Soonyoung pun sahabatnya, “Kawan macam apa yang saat susah hilang, sekalinya senang muncul di sini!” tapi kenangan menyebalkan di memorinya sungguh sulit terhapus, soal bagaimana kisah kekanakan mereka waktu sekolah dasar, “—oh! Bahkan lebih parah dari hilang! Kau ikut membulinya—bangsat, kalu ingat-ingat itu rasanya ingin sekali kubuat kau jadi umpan monyet!”

Sementara si Park terus dibungkus emosi jiwa, kawan-kawannya yang lain justru menikmati amarah siswa itu. Kompak terbahak heboh saat jemari pendek Jimin berhasil menjangkau rambut biru terang Soonyoung. Dengan tanpa dosa menumpahkan segala kekesalannya yang tertumpuk, pada helaian halus itu. Menjenggutnya tanpa perasaan dan mengguncangnya sadis bukan main.

Kim Mingyu menjadi sama-sama jahanam, karena sebagai orang yang duduk di tengah mereka, ia justru mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya sambil tertawa bahagia.

Dari seluruh kehebohan di kantin sebab bising dari meja makan siang mereka. Jungkook menjadi satu-satunya sosok yang melepas jiwanya membumbung ke mana-mana. Tak seperti siswa lain yang tercengan, berteriak, bahkan terbahak-bahak menyaksikan keberingasan Park Jimin. Jungkook justru terdiam dengan pandangan kosongnya yang mengawan tanpa objek pandang, meski kenyataan sumber gaduh itu ada di depan mukanya sendiri.

Kepalanya menjadi pening luar biasa saat memikirkan hal-hal yang sama sekali tak diduganya soal Kim Taehyung. Dan ini terdengar menarik mendalami bagaimana masa lalu kelam si Kim yang tak disangka-sangka.

Tanpa sadar, Jungkook memikirkan hal ini. Menjadi hanyut atas imajinasinya hingga tak diperkirakan ia melirih, berbisik buat dirinya sendiri dari fokus yang berceceran, memangku dagu di meja dengan obsidian kosong menerawang, “Korban bullying, hm?”

.

.

.

.

.

.

.

.

©Boom! Bah!—LOVE!
III : Jungkook, it’s really love!

tbc.


Jo Liyeol Curhat Timing!


Idih sori banget dedek nongolon VKook secuil doang di chapter ini, gimana ya jelasinnya. Mestinya chapter ini tuh masih panjang buangeeet … kukeasikan ngetik hueee

Jadi ya gitu, karena kepanjangan jadi ku potong aja buat chapter depannya =w= niatnya bakalan nongolin mereka di momen soswit gimana gituuu :v

.

PS(1): Semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): Poppo dulu sini buat semua yang udah bacaaaa~ =3=

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s