Boom! Bah!—LOVE! | Bab 2

Jo Liyeol’s present ©2017

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!
BTS – (+SEVENTEEN) FF! DLDR! RnR!


Tapi kelanjutan dari pernyataan Taehyung membuatnya berpijak di atas udara dengan malaikat kematian yang tak mengizinkannya buat terjatuh. Menuntunnya untuk percaya hingga ketakutannya mengikis pelan-pelan.

“Kau hanya perlu percaya padaku, Jungkook. Beri aku kesempatan, dan aku bersumpah tidak akan menyakitimu.”

Membimbing secuil debu dari serpihan hatinya sukses mengukir nama Kim Taehyung hingga bermuara dan terperi kuat di dalam sana.

.

.

.

| | Vkook – TaeKook | |

.

.

.

.

©Chapter 2 : What’s my fault, Jungkook?
Previous : | prolog | bab 1

.

.

“Jadi maumu apa?” senang hati Jungkook menerima gelas teh dari sebelah uluran Yoongi, ia menunduk memperhatikan pantulannya dalam air saat si Min mendudukan diri di sisi kiri.

Televisi menyala menayangkan variety show yang sedang booming di kalangan remaja. Acara kesukaan Jungkook, namun isi kepala si Jeon terlampau berat buat terbahak-bahak menyaksikan idolanya yang dikerjai sang presenter.

Setengah jam lalu ia sampai di kediaman ketua OSIS ini, mengganggu waktu gaming Dota si Min hanya buat mendengarkan curhatannya soal Kim Taehyung. Yoongi tidak tau kenapa harus dirinya, cuma Jungkook satu siswa yang berani muncul di depan pintu rumahnya, memampangkan cengir tak berdosa, masuk tanpa disuruh dan menghampiri ibunya di dapur buat memberi salam. Cuma Jungkook yang berani sekedar menggganggu jam gamersnya hanya untuk mendengarkan ocehan tidak bermutu siswa itu. Hm, mungkin ini afeksi lain karena si Jeon kawan baik adiknya.

Tapi sampai sekarang Yoongi tidak paham kenapa harus dirinya, sedangkan Jungkook punya dua sahabat yang siap diganggu kapanpun dan di manapun. Alasan yang sering kali si Jeon pakai; adalah karena tanggapan Yoongi lebih dewasa ketimbang bocah seangkatan Jungkook.

Yah, omong kosong.

Nyatanya Min Yoongi bukan tipikal siswa yang suka menanggapi curahan hati. Ia sendiri kadang tak mendengarkan dengan seksama apa saja kata yang dilontarkan si Jeon, walau tidak ia pungkiri, dirinya paham inti dari duduk permasalahan atas pernyataan siswa itu.

“Tidak tau, Hyung,” embusan napas berat mengudara, Jungkook tak paham kenapa otak bodohnya jadi tambah dungu sejak kejadian tadi sore. Taehyung dengan ketampanannya adalah cobaan, dan Taehyung dengan segala keseriusannya adalah malapetaka. Jungkook sudah sinting sejak bulan kemarin, dan bertamah gila semenjak sore tadi. Dengan mudah Taehyung menggerayang tubuhnya, mengendus perpotongan lehernya dan membuatnya frustasi setengah mampus. Ini tidak semudah waktu diawal, Jungkook paham, lambat laun eksistensi Taehyung di kesehariannya menjadi opium juga zat adiktif yang manis.

Tapi Jungkook masih terlalu kacau, rasionalitasnya berkata semua ini bualan, genjutsu mematikan yang Taehyung buat hanya untuk memperdayanya dalam sesaat. Ia ingin menjangkau pergelangan si Kim, mempercayai sosok itu tanpa peduli konsekuensi. Tapi nalarnya terlalu takut buat jatuh dan menerima kenyataan pahit.

Intinya, kau suka anak kaya itu atau tidak?” Yoongi menyeruput seperempat teh hangatnya dari gelas, sebelum melempar pilus isi toples di meja ke lobang mulut. Menjawab sambil mengunyah, “Kalau suka ya terima, jangan naif, Gguk. Nanti sudah kehilangan baru tau rasa kau,” begini yang kadang si Jeon tidak suka saat bercerita pada Yoongi. Orang ini selalu ke inti tanpa minat bertele-tele, berkata terlalu gampang seakan menjawab isi pertanyaannya semudah menggali kotoran hidung.

Jungkook menengadah sekedar melemparkan onixnya yang menyalang kesal, “Hyung, kalau semudah itu aku tidak bakal cerita padamu! Kau punya tanggapan yang lebih bermanfaat tidak sih?”

Yang lebih tua masih fokus menonton acara di depan mereka, bersandar di sofa rumahnya seakan tanpa dosa, “Siapa yang menyuruhmu curhat padaku? Timku terbengkalai gara-gara kau, tau? Padahal tadi sedang EZ Game, tim lawannya bodoh—ah sialan! Mestinya aku dapat item baru.”

Sumpah, racauan Yoongi hanya semakin membuat otak Jungkook bertumpuk beban semakin berat. Sampai ia memutar bola mata sebal, “Hyung!”

“Jungkook—dengar. Aku tidak bisa membaca pikiranmu dan pilihan akhir ada di tanganmu soal bagaimana kau harus tangani Kim Taehyung,” Yoongi segera menimpal, balas menatap Jungkook saat menangkap si Jeon mulai meninggikan suara, “Aku bisa bantu kalau yang kau tanya bagaimana cara memenangkan event Dark Moon bulan-bulan kemarin atau strategi mempertahankan kuil Selemene. Aku buta soal perasaan. Kau sendiri bahkan tau aku tidak pernah bercinta selain dengan PC dan perangkat PlayStationku!” emosinya ikut tersulut mengumandangkan geram. Bukan akibat karena ia menangkap obsidian Jungkook yang membara sebal, tapi lebih cenderung ke perasaan dongkol yang entah dari mana, “Kau bertanya sama orang yang salah! Mungkin aku memang dewasa, tapi aku tidak mahir soal cinta. Jadi berhenti bicara soal Kim Taehyung, dan cari topik curhatan lain seperti biasa, soal celana dalam Jeon Somi atau tali surga Chou Tzuyu—terserah. Sebelum aku tersinggung dan meratapi status singleku!”

Skak mat. Jungkook bungkam, menutup rapat-rapat belah bibirnya.

Ini buruk ketika mendapati aura kanibalisme Min Yoongi menggamang. Kembali Jungkook menunduk menatap pantulan dirinya dalam air teh yang bergelombang tenang, “Yah, Hyung. Maaf. Aku hanya bingung harus cerita pada siapa lagi kalau bukan kau, tiap kali aku cerita ke yang lain, tanggapan mereka sama; yang ada aku dicerca lalu kena paksa buat menerima Taehyung. Bahkan aku dimaki-maki Wonwoo hyung kemarin, saat cerita di rumah.”

Hening beberapa sekon tatkala Yoongi tak kunjung menanggapi, kini ia mengiba mendapati adik kelasnya terlihat begitu menyedihkan sekedar menghadapi perkara cinta. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sendiri tidak paham perihal ini.

“Kau memang cerita bagaimana ke Wonwoo, hah? Setauku dia sayang padamu?”

Jungkook menggigiti bibir bawahnya sebelum menjawab, “Aku bilang ada anak kaya di sekolahku, dari kelas pertukaran pelajar yang mengejar-ngejarku persis orang sinting. Aku tanya pendapatnya, tapi yang ada malah kena damprat.”

Yoongi mengghela napas, ia mengangguk beberapa kali sok paham, “Bodoh, kalau aku jadi Wonwoo juga bakal kupaksa kau buat terima Kim Taehyung,” ia mengambil jeda buat menyesap lagi isi tehnya, “Aku juga kakak, Gguk. Misalkan Jihoon dikejar-kejar salah satu siswa pertukaran itu pun pasti bakal kupaksa dia buat terima—mereka orang kaya, brengsek! Masa depannya dan keluarga ini pasti bakal terjamin,” sedikit kasar Yoongi mendaratkan belakang kepalanya ke sandaran sofa. Menatap langit-langit ruang tengah sedikit mengawang, “Kalau pun dia hanya dibuat bahan taruhan atau sejenisnya. Dia punya hyung yang bakal melindunginya dari belakang, jadi rasional saja, walaupun kami saudara tiri kalau misalkan Jihoon disakiti; hyungnya—aku, tidak bakal tinggal diam,” ia menoleh saat merasa pergerakan Jungkook yang duduk tegak memfokuskan pandang untuknya, “Terlebih Wonwoo, yakini, dia bakal jadi orang pertama yang bakal bertindak kalau kau kenapa-apa,” lalu kembali menegakan tubuh buat meneguk kembali teh di gelas hingga nyaris habis, “Kemungkinan terburuk, dia bakal bawa teman-teman sekolahnya buat mengepung sekolah kita, atau bahkan DMN Academy. Kau tau ‘kan? Siswa angkatan militer jiwa persahabatannya kuat.”

Jungkook terdiam lama sekali, lamat-lamat sekembar retinanya terarah menembus layar televisi di depan sana. Imajinasinya buyar ke mana-mana membayangkan kebenaran kata-kata Yoongi, ia mempunyai tameng sekarang, trampolin yang bakal menjaganya dari bawah tatkala ia terbang terlalu tinggi karena sayap Taehyung.

Lantas bagaimana kalau ia membuka hatinya sekarang? Menerima si Kim dan meraih uluran tangan siswa itu? Apa ia bakal terjatuh selayak antisipasinya selama ini? Atau kenyataan membawanya terbang semakin tinggi hingga menjemput pelangi? Dengan Kim Taehyung yang menerbangkannya bersama sepasang tangan yang merengkuhnya? Mendekapnya erat dan tak membiarkannya terpeleset sekalipun? Apa Taehyung bisa dipercayai?

Urgensi di inti sel otaknya masih bergeranyam parah, mempertanyai sebab-akibat yang akan terjadi di langkah perdananya di kemudian hari. Hingga suara Min Yoongi kembali terdengar di tengah-tengah argumen, “Atau kau punya pilihan lain,” siswa Min itu meletakan gelas kosong di meja usai meneguk habis isi tehnya, “Kalau kau memang merasa terganggu, aku bisa mewakili buat bilang ke dia untuk pergi jauh-jauh darimu,” kembali duduk tegak buat memfokuskan tatapan pada Jungkook yang balik menatapnya, “Kalau itu tidak mempan. Bilang saja ada orang yang kau sukai, adikku atau Choi Hansol, kuyakin mereka bakal suka rela menolongmu atas misi kecil mengenyahan Kim Taehyung. Beres, bagaimana?”

Jungkook masih betah terdiam dengan kelopak mata yang sesekali terpejam cepat. Sejujurnya ini ide bagus, kemungkinan delapan puluh persen buat menjauhkan si Kim dari hidupnya. Tapi tidak tau mengapa, Jungkook rasa ini tidak benar. Maka ia menggeleng tak seatensi, “Jangan, Hyung. Kalau begitu kesannya aku jadi orang jahat.”

Lantas mengundang kekeh cemooh dari Yoongi yang mengulum cela, “Nah! Akui saja, Gguk. Kau sendiri tidak ikhlas kalau orang itu menyerah buat mengejarmu ‘kan?”

“Tidak! Demi Tuhan!” buru-buru si Jeon menyentak, duduknya dalam sekejap menjadi sungguh tegap dengan mata membola serius.

Nyaris Yoongi kembali membalas lewat aura menyebalkannya yang penuh arogansi, sebelum suara sama datar terdengar dari arah pintu masuk, “Oh! Jungkook?” keduanya menoleh, mendapati Jihoon yang bergegas menutup pintu dan melepas sepatu. Tidak tau bocah itu habis dari mana, seragam sekolah masih lengkap melekat di tubuh mungilnya, tapi pergi ke tempat les sungguh mustahil buat siswa YaGook terkecuali kelas tiga semacam Yoongi—dan yeah, Yoongi bahkan labih betah main game sampai mampus ketimbang mempersiapkan diri buat ujian, tidak peduli kalau dia ketua OSIS atau apa.

Kentara siswa manis itu bersungut-sungut ketika berdiri di ujung sofa sebelah Jungkook, mendengus sekali sebelum menunjuk abangnya dengan tidak sopan, “Kau punya aku dan masih lebih senang bercerita ke dia?”

Jungkook hendak menanggapi. Tapi yang dimaksud lebih dulu menyela habis memutar bola mata jengah, “Ya, ya, ya. Sekarang kau sudah punya dia, carita saja padanya, dan selesaikan urusanmu,” lantas si Min bangkit membuat si Jeon merengut menyaksikan kepergiannya, sengaja melangkahi jalan sempit di depan Jungkook buat melewati adiknya yang masih berdiri di sana, sekedar dengan lebih kurang ajar mengusak puncak kepala Jihoon separuh kesal, “Bocah ini lebih berpengalaman soal cinta ketimbang aku, Gguk.”

Lantas berlalu meninggalkan dua sekawan itu dalam raungan dan geraman.

.

.

“Yoongi Hyung …” / “Bangsat! Dasar brengsek!”

“Ma! Jihoon bicara kasar, Ma!”

“Jihoonie! Belajar dari mana kamu?!”

“Bohong, Ma! Hyung bohong!”

“HAHAHA—malam Jeonggukie, malam adikku sayaaang.”

“Sialan!”

“Mama!”

“Bohong, Ma, bohong!”

.

.

.

.

.

.

[]

.

.

Boom! Bah!—LOVE!
you’re not wrong, just that; I was confused

( Mungkin, ini bukan lagi perkara soal Jungkook yang membenci anak terlahir kaya dan hidup dengan bermanja ria. )

.


“Jungkook fanboy, dia suka IU,” itu suara Hansol yang separuh malas meladeni Taehyung.

Tanpa kacamata bundar di pangkal hidung, siswa itu terlihat luar biasa tampan dengan rambut berantakan dan kemeja tak beraturan. Taehyung jadi berpikir, andai si Choi datang dengan penampilan begini ke sekolah; mungkin Hansol tidak akan selamat dari keanarkisan kawan baiknya, Boo Seungkwan.

Persetan deh. Siswa Choi itu bahkan tidak peduli apa isi kepala si Kim saat ini.

Hansol tau kalau orang ini menyukai kawannya, tapi ia jadi paham sekarang, kalau Kim Taehyung sudah segitu sinting menyukai Jungkook sampai puncak ubun-ubun.

—yah, setidaknya Hansol bisa bernapas lega buat fakta ini.

Tapi—oh ayolah, kalau Taehyung sudah terlanjur gila ya tolong dikondisikan. Ini pukul dua pagi, Man! Dan dengan tanpa dosa siswa itu datang ke rumahnya (yang Hansol sendiri bingung dari mana si Kim tau), berpakaian mencurigakan ala paparazi dan bawa-bawa tablet mahal seakan reporter kelas atas. Sekedar menanyai segala macam soal Jungkook tanpa mau diajak masuk, berakhir membuatnya berdiri di depan pagar sambil terus menjawab pertanyaan siswa itu yang absolut musti dijawab (atau Taehyung akan berubah anarkis dengan meraung-raung di depan rumahnya semalaman).

Rumah Hansol ada di pinggiran kota dekat jalanan, lumayan besar di kalangan siswa YaGook karena nyatanya bocah itu tergolong siswa berada. Akses bagus buat paman Ahn menunggui tuan mudanya di dalam mobil tepat di tepi jalan, depan rumah si Choi.

“IU?” pergerakan pen Stylus Taehyung terhenti ketika remaja Kim itu mendongak menatap lawan bicaranya. Sebelah alisnya terangkat angkuh, “Tidak ada yang lain? Bigbang, EXO—atau siapapun yang penting lelaki? Kenapa harus idola perempuan? Mesti aku datang kesekolah pakai Collar dress dan heels?”

Kening Hansol berkerut tiga lapis mendapati pertanyaan Taehyung menghakiminya. Sebelum mendengus keras-keras dan menyalak lewat oktaf suaranya yang malas, “Ya! Kenapa kau jadi kesal padaku?” tubuhnya merapat memeluk pinggir pagar sekedar menyandarkan kepalanya yang berkunang-kunang efek kantuk, “Itu sih urusan Jungkook mau suka pada siapa, kalau kau cinta padanya ya jangan sewot.”

Sontak membuat Taehyung menutup mulut rapat. Retinanya berpendar tak tentu arah sebelum kembali fokus pada Hansol, ia mengedip sejenak dan mengangguk kikuk, “Benar.”

Membuat lawan bicaranya memampangkan raut datar tanpa minat, tidak tertarik sama sekali pada otak cerdas Kim Taehyung yang berubah tolol dalam sekejap, “Lagi pula, inti dari pembicaraan ini tuh apa?” dan pada akhirnya ia kembali bertanya usai persekian sekon mendapati si Kim tak kunjung waras.

Taehyung mengerjap beberapa kali, berdeham sebentar sembari merapihkan pakaiannya saat melanjawab yakin, “Aku mau tau semua tentang Jungkook.”

Dan si Kim kembali diam ketika gelak Hansol mengudara renyah. Ia tidak paham apa yang lucu dari perkataannya, tapi melihat bagaimana cara remaja itu terbahak-bahak, sepertinya ia baru saja melawak. Dan ia paham apa yang ditertawai Hansol ketika si Choi berhenti tergelak, berdeham dua kali sekedar berkata sambil menahan tawa, “Lucu dengar perkataan begitu dari orang yang sudah ditolak puluhan kali,” detik itu Taehyung mengusung raut sedatar-datarnya. Sumpah, ia paling tidak suka kalau ada orang yang mengungkit-ungkit topik ini, terlebih Choi Hansol yang tanpa dosa melanjuti dengan begitu nista sambil menunjuk wajahnya kurang ajar, “Kau malah terdengar seperti pisiko mesum yang masokis.”

“Brengsek,” satu tepakan kasar Taehyung arahkan menepis jemari si Choi yang bertengger di tengah mukanya.

Efek lain dari kantuk berat membuat si Choi sama sekali abai soal bagaimana begisnya Taehyung menajamkan retina. Yang ada, dengan sama santai ia melempar sebuah tanya sambil kembali memeluk pinggir pagar, “Sofeeling you—why should to my pal?”

Taehyung diam. Berpikir sejenak demi menemui jawaban paling berakal yang mungkin ia punya, tapi nihil, otaknya melompong tak beride. Jadi tanpa disuruh bahunya menggedik acuh didamping tampang arogan, “Tidak tau,” kemudian sekembar obsidiannya berputar ke atas buat kembali berpikir. Lagi-lagi mencari jawaban yang tak kunjung ia temui, maka Taehyung menyerah, ia mengembus napas berat sambil menatap Hansol lagi, “I just falling love, and it’s without cos.”

Hansol mengangguk beberapa kali sok paham, “Yeah—basi,” berkata demikian gampang yang langsung membuat lawan bicaranya kembali bersungut sebal. Buru-buru ia menimpal tatkala mendapati iris si Kim yang tak lagi berkompromi, “But, it romantic. I hope you’re not kidding about this,” ia menjulurkan sebelah tangan buat menjentik di depan muka si Kim satu kali, “Jungkook had shield, Manhyungnya galak, afaik,” kemudian terkekeh usai kembali memeluk pagar rumahnya.

Untuk itu Taehyung ikut tertawa kecil bersamanya. Remaja Kim ini memiringkan kepala sambil mengulum senyum manis, “Thanks for info, Choi.”

“Nah,” Hansol menerima itu dengan balik melenmar senyum tampan, “No prob,” lalu keduanya hanyut dalam tawa kecil sesaat sebelum Hansol kembali memangku tanya di penghujung kekeh mereka, “By d’way, kenapa kau musti ke sekolah pakai Collar dress and heels? Mau pindah gender?” mungkin ia terlalu mengantuk sampai melewati apa yang Taehyung maksud dari perkataan ini sebelumnya.

Si Kim sendiri tidak merasa keberatan, ia hanya memutar bola mata main-main,”Hei, bukan begitu,” lantas menarik senyum kecil sambil menengadah menatap langit kosong yang tanpa bintang, “Aku cuma punya ide gila soal mengikuti style idolanya. Kata orang, idola itu tipe ideal fansnya ‘kan?” kemudian balik menunduk buat menghadap Hansol lagi, “Kalau aku mengcopy beberapa hal, siapa tau di akhir hari Jungkook bakal tertarik padaku besok?”

Lagi-lagi Hansol tertawa. Ia tidak tau kenapa, hanya saja menerima orang seperti Kim Taehyung begini tergila-gila pada kawannya terdengar seperti mimpi atau lelucon datar yang luar biasa lucu, “Imajinasimu tinggi,” jeda sesaat sebelum ia melanjuti sambil mengetukan jemari di besi pagar yang ia peluk, “Sana, menghayal saja terus.”

“Sialan,” Taehyung merutuk kesal, melepas sebelah tali ranselnya buat memasukan tablet yang ia bawa, “Jangan begitu, Choi. Tau tidak? Kau itu harapanku seorang. Aku tidak mungkin bisa begini ke kawan Jungkook yang satunya lagi—siapa itu namanya?”

Hansol diam. Menimbang-nimbang siapa kawan baik Jungkook selain dirinya, “Jihoon?”

Oke, itu pilihan terakhir karena tidak ada lagi siswa yang dekat dengan Jungkook selain ia juga si manis Lee itu. Kecuali anak-anak tingkat tiga kawan hyungnya Jihoon, dan kenalan dari anggota OSIS (Jungkook mantan anggota kesiswaan omong-omong).

“Yah, apalah,” Taehyung menanggapi setengah niat, kembali memasang dengan benar tali ranselnya di kedua pundak, “Si Cebol itu sama sekali tidak bisa diajak kompromi, pernah bulan lalu aku tanya ke dia soal Jungkook ada di mana. Bukannya jawab, yang ada aku kena kacang,” lalu bersungut-sungut sambil membuka snapback yang menutupi rambut merahnya.

Sekarang Hansol jadi bertanya-tanya. Sekolah elit macam apa DMN Academy itu? Yang membiarkan siswa-siswinya memulai KBM dengan rambut warna-warni begini? Belum lagi gaya berpakaian mereka yang kelewat berlebihan buat siswa SMU—damn, yah mungkin itu singkatan dari DMN yang dimaksud.

“Serius?” mengacuhkan urgensi di kepala, Hansol malah kembali terbahak-bahak mendengar pengakuan si Kim.

“Iya,” dengan tanpa minat Taehyung membalas, melantuti sambil menyantolkan pengait topinya di rongga gesper celana, “Ingatkan saja, kalau bukan karena dia kawan baik Jungkookku, atau orang yang disukai kawanku. Sumpah, tidak bakal aku mau bicara lagi sama dia,” dan kembali mendongak menatap Hansol sambil mendengus jengah.

Satu alis si Choi terangkat penasaran, “Suka?”

Taehyung mengangguk dua kali, “Hm … kawanku yang rambutnya biru, Kwon Soonyoung. Dia suka si bantet judes itu,” obsidian si Kim memicing saat mendapati gumpalan besar berlari ke arah mereka dari dalam rumah.

Ekspresinya menjerit-jerit sumeringah ketika mendapati itu adala anjing besar peliharaan si Choi. Jadi ketika Hansol membalas perkataannya, Taehyung sudah berlari masuk halaman menghampiri gumpalan lucu itu, “Kusampaikan nanti ke Yoongi sunbae. Biar kawanmu tidak semerana kau mengejar-gejar kawanku, si Kwon bakal happy ending nanti.”

“Terimakasih. Tapi tolong fokus bantu aku dulu baru yang lain-lain,” Taehyung membalas tanpa mendongak ke lawan bicaranya, sudah berjongkok sibuk bermain dengan si anjing, “Ini ras apa? Dulu juga aku punya anjing, namanya Shoonshim. Tapi mati gara-gara tersedak bumbu ramyeon.”

“Astaga,” Hansol menganga mendengar pernyataan terakhir Taehyung. Ia bingung musti tertawa atau malah terisak mendapati kenyataan itu. Yang ia bingungkan sekarang, dari mana si Shoonshim mendapati makanan penjemput ajalnya? Bumbu ramyeon? Hah? Tapi argumen itu si Choi abaikan dengan menghampiri Taehyung, lantas ikut berjongok di sebelah perut anjingnya, “Ini ras Pyrenean. Namanya Hancheol. Kau suka anjing?”

Taehyung mengangguk, “Iya, tapi kapok buat pelihara lagi. Aku nangis lima hari tanpa henti saat Shoonshim mati, itu lebih menyedihkan ketimbang penolakan cinta pertamaku waktu SD.”

Dan Hansol tidak bisa menahan tawanya buat kembali menggema di sunyinya malam, ia terpingkal keras sekali sambil bertepuk tangan heboh, “Fuck you, Kim. Kau lebih kekanakan dari perkiraanku!”

Dan tanggapan Taehyung terdengar sama sekali tak tertarik buat ikut terbahak-bahak, “Nyatanya aku, kau—kita, waktu itu memang masih anak-anak, Choi,” jemarinya sibuk membelai rambut halus Hancheol.

Lalu sunyi merajai beberapa sekon ketika Hansol terheti dari tawa. Ia diam memperhatikan Taehyung yang sibuk bermain-main dengan anjingnya. Mengacak-acak helaian lembut gumpalan putih itu sampai kacau, ribut membuat si anjing kesal namun terlalu nyaman buat kabur dari jemari lentik si Kim, hingga begitu mudah membuat hewannya menurut buat melakukan apa yang Taehyung mau.

Hancheol itu ras Pyrenean, dan setau Hansol ras ini tidak mudah buat menyukai orang baru. Itu juga pengalaman yang si Choi dapati dikeseharian; ketika kawan-kawannya berusaha menyentuh anjingnya. Namun bagaimana bisa Kim Taehyung menaklukan peliharaannya kurang dari sepuluh menit?

Mengesampingkan hal ini, ada satu fakta yang ia temui. Taehyung terlihat berbeda. Tidak ada arogansi juga tampang pongah yang otoriter, embun emosional di aksara ekspresinya tak lagi terpampang dengan raut mencemooh seperti biasa. Benar-benar beda. Remaja itu tersenyum lebar dan tertawa kecil seperti anak kebanyakan, menghilangkan segala fakta bahwa Kim Taehyung memiliki derajat tahta jauh di atasnya.

Mungkin Hansol sudah terlampau mengantuk. Hingga baru ia sadari bahwa sedari tadi yang diajaknya bicara dengan begitu asual; adalah salah satu siswa terpandang di kelas pertukaran pelajar, orang yang biasa mengobrol ria dengan segelintir kastanya, tertawa dan bahagia bersama anak sederajatnya—benar, mungkin kini Hansol masi terlalu mengantuk buat menerima fakta; bahwa Kim Taehyung tidak seburuk pemikiran Jungkook selama ini. Siswa itu apa adanya, bergaul sesukanya, dan tidak seangkuh kelihatannya. Dia mudah menyatu tanpa pandang buluh, perangainya terlalu hangat buat anak-anak kaya yang mengandalkan harta orang tua. Hansol tidak pungkiri si Kim suka seenaknya karena perlindungan uang, tapi fakta lain dari negativitas itu ialah Kim Taehyung yang tumbuh tanpa membeda-bedakan golongan.

Dan Hansol memang terlalu mengantuk buat menyimpulkan; Taehyung yang terlihat berbeda—atau … remaja itu memang beda.

Embusan napas berat tersuara seiring si Choi menunduk mengacak-acak rambutnya frustasi. Taehyung membiarkan tanpa peduli, sampai di mana Hansol kembali mendongak mengatur isi otak juga kerasionalan, “Yah, kalau aku jadi kau. Kenapa tidak belikan saja tiket fan meeting IU buat Jungkook? Kau ‘kan kaya, uang segitu tidak ada apa-apanya ‘kan?” lalu mangacuhkan soal kekelitan di kepala ketika mencoba ikuti alur yang ada. Berusaha biasa saja sambil menggelitik perut Hancheol yang telentang dijahili Taehyung, “Kuyakin Jungkook bakal kegirangan sampai sinting. Dia berterimakasih padamu. Kau minta imbalan darinya. Kalian jadian. Dan mission success,” diakhir kalimat ia menoleh sekedar mendapati ekspresi si Kim yang masih tertarik dengan aksi menjahili si anjing, “Jangan lupa kasi aku hadiah kalau kalian sudah jalin hubungan.”

Pernyataan terakhir cukup mengalihkan atensi si Kim, Taehyung tertawa sebentar sebelum menoleh, “Man, Itu urusan gampang. Tapi aku tidak setuju dengan idemu. Soal tiket fanmeet IU sih tidak seberapa, kubawa orangnya langsung ke depan Jungkook juga bukan hal besar,” lalu kembali menunduk buat menjambak-jambak gemas bulu halus anjing yang masih telentang, “Tapi mengingat pertama kali aku dibuat suka padanya gara-gara dia bilang aku seperti jalang di hotel bintang lima, cuma karena kukesal minta dia melupakan perkara soal harga moka blendednya,” lantas kembali mendongak bersama ekspresi menyebalkan yang sok serius, ia tidak menatap Hansol tapi obsidiannya sedang menerka-nerka bagaimana ia harus mengekspresiakan isi hati, “—Jungkook lebih mahal dari perkiraan,” lalu tanpa penasaran tanggapan di wajah si Choi, dengan tak berdosa ia kembali menunduk demi menggusak perut Hancheol sampai si anjing menggelinjang geli, “Kalau aku membuang uang sekali lagi di depan mukanya, mungkin otaknya bisa makin serampangan menganggapku negatif.”

Selang dua detik dari perkataan terakhir Taehyung, Hansol mendecak ekspresif. Menggeleng sebentar dengan kedua tangan yang tak lagi bermain di rambut hewannya, “Wah, sepaham itu kau?”

Taehyung diam. Tiba-tiba otaknya berimajinasi jelek sekarang, ia menengadah bersamaan jemari yang terselip di gigi-gigi Hancheol, “Kau tau?” air mukanya berubah tak bersahabat dengan raut datar kelewat sebal.

“Tentu,” tanggapan sok inosen Hansol sembari menggedik bahu malah membuat isi kepala Taehyung makin mendidih panas, “Aku kawannya loh.”

Atas itu si Kim mendengus kuat-kuat sambil menarik jemarinya dari mulut Hancheol, “Jadi kau memberiku ajaran sesat?” ingin menyembur Hansol lewat sumpah serapah, tapi tidak jadi ketika ia memutuskan lebih baik masa bodoh dan kembali bermain dengan si anjing, “Sialan!”

Lagi-lagi Hansol melepaskan tawa, kedua tangannya terangkat di depan dada mendapati Taehyung melirik sinis padanya, “Calm-calm, aku cuma asal bicara sebenarnya,” kemudian menoel-noel perut Hancheol ketika melanjuti tanpa menatap si Kim, “Tidak menyangka ternyata kau sepaham itu soal Jungkook,” dan hening sebentar sebelum akalnya menjemput sesuatu. Buru-buru Hansol menoleh memfokuskan pandang pada Taehyung, “Mendengar omong besarmu, aku jadi penasaran. Kau sekaya apa?”

Taehyung diam, cukup lama mengacuhkan Hansol dengan sibuk bermain pada anjing yang kini memunggungi tuannya, “Aku tidak kaya—hanya beruntung. Yang kaya orang tuaku,” lalu tergelak kecil karena usahanya berhasil membuat Hancheol menggonggong.

Ya, sekarang Hansol paham; bahwa Kim Taehyung yang memang berbeda. Dengan akal sadarnya, ia memahami bahwa siswa itu memang sombong, tapi agak dan gayanya bukan menyombongkan soal harta kekayaan orang tua selama ini, melainkan buat prestasi juga ketampanan mutlaknya dari lahir.

Tapi bukan berarti Hansol musti memuji Taehyung terang-terangan untuk perkara ini, ia sengaja mendecih, berlagak mencemooh meski senyum kecil ia tahan buat merekah, “Oh! Sedang merendahkan diri?” jeda, “Atau mencari topik lain?”

Taehyung terbahak keras sekali karena itu, “Tidak—serius,” tatapannya tak beralih, masih fokus buat mengganggu Hancheol, “Aku ini contoh anak-anak yang terlahir beruntung. Just information; ayahku biologisku pengusaha, ayah tiriku politikus, ibuku aktris, dan aku punya satu kakak lelaki yang sudah menika—” perkataannya menggantung berkat gelaknya yang tiba-tiba menggelegar saat ia berhasil membuat anjing itu kembali menggonggong kesal.

Hansol membiarkan kelakuan si Kim, abai dari anjing yang minta pertolongan padanya—siapa suruh tuannya sendiri dipunggungi?

Entah kenapa ia malah lebih tertarik untuk membayangi kehidupan si Kim dengan silsilah keluarga sesukses itu—persetan dengan ibu yang menikah dua kali, “Wah, itu sih bukan lagi beruntung—hidupmu sempurna.”

Tawa Taehyung terhenti di detik itu.

Jemari si Kim masih sibuk mengganggu hewan yang berguling-guling karenanya, tapi tak ada suara yang menjawab perkataan Hansol. Si Choi sendiri tidak masalah, ia hanya berpikir mungkin Taehyung terlalu suka dengan anjingnya, sampai di mana suara remaja itu terdengar lewat oktaf suara yang lebih pelan dari terdahulu, “Tidak Juga,” pernyataan ringan, tapi entah mengapa Hansol merasa tanggapan itu terdengar berat dari kerongkongan si Kim.

Perlu diketahui. Taehyung sudah sering mendengar perkataan orang soal kehidupannya yang sempurna, dari kawan-kawan atau kenalan dekatnya. Dan ia hanya diam untuk itu, yah, ia bersyukur setidaknya orang lain merasa demikian tentang hidupnya. Tapi perlu mereka ketahui, bahwa Taehyung tidak merasa begitu. Ia mempercayai kata-kata tentang; ada masa sulit di mana kehidupan tidak terasa seindah pemikiran orang lain.

Ia ingin meratap seperti orang kebanyakan, tapi Tuhan tidak mengizinkannya. Ia terlahir tidak dengan dianugrahi kekurangan seperti itu, pemikiran dan isi otaknya terlampau enteng—selalu, di setiap waktu, karena semenjak dulu ditengah kesulitan yang melanda uang selalu mengalir menjadi tamengnya.

“Tadi bilang ibumu aktris ‘kan? Siapa?” pertanyaan Hansol mengalihkannya dari urgensi di kepala. Taehyung menoleh seiring mengatur mimik ekspresi agar tidak tertebak dengan mudah bahwa ia kepikiran soal pengajuan si Choi.

Ia menimbang-nimbang sejenak, “Byun-Kim-Park,” ejanya satu persatu dengan hitungan jemari, “—whatever, intinya nama dia Baekhyun,” tutupnya telak lalu kembali sibuk dengan si anjing.

Dan hening menyambut didamping ekspresi tak menentu Hansol, sebelum putra bungsu keluarga Choi itu menganga di tempat, “Hah?!”

“Tidak pernah lihat anak bungsunya ‘kan?” tanggapan cepat Taehyung tersuara dengan kekeh kilat, “Dari dulu ayah biologisku tidak memberi izin media meliputku.”

“Wow!” sungguh Hansol tidak bisa menutup-nutupi keterkejutan serta rasa terpukaunya kini. Pantas Taehyung terlihat luar biasa cerah, ibunya saja bintang papan atas, Hansol sangat-sangat bisa membayangi dari mana ukiran dewa di wajah Taehyung itu tercetak apik. Dan pemikiran lain bermuara semakin membuat si Choi tercengang, “Berarti kau putra tiri Park Chanyeol? Keren, ayah tirimu diplomat hebat,” tapi ia terlalu baik mengontrol nada suaranya supaya tidak terdengar kekanakan sekedar mengagumi betapa beruntungnya Kim Taehyung. Yah, jika ini benar berarti ayah biologis yang si Kim maksud adalah Kim Daehyun, pengusaha lintas negri yang menguasai seperempat bidang ekonomi Korea Selatan. Lantas Hansol melanjuti bersama senggolan iseng di sebelah bahu si Kim, “Oh ya, kenapa margamu tidak ganti?”

Sukses membuat ekspresi Taehyung cemberut, ia mendelik kesal dari ujung mata, “Ayah kandungku masih hidup, sialan, itu pertanyaan gila,” nyaris memukul kepala Hansol kalau saja ia tidak ingat kalau paman Ahn sedang memata-matai prilakunya dari dalam mobil.

Oke, sekarang boleh Taehyung yang bertanya? Lelaki yang lebih tua dari dua ayahnya itu tidak pernah mempermasalahkan kelakuannya; buat melampiaskan hasrat atau bersitubuh langsung di depan mukanya sekalipun, tapi kenapa sekedar menggeplak orang yang sudah kurang ajar mencelanya saja tidak boleh?

shit, terserah! Anggap itu kehendak langit.

Buat kali kesekian si Choi tertawa senang sekali, membuat Taehyung berpikir bahwa Choi Hansol hanya terlihat dingin dari luar. Nyatanya siswa ini begitu mudah terbahak-bahak hanya dengan sahutan abstraknya.

Persetan, toh Taehyung tidak peduli juga apa dan siapa Choi Hansol. Yang ia tau si Choi itu adik dari sahabat abangnya. Yah, hyung tunggalnya yang cerewet tingkat khayangan—Kim Seokjin, dokter muda yang sudah menikah dengan milyuner sukses, Kim Namjoon.

Taehyung tau ini sebuah kebetulan yang luar biasa menguntungkan, di mana adik dari sahabat kakanya adalah kawan baik dari pujaan hatinya. Mengakui kenyataan yang tidak adil memang munafik, tapi Taehyung sungguh mengakui ini nyata, karena pahamnya berkata bahwa Tuhan mulai berpihak padanya soal Jeon Jungkook.

Maka usai ia ikut tertawa bersama Hansol dengan perkara lain yang ia tertawai. Obsidiannya memfokuskan tatap pada si Choi yang juga menghentikan tawa, “Jangan cerita itu ke Jungkook.”

Kening Hansol berkerut tidak paham, “Kenapa?” ada yang salah dari binar tatapan Taehyung, tapi ia tidak bisa membaca apa yang disembunyikan si Kim.

Hingga waktu di mana Taehyung menunduk dengan pipinya yang bersemu merah jambu, Hansol nyaris menyembur Taehyung dengan ludahnya karena tertawa terlalu tiba-tiba, “Malu.”

“Malu?!”

Yang ditertawai mendongak dengan raut ekspresinya yang mengusung kesal, “Dari kecil hidupku berantakan,” berkata demikian lewat casing figurnya yang menggelikan, sungguh terbalik dengan nada juga isi dari perkataannya.

Hansol tau ini tidak sopan, ia menertawai Taehyung tanpa bisa berhenti karena mendapati cuping telinga si Kim turut berwarna panas, “Hm?”

“Ini aib keluarga, tapi kalau penasaran ya bukan masalah. Toh sebagian rakyat Korsel juga sudah tau—kau kurang update, omong-omong.”

“Brengesk, sudah cerita saja. Kau bisa percaya padaku, jangan buat aku jadi benar-benar penasaran.”

Dan si Choi mesti setengah mati mengatup mulut menahan gema tawa saat mendapati akspresi Taehyung berubah sedikit sendu di balik wajah jambunya. Sampai rasionalitas Hansol musti mendidih ketika tanpa dosa si Kim justru memampangkan cengir sok inosen, “Tidak jadi deh,” lalu berhenti mengganggu Hancheol ketika berdiri sembari membenarkan pakaiannya yang kusut.

“Ya!”

“Tanya Seungcheol hyung saja sana! Aku mau pulang—bye!” dan dengan sama tanpa dosa ia berbalik, setengah berlari kabur dari sana.

“Ya! Kim Tae—kau!” bersungut Hansol meneriaki remaja itu yang tanpa menoleh keluar pagar rumahnya dan menghilang di balik pintu mobil.

Si Choi nyaris memaki-maki saat Taehyung menurunkan kaca mobil sekedar melambaikan tangan sambil berteriak berisik, “Sampai ketemu di sekolah, Choi! Dadah Hancheol! Sampai ketemu lagi!” sesaat sebelum kendaraan hitam porselen itu menghilang dari depan rumahnya. Dan Hansol baru menyadari sesuatu ketika mobil si Kim benar-benar menghilang dari jangkauan mata, meninggalkannya dengan Hancheol yang menggonggong tidak rela melepaskan Taehyung.

“Oh? Dia kenal hyungku dari mana?”

.

.


Sepanjang jalan sekeluar dari bus, si Jeon setengah sadar melangkah melewati bata trotoar arah YaGook, imajinasi membayang-bayang soal bagaimana ia harus memperlakukan Taehyung nanti usai kejadian kemarin. Ia kembali menolak siswa itu dengan kasar usai saling mengecup potongan leher satu sama lain—bangsat, ini memalukan!

Nyaris Jungkook terjengkang saat selangkah memasuki gerbang sekolah, tiba-tiba bobot puluhan kilo menggelayut di punggungnya. Ia mau menoleh kalau saja wajah familiar tidak lebih dulu muncul di sisi kiri kepalanya, menampakan cengir kotak menggemaskan lewat aura otoriternya, lalu berseru kurang ajar tanpa paham suaranya melengking nyeri ke lubang telinga si Jeon, “My Bunny berry!” terlebih mengenaskan ketika Jungkook sadar ia jadi pusat perhatian lalu-lalang siswa bahkan satpam YaGook, “Good morning, Bae!”

Yah, Kim Taehyung sudah kehilangan urat malunya mungkin.

“Ya! Apa-apaan sih?!” separuh bengis Jungkook melepas pelukan Taehyung dari lehernya, lantas melangkah beberapa senti sekedar berbalik mendapati wajah berseri-seri si Kim yang serasa minta kena hajar. Tapi umpatan di pangkal lidah Jungkook melebur tatkala melihat tampilan Taehyung yang berbeda dari siswa kebanyakan—iya, Taehyung memang selalu beda dari ribuan siswa yang pernah Jungkook liat. Tapi kali ini bukan lagi persoalan tentang gaya busananya yang kelewat mahal atau rambut merahnya yang menyala terang. Tapi

Apa-apaan dia ini?

Taehyung tidak memakai almamater merah marun khas DMN Academy, yang ada jeogori tersimpul rapih menumpuk di atas kemeja putihnya. Sepatu Jordan yang biasa ia pakai berubah menjadi kkotsin warna-warni yang menggelikan, di kepala ia memakai yugeon dan sebelah tangannya membawa-bawa buchae kayu.

Apa siswa itu sedang bereksperimen? Atau mau melakukan atraksi pagi-pagi begini? Parade gila hah? Apapun itu, yang pasti bagi Jungkook; Kim Taehyung sudah luar biasa tidak waras.

Satu cengir kotak si Kim mampangkan sejenak membuat sekujur tubuh Jungkook meremang ngeri. Sekon selanjutnya Taehyung menggali rensel Jansport ori yang terlihat sepadu dengan tampilan freaknya, sekedar menggeledah isi tas buat mengeluarkan dwikkoji yang terasa familiar dipengelihatan si Jeon. Remaja Kim itu masih mengusung senyum cerah ketika kembali mendongak, membiarkan tali tasnya menggantung yang memang ia pakai cuma sebelah di salah satu pundak.

Jungkook terperangah, sepasang obsidiannya membola tak menyangka saat Taehyung mengulurkan tangan menyodorkan jepit rambut yang diceritakan dari jaman Goryeo itu.

“Melihat tampangmu jadi begitu—kutebak, kau tau benda ini familiar ‘kan?” demikian Taehyung berkata sembari menarik dwikkoji itu mundur sekedar menggoyang–goyangkan di sebelah wajahnya, usai meneliti air muka Jungkook yang membeku dengan binar kentara di mata.

Jungkook menengadah. Ekspresinya kembali ia pupuk sedemikian tak bersahabat teruntuk Taehyung, “Dapat dari mana?” jeda tatkala ia kembali melirik dwikkoji digenggaman si Kim lalu mendecih sarkas, “Niat sekali mencari replikanya cuma buat pamer padaku.”

Persetan mau itu replika atau bukan, sebenarnya Jungkook ingin sekali menyentuh jepit rambut itu. Bahkan kalau bisa, ia ingin memaksa Taehyung buat menyerahkan banda itu untuknya. Walaupun Jungkook juga tau dia tidak mungkin memakainya untuk alasan apapun—dia laki-laki, dan dia masih cukup waras buat tidak memakai dwikkoji di kepala.

Kepulan asap membumbung di kepala si Jeon saat tawa Taehyung mengudara. Kesal bukan main soal apa yang ditertawai siswa itu tentang perkataannya, sampai waktu di mana Taehyung berkata usai bungkam tiga detik, “Ini yang asli, bukan replika,” Jungkook menganga tak percaya. Ia mau menepis dan berkata tidak mungkin di depan wajah sok Taehyung, tapi kenyataan seperti ini bukanlah hal yang mustahil untuk si Kim bawa dalam kenyataan. Terlebih meyakinkan dengan gaya angkuh Taehyung saat berkata sambil menempelkan jepit rambut itu di pipi, “Jang Jaein—desainer perhiasan Moon Lovers sendiri loh yang beri padaku. Dia sudah buatkan aku replikanya, tapi kerena aku terlalu sayang padamu, aku minta replika baru yang ia buat untuk ditukar sama yang ini,” lagi-lagi Taehyung menggoyangkan dwikkoji itu di sebelah wajah, “Yeah, intinya kau tau ‘kan?” terkekeh singkat saat kembali memainkan ujung jepit rambut di tangannya ke pipi, menggoda Jungkook sampai siswa Jeon itu tak berkedip sama sekali. Bukan perkara soal keseksian Taehyung yang mampu membuat lalu-lalang siswa menjerit dibuatnya, tapi ini soal dwikkoji cantik di genggaman siswa itu yang luar biasa menggoda buat dimiliki. Dan pernyataan selanjutnya dari siswa Kim di depannya sukses membuat Jungkook menggigiti bibir bawah frustasi, “Yang ini pernah dipakai IU—” makin parah ketika dengan sengaja Taehyung mengendusi bahan besi jepitan itu, berlanjut ekspresinya yang seakan menikmati indah dunia, “Ah, bahkan harum rambutnya masih bisa tercium,” bohong, padahal yang bisa Taehyung dapati dari apa yang ia endus hanya aroma tajam baja tanpa wewangian harum apapun. Cuma terlalu minat mengerjai Jungkook sampai ke puncak awan-awan.

Susah payah si Jeon menelan liur yang terlalu berat, gengsi membuat akalnya berpikir jernih soal harga diri. Ia mau menjerit kencang pada Taehyung, mencaci maki atau bahkan mengemis nista—apapun, asal si Kim mengizinkannya sekali saja buat menyentuh benda itu.

Melupakan sepenggal dari kata-kata Taehyung soal ‘—karena aku terlalu sayang padamu’.

Membuatnya terperangah saat perkataan Taehyung terlontar begitu mudah, sungguh-sungguh di luar jalan logis Jungkook, “Mau?” sambil menyodorkan dwikkoji yang ia genggam, “Ini boleh jadi milikmu.”

Jungkook menganga, bingung harus apa tapi nyaris menjerit bahagia untuk penawaran ini. Jemarinya sudah ancang-ancang merampas jepit besi di tangan Taehyung, fokus retinanya hanya tertuju pada benda itu, Jungkook mau mengabaikan gengginya buat kali ini demi benda itu, tapi isi kepalanya mendadak dilanda perang argumen. Yang membuatnya susah payah menelan saliva di kerongkongan. Ia mau menjaga harga diri, tapi sisi lain dirinya ingin melupakan itu buat satu menit ke depan—demi dwikkoji yang pernah dipakai idolanya.

Dan Jungkook benar-benar melupakan akal sehat ketika tangannya terjulur cepat hendak merampas benda di genggaman Taehyung, nyaris berpindah tangan kalau saja di pemilik tidak lebih dulu bermain dengan menyembunyikan dwikkojinya di balik punggung.

Berniat licik ingin mengerjai Jungkook kali ini saja, mengambil kesempatan karena ia paham siswa Jeon itu sudah mengabaikan otak keras kepalanya.

“Tapi cium aku dulu,” ujarnya sambil meletakan telunjuk di permukaan bibirnya yang sedikit mengerucut.

Yah, sebenarnya Taehyung hanya mau bermain-main. Mengerjai Jungkook sekedar menuntaskan hasrat buat melihat si Jeon yang bersungut-sungut kesal memulai hari. Tapi angan-angannya salah karena berfantasi begitu dengan Jeon Jungkook yang sudah kehilangan akal sehat. Sebab dengan tanpa dosa siswa Jeon itu benar-benar melepas harga dirinya sejauh mungkin, menarik kerah seragam Taehyung yang menyembul dari jeogori yang dipakainya, menarik tangan si Kim yang menutupi bibirnya lewat jemari lalu menubrukan bibir mereka tanpa peduli bahwa bagitu banyak siswa yang menyaksikan, terakhir saat Taehyung sudah kehilangan nyawa atas raganya yang sudah melompong, Jungkook memeluk siswa itu sekedar meraih dwikkoji di balik tubuh si Kim.

Dan siswa pertukaran pelajar itu belum bisa menetralisir keadaan saat senyum manis merekah indah di wajah tampan Jungkook, begitu cerah dan berseri-seri bersamaan kilapan senang di sekembar obsidiannya menggenggam jepit rambut itu erat-erat di kedua tangan, “Dapat,” satu kata yang bisa Taehyung cerna dari suara ceria Jungkook yang mengudara.

.

.

.

.

.

.

.

.

©Boom! Bah!—LOVE!
II : What’s my fault, Jungkook?

tbc.


Jo Liyeol Curhat Timing!


Halo kalian semua yang nungguin fanfik ini update! Maaf bikin kungegantung kalian selama ini—but, aku punya alesan dan apapun itu semoga ga ngebuat kalian marah dan kecewa =w=

Semoga di rampungnya Chapter ini bisa bikin kalian puas dan inget dedek lagi(?) =3= muehehehe …

.

PS. Segala typo yang ada adalah kekhilafan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s