Boom! Bah!—LOVE! | Bab 1

Jo Liyeol’s present ©2017

Disclaimer :

Tokoh milik Tuhan, orang tua dan Agensi mereka. Tapi cerita, pairing, dan Kim Taehyung real milik Liyeol! =3= *tampol dedek*
Hanya fiksi absurd yang tetiba mengambang di otak Li =w= Original my imagination!
Jangan di bawa baper. Di bawa asik ajaaa =v=

.

.

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!
BTS – (+SEVENTEEN) FF! DLDR! RnR!


.

.

.

.

| | Vkook – TaeKook | |

.

.

.

.

©Chapter 1: Jungkook, don’t hate me!
Previous : | prolog |

.

.

Entah ini menjadi pagi keberapa semenjak Jungkook terus menjadi pusat perhatian, ia tidak ingat dan tidak pernah bisa terbiasa.

Lingkungan yang sama, namun dengan atsmosfer berbeda. Menyebalkan.

Satu-satunya dasar mengapa ia terus diperhatikan sebenernya simpel. Efek keberadaan Taehyung yang pagi ini pun mengekorinya menuju kelas, setelah menunggui si Jeon di pos penjaga yang terhubung di tembok sebelah gerbang; hampir setengah jam.

Alasan yang biasa digunakan Taehyung di awal-awal kelakuannya, kala Jungkook mulai putus akal adalah menggunakan letak kelas mereka yang persis bersebelahan, berkata kalau ia mau masuk ke kelas dengan waktu dan saat yang sesuka hati maunya kapan.

Namun akhir-akhir ini Taehyung lebih kacau, mengungkap alasan asli mengapa ia begini. Siswa itu menungginya, dan mengikutinya hanya untuk alasan yang sama.

Karena dia suka Jungkook.

Dan Jungkook benci fakta itu. Bukan benci dalam artian sebenarnya, hanya saja, ia muak dengan kelakuan si Kim yang bertingkah sok inosen dengan tampang pongah serta aura otoriternya.

“Harus kukatakan berapa kali, hah?” dengan suara santai yang apatis Jungkook berhenti melangkah, berbalik sekedar mendapati Taehyung menguntit di belakang. Helaan napas terdengar sebelum si Jeon kembali bersuara, kini tersirat intonasi malas yang gamblang, “Aku tidak menyukaimu,” jeda, “Jadi berhenti mengikutiku.”

Namun dengan tampang congkak Taehyung membalas sembari menggulung kedua tangan di depan perut, mengangkat sebelah alis angkuh lalu berkata acuh, “Tapi aku menyukaimu—sangat,” lalu menarik senyum miring hingga membuat siswa-siswa di koridor yang memperhatikan mereka musti menahan napas dalam sekejap, “Terus bagaimana?” jeda, “Aku tidak bisa berhenti.”

.

.


Esoknya.

.

Sudah lima belas menit lebih Taehyung tak kunjung mengangkat kepala dari lipatan kedua tangan di atas meja, usai ia; juga kelima kawannya sampai di salah satu meja panjang kantin setelah bel istirahat berdentang nyaring.

Menjadi tabiat kelima siswa di sana menghabiskan makan siang di nampannya penuh suka cita. Taehyung tau, itu kebiasaan saat salah satu dari mereka lengah—tapi ia tidak peduli. Terlalu malas dirinya beraktivitas hari ini. Memakai alasan yang selalu sama semenjak bulan lalu, selepas penolakan sarkas Jeon Jungkook padanya.

Ya.

Sejak saat itu, entah apa yang salah dari otaknya yang jenius. Ia jadi tergila-gila dan sama sekali tak punya gairah hidup sebelum menyaksikan si Jeon yang berseri-seri mengagumkan, mengumandangkan betapa manis dirinya ketika tersenyum dan tertawa.

Gigi kelincinya yang manis, kedipan matanya yang centil, pipinya yang menggembung imut, belum lagi ketampanan mutlak saat kedua alisnya hampir bertaut kala kesal. Dan suara lembutnya—astaga, Taehyung bisa gila kalau tidak melihat opium kebahagiaannya tiap saat.

setidaknya itu yang muncul di indra pengelihatan Taehyung meski nyatanya Jungkook tak pernah berekspresi lagi ketika berpapasan dengannya. Selalu memasang wajah datar isyarat perang, kadang kala menajamkan onix kelamnya saat tanpa sengaja beradu pandang dengannya, dan begitu tidak suka ketika dari kejauhan sana; ia sadar Taehyung memandanginya tanpa kedip.

Ia tidak tau sejak kapan, tapi Taehyung sadar Jungkook sudah menjadi zat adiktif di kehidupannya. Segala tentang Jeon Jungkook indah, indah sekali, perpaduan manis tampan yang menantang buat ditaklukan. Jungkook oksigennya, ekstasi yang menjadi candu mutlak baginya, sampai segala tentang Jeon Jungkook begitu berharga dan berarti.

“Taehyung,” suara Park Jimin terdengar, menunjuk-nunjuk bahu kanannya iseng. Taehyung bergumam kesal menyuarakan bagaimana ia tidak suka perlakuan Jimin padanya, tapi satu kata yang mengudara dari celah bibir siswa cebol itu membuatnya dengan sigap mendongak dan merapihkan seragam, “Jungkook.”

“Mana?!” hampir berseru si Kim bersuara, mengedar pandang sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan—seketika membuat beberapa siswa di sana memekik gemas melihatnya. Selang tiga detik, jiwa kanibalisme Taehyung muncul keperadaban saat dengan menyebalkan kawan-kwannya bersuara.

“Di. Ha. Ti. Muuu~” sambil meletakan tangan kiri di telinga, sedangkan tangan lainnya terangkat seperti DJ.

Maka dengan brutal ia mengambil nampan kantinnya yang sudah kosong untuk menggeplak satu-persatu kepala kawannya. Kemudian tanpa minat kembali menelungkup dengan aura hitam yang kini membumbung ganas.

Sedangkan kelima siswa di sana hanya terbahak sambil menggusak kepala masing-masing.

“Sumpah, Tae. Mau sampai kapan kau mengejar-ngejar Jungkook? Kau tau? Ini jadi pengalaman pertamaku melihatmu ditolak lagi setelah kelas enam SD,” jeda, “Benar-benar menyedihkan dengan fakta kau yang mengejar susah payah kali ini,” itu pernyataan penuh ejek Kwon Soonyoung sembari menarik botol banana milk miliknya lalu menengguk begitu saja.

Boo Seungkwan di sebelahnya mengangguk setuju, siswa manis itu berujar masa bodoh sambil terus mengaplikasikan ion face di wajah, “Karma.”

Seketika mengundang gelak mereka kembali mengudara sarat mencemooh si Kim yang sama sekali tidak peduli. Semakin terbahak-bahak ketika mendengar gumaman percaya diri Taehyung dengan segenap kedataran intonasinya, “Aku akan mendapatkannya, kalian lihat saja nanti.”

Dan Taehyung baru akan berfantasi lagi tentang keindahan Jungkook, ketika suara Kim Mingyu yang kini terdengar dari tempat di depannya. Menepuk-nepuk kepalanya tidak sopan sambil berbisik sedikit heboh, “Taehyung. Jungkook, Jungkook!”

Namun dengan kesal si pemilik nama menepis keras pergelangannya. Sudah cukup dikibuli sekali, Taehyung tak sebodoh dirinya hingga setengah bulan lalu yang selalu sukses dikerjai kawanannya berkali-kali.

Jangan tanya kenapa mereka tau Taehyung menyukai Jungkook. Karena tanpa diumumkan dan diberitau pun satu sekolah juga paham, kalau salah satu siswa dari kelas pertukaran pelajar di sekolah mereka itu begitu tergila-gila pada Jeon Jungkook, juga fakta kalau Taehyung ditolak; bukan lagi perkara mencengangkan karena seluruhnya sadar, dari bagaimana si Kim yang terus mengejar Jungkook di tempat manapun siswa itu ada; dan si Jeon yang dengan santai terus menganggap siswa itu tak kasat mata.

Jeon Jungkook dengan segala sifat cerianya yang berubah dingin ketika ada Taehyung, juga Jeon Jungkook dengan segala kepeduliannya yang lantas berubah cuek jika itu pada Taehyung.

Sudah sangat membuktikan jika Kim Taehyung telah ditolak satu bulan silam.

Yah, sebenarnya Jungkook bertindak beda bukan hanya pada Kim Taehyung, tapi pada siswa-siswa sekelas di sebelah kelasnya. Kelas pertukaran dari sekolah elit DMN academy yang mengirim siswa-siswa terbaiknya ke sekolahnya yang biasa-biasa saja.

Jujur, YaGook High School hanya sekolah umum biasa, bukan sekolah ternama yang patut menjalin hubungan tukar siswa dengan sekolah sebesar itu.

Maka pikiran jelek yang terus terlintas di otak tak terlalu pintar Jungkook; adalah DMN Academy yang mengirim siswa-siswa termanjanya untuk hidup susah, bagaimana cara mereka memberi pengalaman bagi para siswa terbaiknyanya; mengalami pendidikan yang tidak begitu layak bagi kaum atas.

Terbukti dari kabar burung yang beredar di sekolahnya, kalau seisi kelas pertukaran berisi siswa-siswa tercerdas dan terkaya dari sekian banyak kaum elit yang menghuni di sana. Oke, Jungkook benci ini.

Apa akademi mewah itu sedang meremehkan sekolahnya?

Terlebih fakta di hari pertama si Jeon menangkap bagaimana angkuh gerombolan siswa itu berjalan memasuki kelas yang akan dihuni mereka, memandang syok saat jam istirahat mendapati makanan di nampan kantin yang terlihat murahan (bagi merka), belum lagi cara-cara berpakaian yang kelewat mahal dan selalu berganti tiap hari; Jungkook pernah sekali berpikir bahwa siswa-siswa itu pasti punya butik sendiri di rumah. Itu memuakansungguh, apa lagi cara tatapan angkuh mereka menatap ke sekeliling.

Sialan, memang mereka anggap kawan-kawan sekolahnya apa? Serangga? Anjing? Lintah?

Jungkook berani bertaruh, kerjaan mereka di rumah pasti hanya perawatan tanpa tau bagaimana rasanya bekerja paruh waktu di toko ayam cepat saji.

Bangsat! Dasar bocah-bocah ketergantungan.

Terlebih si biadab Kim Taehyung itu. Ia jamin sosok itu tidak pernah mendapat ‘tidak’ dari tiap keinginannya, makanya begini keras kepala terus mengejarnya tanpa ampun—sialan! Jungkook muak dengan anak-anak manja seperti itu.

Tapi Jungkook bukan tipikal siswa yang akan terang-terangan mengekspresikan ketidak sukaannya seperti Min Yoongi atau Lee Jihoon. Jadi ketika ia meresa mulai jengah melihat kalangan atas itu, maka yang ia lakukan hanya pergi—menjauh tanpa suara. Diam dan tetap sabar sebagaimana perangainya selalu terlihat santai dan hangat. Tidak membiarkan orang lain sadar kalau ia tengah membenci.

Maka ketika ia musti melewati meja grombolan Taehyung sebagai akses terdekat satu-satunya ke tempat kawanannya berada, Jungkook hanya menghela napas berusaha tenang untuk tidak mengarahkan tatapan dingin pada siapapun. Melangkah bebas meski setengah mati ia ingin secepat mungkin kabur dari sana.

Namun langkahnya musti berhenti tiba-tiba, tepat ketika ia berdiri di sebelah sosok yang tengah menelungkup. Siswa itu bangkit—berdiri sambil menggebrak meja hingga sukses mengambil atensi orang-orang, berteriak galak yang berhasil membuat Jungkook terlonjak di tempatnya.

“Jungkook, Jungkook! Pantatmu tuh Jungkook! Bisa diam tidak?!”

Yang seketika membuat kelima siswa di sana mematung dengan mulut menganga. Cukup lama sampai sebelah tangan Jung Hoseok terangkat menunjuk keberadaan Jungkook, si Jeon sendiri mematung, masih tak paham duduk permasalahan kenapa siswa itu tiba-tiba histeris.

Sampai di mana Jungkook sadar bahwa siswa yang heboh tadi adalah Kim Taehyung, saat sosok itu menoleh mensibobrokan obsidian mereka bersama segenap ketampananya. Di lanjut histeria si Kim usai terperangah bodoh beberapa detik, “JUNGKOOK?!” memekik tepat di depan wajah si Jeon dengan kurang ajar.

bitch! Keparat biadab.

.

.

.

.

.

.

[]

.

.

Boom! Bah!—LOVE!
I hate you, but i can’t hate you

( Jungkook benci anak yang terlahir kayamanja, tapi sepertinya ia perlu toleransi kali ini. )

.

Warning!
OCC || AU || T+ || Typo || BL
[DramaRomanceSacrificalHumor]

.


“Si Brengek itu, begini lagi,” adalah pernyataan tidak suka yang Yoongi keluarkan sesampainya di kelas sebelas A. Menatap bagian dalam ruang adik kelasnya dengan nyalangan obsidian tidak suka, tujuan awal buat mengambil kaset video game yang Jungkook pinjam pupuh sudah; melihat bagaimana ada Kim Taehyung yang tanpa kedip terus memangku dagu di bagian depan meja si Jeon, dengan lutut terpaut di lantai—Jungkook duduk di barisan paling depan, omong-omong. Jangan lupa seluruh gerilya berlebihan kawan-kawan sekelas si Jeon.

Lantas Yoongi berbalik arah, melangkah dengan wajah datar menuntun kaki-kaki Jeonghan mengekor di belakangnya; tak lagi heran dan bertanya. Jelas, dan pasti. Wakil ketua OSIS itu tau betul apa yang membuat sang ketua kesiswaan ini berbalik arah dengan raut tak bersahabat.

Sedangkan si Jeon di dalam sana memasung wajah super malas menatap bagaimana belagak inosen Kim Taehyung di depannya. Ingin meninju wajah sok polos itu kalau saja ia tidak ingat dirinya bisa dalam masalah; mencari urusan pada anak-anak orang kaya.

Jadi usai menghela napas, ia menatap Taehyung dengan retina yang lebih santai. Memajukan wajah sedikit sampai si Kim rasa dirinya akan mati detik itu juga, “Hei, dengar.”

Suara itu … ya Tuhan, kuatkan Kim Taehyung!

Hening sejenak ketika Jungkook mengigit bibir bawah sedikit gemas, sumpah, mungkin ia bisa mati duluan kalau menatap Taehyung dari jarak sedekat ini.

Maka buru-buru ia menuntaskan kekesalannya, “Kau, bisa pergi jauh-jauh dariku tidak?”

Dan dengan cepat Taehyung membalas, “Tidak,” dengan senyum menantang yang begitu membekukan.

Itu menjadi usaha pengusiran Jungkook yang kedelapan kali dalam lima menit terakhir, pun menjadi kali ke delapan pengeyahannya sama sekali tak bekerja. Bahkan ketika ia bergumam frustasi saat guru fisikanya masuk untuk mengajar, “Ya! Pergi sana, ada Im ssaem!”

Taehyung hanya menanggapi acuh, “Jinjja?” kemudian menoleh santai hanya untuk berkata pada guru botak itu yang mendekat untuk menegurnya, “Ssaem! Saya boleh di sini sepanjang jam pelajaran Anda? Kelas saya sedang olahraga, kaki saya sakit dan saya sudah izin,” jeda ketika dengan senyum kamuflase ia melanjut, “Karena itu, bukankah lebih bagus kalau saya ikut jam pelajaran Anda dari pada bengong di kelas?”

Sampai di mana pria tua itu dengan senang hati menyetujui dengan senyuman; tak lupa mengacak bangga relaian surai si Kim, Jungkook menjadi satu-satunya siswa yang histeris di tengah kegaduhan bahagia kawan kelasnya (Berpikir satu jam kedepan mereka bisa leluasa memandangi Taehyung tanpa susah payah).

“Tidak, Ssaem! Tidak! Dia bohong, saya berani sumpah kaki orang ini baik-baik saja! Dia bahkan berlari dari kantin mengejar saya sampai kelas!”

Yang diterima Jungkook adalah pukulan kencang di puncak kepalanya dari pria itu, pakai buku tebal yang sedari tadi ia diapit ketiaknya, “Bocah lancang ini, kau tidak bisa bersikap sopan pada tamu sekolah, hah?” nadanya datar persis bagaimana netranya memancarkan tindak yang sama pada Jungkook, “Kau seharusnya berlagak lebih sopan. Siapa tau dia mau berbaik hati menjadi akses yang menguntungkan masa depanmu.”

Maka Jungkook merengutkan bibir sambil melirik kesal pada Taehyung yang kini memancarkan wajah pongah ke arahnya. Angkuh dan seolah berkata bahwa ia menangentah untuk kali ke berapa.

Pelajaran akan berlangsung saat guru Im berkata begitu halus menawarkan tempat duduknya untuk si Kim, tapi dengan aktingnya yang luar biasa bagus Taehyung berdalih sok tidak enak; dengan berkata sambil mendudukan diri di lantai, “Tidak, terimakasih, Ssaem. Saya di sini saja, tidak apa-apa.”

Jungkook sendiri dengan pasrah merosotkan bahunya berusaha tidak peduli, tapi penawaran selanjutnya dari guru itu adalah kemutlakan kurang ajar yang musti ia patuhi tanpa intrupsi.

“Yasudah, bagaimana kalau berbagi bangku dengan Jungkook? Kau tidak keberatan? Ganjil melihatmu duduk di ubin begitu.”

Lantas dengan senang hati Taehyung mengangguk, wajahnya sumeringah sedangkan Jungkook menganga tak menyangka bersama seluruh kawan kelasnya yang bergumam iri. Ingin protes saat si Kim melompat senang, pura-pura tertatih dan berakhir menempel duduk di bangku yang sama dengannya, tapi enggan tatkala mendapati tatapan sang guru begitu galak mewanti-wanti perilakunya.

Jungkook bukan golongan siswa pintar, dia sering bolos dan jarang mengerjakan tugas sekolah. Bukan siswa kaya dan tak begitu pandai bergaul, tipikal siswa biasa saja meski diam-diam lumayan banyak yang mengaguminya di sekolah—jelas, secara visual Jungkook termasuk yang di atas rata-rata. Tapi tetap saja, sangat-sangat berbanding bahkan dengan siswa yang bernotebene terjelek di kelas sebelah.

Jadi sepanjang pelajaran yang tidak pernah ia mengerti, otaknya benar-benar macet saat mendapati begitu serius Taehyung mencatat di buku tulis miliknya, tabiat si Kim karena selama satu bulan mengagumi Jungkook, ia tau betul siswa Jeon itu tak akan membuku kalau tidak disuruh sang guru yang mengajar.

Diam-diam Jungkook menelan ludah susah payah saat aroma maskulin Taehyung terendus indra penciumannya, pasti parfum mahal—pernyataan yang terlintas di kepala si Jeon, tanpa tau bahwa itu aroma alami feromon Taehyung.

“Aku tau kau tidak suka aku lebih lama di sini, Jungkook-ah. Jadi mari buat pilihan,” Taehyung bersuara tanpa mengalih fokus dari buku pun penjelasan pria di depan sana, si Jeon sendiri mendengarkan tanpa melepas pandang dari bagaimana ketampanan Taehyung terpancar dari ekspresi seriusnya. Dan Jungkook sekarat ketika tiba-tiba si Kim menoleh membuat wajah mereka terbelenggu begitu dekat, mengambil waktu ketika guru Im sibuk mencatat rumus di papan tulis, Taehyung bersuara begitu pelan dengan suara rendahnya yang mematikan, “Aku terus di sini sampai jam pelajaran terakhir, pakai seribu alasan termuktahir yang kupunya untuk guru-guru selanjutnya. Atau,” jeda, dengan sengaja ia meniup wajah Jungkook gemas ketika sadar si Jeon tak kunjung mengedip. Terkekeh sebentar saat menyaksikan betapa menggemaskannya siswa itu kini malah terus mengedipkan mata berulang kali, “Pulang nanti kuantar?”

.

.


“Serus?!”

Dengan angkuh Taehyung menggulung kedua tangan sembari bersandar di kursi, mengangguk sambil mengumandangkan wajah congkak menjawab pertanyaan histeris kawan-kawannya, “Yap! Sudah kubilang ‘kan? Aku akan mendapatkannya—kapan pun, hanya menunggu waktu.”

“Wah, daebak!” Hoseok yang kembali bersuara, mengelap pelipisnya pakai handuk yang tersampir di sebelah bahu; seiring tubuh tingginya menyandar di deretan loker belakang kelas—mereka baru selesai mengganti baju usai jam olahraga tadi. Ekspresi terpukaunya seketika berganti kala melihat begitu menyebalkan tampang Taehyung yang kelewat sombong, “Bukankah hari ini musti diapresiasikan? Seorang; Kim. Tae. Hyung. Baru sukses mengajak incarannya pulang bersama setelah lewat satu bulan?—sungguh luar biasa, Bung!”

Dan Mingyu menimpali sama menghinanya, “Itu pun aku yakin, pasti dengan paksaan dan desakan; mengingat bagaimana perangai Jungkook tiap hari.”

Namun dengan mood yang kini tengah bersahabat, yang dicemooh hanya mengumandangkan tawa bersama kawan-kawannya yang lain. Meski pada kenyataan mereka pun turut mencela dirinya.

Sampai Jimin bersuara sambil melepas earphone mahal dari telinganya, “Bagaimana kalau kita bertaruh?” membiarkan benda itu menggantung di leher ketika dengan tiba-tiba ia memajukan wajah sambil menyentak pergelangan ke meja di belakangnya (meja Taehyung), berkata mana kala obsidian sengit itu berbaur senyum arogan yang atraktif, “Kalau sampai minggu ini kau berhasil membikin Jungkook jatuh hati padamu, Europe travel kupesankan untukmu liburan nanti,” senyumnya makin mengembang snobis, “Kalau sampai minggu ini kau berhasil buat Jungkook jadi pacarmu, kubelikan Rolex yang kau mau,” jeda kala semakin maju wajahnya memangkas pada Taehyung, beriring sebelah tangan terangkat memutar kunci di telunjuk yang ia gali dari saku almamaternya, “Dan kalau sampai minggu ini kau bisa one night stand dengan Jungkook, Mersiku jadi milikmu.”

Hening mengudara setelah itu. Mereka menganga mendengar bagaimana si cebol Park begitu yakin dengan taruhannya, benar-benar tipikal Park Jimin yang suka membuang harta jika itu untuk menantang kawan-kwannya.

Tapi Taehyung tidak menjadi Kim Taehyung yang begitu suka tantangan, ketika dengan bringas menggeplak keras sebelah kepala si Park sampai sisi lainnya terantuk dinding di bawah jendela, “Bajingan,” bersuara dingin dengan mulutnya yang mengulum senyum kesal, “Kau pikir Jungkook apa, hah?” jeda, wajahnya kesal bersungut-sungut, “Travel, Rolex, Mersi. Aku bisa dapatkan dengan uangku sendiri—itu mudah, Sialan! Tapi Jungkook. Aku bahkan perlu satu bulan hanya untuk mengajaknya pulang sama-sama!” seketika hazel memukaunya terpasung isyarat kematian. Detik selanjutnya dengan ganas Taehyung menarik kepala Jimin yang masih di usap penuh rintih oleh si empunya, “Kau pikir dia lacur yang bisa dijadikan bahan taruhan?!” berteriak tidak main-main tatkala menggusak kasar kepala si Park sampai siswa itu berjengit heboh dan histeris, “Bangsat! Kau mau mati, hah?!” semakin kuat ketika kini Taehyung menjambak helai keperakan itu, “Aku baru kali ini begitu suka pada seseorang dan kau jadikan ini lelucon?! Kau kawan apa makhluk terkutuk yang terdampar di hidupku?!” semakin parah tatkala ia bangkit begitu gaduh dari kusinya, amat gemas pada Jimin dengan mengguncang-guncang kepala siswa itu kejam, “Jahanam! Sini kau—kuberi pelajaran sampai mampus!”

Sedangkan empat kawannya malah dengan bahagia mengabadikan momen ini pakai kamera ponsel masing-masing di tengah keterperangahan kawan-kawan kelas mereka yang menganga bingung bercampur iba pada si Park.

.

.


Pulang sekolah, siswa YaGook dibuat histeris saat mendapati Taehyung tak lantas balik ke kediamannya bersama rombongan kaum atas lainnya. Menunggu, bersandar begitu memperdaya di pintu belakang mobil jemputannya berhubung pelajar tak diizinkan mengendarai sendiri—tak peduli seberapa kaya pun dia.

Sedangkan Jungkook, sudah setengah jam ia terus mengintip dari jendela kelas. Mengamati Taehyung yang tak kunjung pergi meski kini dikrubungi siswi segitu banyak, “Eothokae? Bedebah itu, kenapa kukuh sekali, sih?” dengan gusar Jungkook kembali duduk di kursinya, lemas dan lelah bercampur padu beriring jantungnya berdegup kesal.

“Sudahlah, turun saja sana! Memang apa yang salah dari Taehyung?” itu Choi Hansol yang bersuara tanpa melepas pandang dari komik yang ia baca, membenarkan letak kacamata di pangkal hidung lalu melanjuti, “Dia sempurna, dan harusnya kau bersyukur dikejar lelaki sepertinya. Bukan malah kucing-kucingan begini!”

Di tempatnya Jungkook bersandar, mengerut kening tak seatensi, “Kau tidak mengerti, Choi. Apa yang bisa kusyukuri dengan keadaan seperti ini?” netranya berpendar menatap kosong papan tulis di depan sana, “Dia sempurna—dan itu masalahnya!” kemudian dengan secepat kilat menatap Hansol juga sosok Lee Jihoon sebagai sosok-sosok yang tersisa di kelas ini, “Aku cuma mau berpikir realistis di sini. Tidak kah kalian merasa aneh? Sosok yang sempurna itu … mengejarku? Bukankah ini ganjil?” jeda, netranya kembali menghadap depan, “Aku curiga, mungkin saja dia kalah taruhan atau bahkan sedang taruhan dengan kawan-kawan kayanya,” wajahnya mengerut kuatir bercampur marah juga kesedihan saat memangku dagu di kedua tangan yang terlipat di meja, “Dan aku yang jadi bahan taruhan itu?”

Pemikiran negatifnya makin bergerilya saat dengan santai Jihoon menanggapi tanpa melepas pandang dari jendela. Memperhatikan Taehyung yang mulai kebingungan di sana, “Setuju. Aku juga berpikir begitu dari awal,” netra siswa kelas lain ini memicing tidak suka, “Tenang saja, Kook. Kalau bandit itu benar-benar menjadikanmu bahan taruhan, kau punya aku yang bakal meninju wajahnya sampai giginya rontok.”

Di timpal Hansol yang tak lepas dari bacaannya, “Aku tidak mau berpikir jelek. Tapi kalau imajinasi kalian jadi nyata, kutelanjangi dia di lapangan sampai anunya kering.”

Dengan itu Jungkook tak kuasa menahan bahak hebohnya, seiring dua kawan pun turut tertawa bersamanya. Begitu merasa beruntung mendapati sahabat terbaik yang begitu menyayanginya sebagaimana ia menyayangi mereka.

Dan pertanyaan Jihoon usai gelak mereka reda membuahkan hening cukup lama. Sekedar si Lee menyuarakan, “Jadi?”

Maka beberapa menit setelahnya Jungkook menarik napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya sambil bangkit dari kursi. Berusaha percaya diri, “Oke! Kalau dia mau bermain-main, maka akan kutunjukan kalau aku bukan bonekanya disini!” lalu melangkah menuju ke mana Kim Taehyung masih menunggunya.

Meninggalkan Hansool juga Jihoon yang mengulum senyum tipis di balik sirat cemas di pendaran netra masing-masing, entah kenapa pengumandangan foretoken tiba-tiba muncul di selubung hati keduanya.

.

.


Segala kebimbangan Jungkook berakhir membuatnya terduduk kaku di kursi belakang mobil mewah, dengan Taehyung yang mengembangkan senyum puas di wajah tampannya.

Jungkook mengedar retia dengan wajah tetap membatu ke depan, dalam hati tak kunjung berhenti mengagumi betapa hebat bagian dalam mobil ini, begitu bagus dan keren. Jungkook percaya; harganya pasti luar biasa mahal.

Napasnya terhenti saat mobil mulai berjalan dan sebelah tangan melintasi depan perutnya, bersamaan aroma familiar memenuhi paru-parunya sampai sesak.

Debar jantungnya bergemuruh riuh saat sadar tubuh Taehyung sangat merapat di bagian kanan tubuhnya, mana kala ia mendelik, si Jeon merasa ada petir yang menghanguskan dirinya; tatkala menapati wajah Taehyung semakin mendekat ke hadapan wajahnya. Benar-benar dekat sampai Jugkook rasa apa bila ia memajukan sedikit saja wajahnya, bibirnya pasti bisa merasakan bagaimana tekstur pipi Taehyung. Itu menggemaskan, sumpah—dan entah kenapa Jungkook ingin coba.

Ia yakin kulit Taehyung pasti sangat-sangat halus.

Dan si Jeon hampir sinting saat tanpa dosa siswa di depannya malah menoleh membuat hidung mereka hampir bersentuhan. Berkata penuh cemooh dengan netranya yang berpendar sarkas, “Jungkook, kau mati? Demi Tuhan, aku tidak merasakan napasmu sama sekali,” kemudian menggoyang-goyangkan Bakoma yang ia ambil dari selipan di pintu sebelah si Jeon, ketika sadar sosok itu terbatu di tempat, “Jungkook?”

Maka Taehyung paham petul apa yang musti ia lakukan. Keberuntungan sendiri baginya bisa mengagumi wajah Jungkook dari jarak sedekat ini, menelisik begitu manis wajah si Jeon yang berpadu ketampanan kurang ajar.

Rahang tegasnya, matanya, hidungnya, bibirnya. Teramat sempurna dan Taehyung menginginkannya.

Menjadi miliknya dan hanya untuknya.

Jungkook tersadar, hampir memekik saat Taehyung melepas Bakoma yang ia pegang hingga menggelinding ke bawah mobil begitu saja, mencengkram pinggang Jungkook sambil kembali duduk namun sama sekali tak memperlebar jarak mereka.

Si Jeon musti menahan napas dalam-dalam saat Taehyung memajukan wajah sampai sisi telinga kirinya, menarik senyum pongah yang tak terlihat dan bersuara sangat seksi pun mendominasi, “Jungkook. Tidak mau merasakan sesuatu?” Jungkook tersentak ketika sebelah tangan si Kim begitu enteng melepas kemeja sekolahnya yang dimasukan ke celana, menyelusup masuk dan mengelus bawah pinggangnya penuh implikasi. Sedangkan tangan lain Taehyung menuntun lengan kanan si Jeon memeluk lehernya, “Biasanya aku tak mengizinkan siapapun menyentuh leherku—meski kekasihku sekalipun,” bisikan si Kim makin rendah ketika jemarinya semakin naik megelus sekitar pinggang Jungkook. Sial! Bagaimana bisa kulit remaja lelaki selembut ini?

Seiring berfantasi, Taehyung melanjutkan sembari mengecup lembut cuping telinga si Jeon, “Toleransi untukmu, Kook. Kau bahkan boleh menjamah leherku kalau mau.”

Reflek, Jungkook memeluk siswa di depannya dengan sebelah tangan yang memang sudah bersiap di sana, menenggelamkan wajah pada bahu Taehyung saat si Kim merengkuh pinggangnya dari dalam baju tiba-tiba, mencengkram sisi lain pinggang Jungkook beriring kembali meraba permukaan kulit sosok itu usai memastikan bahwa si Jeon tak akan melepas mangutannya—Taehyung pastikan dari jemari kiri Jungkook yang mencengkram bagian dada almamaternya begitu kuat.

Jungkook menahan sesak di paru-paru saat berusaha menahan desau yang bisa keluar kapan saja, menikmati dosa dari bagaimana hanya dengan permukaan tangan, Taehyung mampu membuatnya mabuk dan kepayahan, “Taeh—”

Dan Taehyung hampir kelepasan hanya karena mendengar namanya begitu merangsang terkuar dari celah bibir si Jeon. Maka dengan segenap kewarasannya yang berusaha kembali ia pupuk, Taehyung mengulum daun telinga Jungkook sebagai pelampiasan, bersuara gamblang akan otoriter yang mutlak dituruti, “Tutup mulutmu. Jangan bersuara, apa lagi mendesah.”

Maka Jungkook tidak tau ada setan dari mana yang merasuki raga tak berdosanya. Menuruti keinginan si Kim tanpa banyak bicara, meski di selubung hati ia merasa kalau hal ini benar-benar salah dan menakutkan. Belum lagi otaknya yang bergerilya pada pemikiran sang supir di depan sana.

Apa pria itu sadar apa yang mereka lakukan di sini?

Tapi putra bungsu keluarga Jeon ini yakin dirinya sudah gila sampai ke ubun-ubun saat Taehyung menjatuhkan kepala ke pundaknya, mengendus dagunya tanpa menghentikan elusan yang kini meranjak ke punggung, membuat seragam yang ia kenakan tersingkap semakin tinggi.

Maka Jungkook benar-benar sudah gila ketika aroma feromon si Kim terus menggodanya untuk membalas, jadi dengan ragu Jungkook sedikit mengangkat kepala sekedar menempelkan bibirnya di perpotongan leher Taehyung.

Hingga menjadi waktu pergerakan si Kim terhenti di punggungnya, hidung siswa itu pun tak lagi mengendus—terhenti benar-benar di bawah dagu Jungkook.

Dan si Jeon tersentak ketika tiba-tiba Taehyung mengeluarkan tangan dari dalam seragamnya, serta menegapkan duduk untuk mencengkram kedua bahu Jungkook sampai obsidian mereka bersibobrok intens, “Jungkook,” netranya berpendar pada kilatan gairah yang membara. Menelisik si Jeon dengan sudut bibirnya terangkat congkak, “Kau benar-benar akan menjamah leherku, hah? Menanamkan bercak keunguan dan memberi tau semua orang kalau aku milikmu? Begitu?” retinanya mendingin seiring ia kembali memangkas jarak antar wajah mereka. Begitu penuh akan cemooh dan menyesakan. Maka Jungkook sama sekali tak menyangka saat Taehyung tiba-tiba mengudarakan ‘Pft’ keras menahan tawa, kemudian berhisteria heboh, “Kalau begitu kenapa lama sekali?! Kau seharusnya lakukan itu dengan cepat! Kau tidak tau Ahn ahjussi sudah memata-matai kita dari tadi?! Kau tidak perlu kuatir padanya, demi Tuhan, dia akan tutup mulut tenang saja!” Jungkook melirik ke depan dan mendapati pria itu menoleh memberikan kerlingan bersahabat padanya. Lalu tanpa diduga Taehyung melepas dua kancing teratasnya dan lantas menelengkan kepala memberi akses si Jeon menjamah tubuhnya dengan leluasa. Waktu di mana remaja itu bersuara sambil memejamkan mata menunjuk tulang selangkanya yang tan menggoda, “Lakukan sampai kau puas Jungkook, aku ikhlas.”

Menjadi waktu geplakan kencang mendarat di sebelah kepalanya sampai sisi yang lain membentur belakang jok di sebelah supir. Seketika membuat Taehyung ingat bagaimana nyeri yang dirasakan sang sahabat siang tadi. Si Kim mengusap kepalanya yang berdenyut, sedangkan pria yang melihat kejadian itu dari spion tengah mobil; menganga membayangkan bagaimana sakit yang didera tuan mudanya.

Sampai ketika Jungkook berteriak dongkol, “Mesum biadab! Turunkan aku sekarang!”

.

.


Untuk kesekian kali, Jungkook tak mendapat keinginnya dari Taehyung. Si Kim sama sekali tak membiarkan ia turun dijalanan begitu saja, meski si Jeon berubah barbar pun begitu menyusahkan.

Sampai mereka tiba di depan kediaman Jungkook dengan jalanan depan yang bisa dilalui mobil. Sebuah rent house sederhana di kawasan distrik Guro, si Jeon dan keluarganya tinggal di lantai dua dengan tanjakan curam sebagai jalan; persis di depan pagar rumah ini.

Taehyung keluar dari mobilnya menyusul Jungkook yang buru-buru kabur, menyisakan paman Ahn di dalam sana menggeleng, semari menahan tawa melihat tuan mudanya begini beda.

“Jungkook,” buru-buru Taehyung mengamit pergelangan siswa Jeon itu.

Lantas mendapat delikan tajam dari retina Jungkook yang menyala kesal, belum lagi teriakan marahnya, “Apa?!”

Seketika si Jeon mengernyit bingung ketika mendapati Taehyung kini termangu, mendongak menatap kontrakan tiga lantai di depannya dengan mengawang-awang. Mulutnya sedikit menganga seiring mata yang sesekali mengerjap, otaknya bergerilya memikirkan bagaimana Jungkook tumbuh di kediaman lusuh seperti ini.

“Ini,” jeda, hazelnya kini menap siswa Jeon itu, “Rumahmu?”

Seakan tau apa yang dipikirkan si Kim, dengan mata yang langsung menyipit sinis ia mendongakan wajah kurang ajar, berusaha meremehkan Taehyung dari retinanya, “Iya. Kalau iya kenapa?” entah apa yang salah, Jungkook hanya ingin marah-marah saja sekarang, “Baru pertama kali lihat rent house seusang ini? Sekarang kau jijik padaku? Mau mencemoohku? Membullyku?—terserah! Aku tidak peduli,” kemudian dengan dongkol menunjuk rumahnya di atas sana, “Asal kau tau, rumah begini masih luar biasa layak dan aku masih terhormat di kalangan siswa-siswa YaGook. Dengan rumah seperti ini, yang pasti kau pikir gubuk derita!”

Maka detik itu Taehyung mengulum bibir seiring netranya lamat-lama turun ke aspal. Kalau boleh jujur, ia memang sempat berpikir begitu.

Tapi seketika enyah saat menyadari Jungkooknya hidup bahagia di dalam sana, hingga tumbuh menjadi remaja super positif yang luar biasa memukau.

Dan napas si Jeon harus kembali terhenti saat dengan serius Taehyung mensibobrokan retina mereka tanpa pencemoohan seperti biasa.

Manjadi luar biasa tampan dan kelewat tampan.

“Kau benar. Aku yang salah, tempat tinggal bukan segala-galanya yang bisa membangun karakter seseorang. Kau tumbuh dengan baik Jungkook, benar-benar baik.”

Tapi balasan dari Jungkook adalah pendaran netra yang menyalak begitu dingin, “Jalang manja sepertimu tau apa?”

Maka Taehyung menarik sudut bibir tak terprovokasi, “Sudah kukatakan, aku bukan jalang—yang di hotel bintang lima atau yang dipinggir jalan. Nope—” jeda kala dengan lembut cengkraman di lengan Jungkook perlahan turun hingga begitu hati-hati ia menautkan jemari mereka penuh perasaan, “Terserah kalau kau menganggapku anak manja, tapi demi Tuhan, Jungkook—aku menyukaimu. Tidak peduli apapun latar belakangmu, aku menyukaimu.

“Berhenti berkata seperti itu. Apa begitu mudah untukmu menyatakan perasaan, hah? Terlebih pada orang yang sudah berkali-kali nemolakmu.”

“Kau beda—”

“Semua orang berbeda-beda, Kim! Tidak ada yang sama, meski mereka kembar identik sekalipun. Jangan gunakan itu sebagai alasan—basi.”

“Kau yang begini membuatku makin tertarik, Jungkook—”

“Tapi aku tidak tertarik padamu. Sama sekali. Jadi pergi saja, jangan ganggu hidupku. Kau punya kasta yang lebih sebanding denganmu—”

“Tapi aku maunya kau!”

Itu,” dengan kesal Jungkook menyentak tangannya sampai tautan mereka terlepas kasar. Netranya berpendar isyarat amarah yang membumbung, “Kau yang begitu—tidak pernah mendapat penolakan untuk semua keinginanmu ‘kan? Kau tidak pernah susah. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Jadi ketika seseorang menolakmu—kau begini,” ada percikan api yang membara di obsidian si Jeon yang sosok itu sendiri berusaha tutupi agar tak membakar onixnya, membuat pandangannya hangus dan melebur penuh emosi, “Perasaanku, bukan barang. Afeksiku, bukan mainan. Dan aku—kau tidak bisa memaksaku, Kim. Aku bisa membencimu untuk ini.”

Namun yang keluar dari celah bibir Taehyung begitu tenang ditengah urgensi di kepalanya, mimiknya datar meski dalam hati ia frustasi, “Kau tidak akan membenciku, Jungkook. Meskipun iya, kau tidak akan menunjukannya.”

Sampai tak kuasa Jungkook melayangkan sirat penuh cemooh bersama gigi-giginya yang menggerit mengejek, pun beriring satu alisnya terangkat sarkas ia membalas, “Bagaimana bisa kau yakin?”

Dan tanggapan Taehyung entah kenapa membuatnya termangu di tempat, seketika membatu. Bahkan tergugu sekedar mengudarakan pengalihan lain ketika begitu dalam si Kim menatapnya, “Karena kau Jeon Jungkook,” waktu di mana jeda menudara disambut senyum tipis Taehyung terukir teramat beda dari smirk congkaknya, lalu berkata: “Dan aku menyukaimu.”

Menjadi waktu dimana kaki-kaki Jungkook serasa lemas dan tak lagi berpijak, mengudara bersama angan yang berfantasi ketika netranya terbelenggu pada hazel tentram Taehyung. Membuat emosinya sadar, bahwa tak ada yang salah di antara mereka selain ego pun rasionalitasnya yang terlalu tinggi. Membuatnya mengawan namun begitu sukar untuk melambung lebih jauh.

Karena Jungkook terlalu takut untuk jatuh.

Tapi kelanjutan dari pernyataan Taehyung membuatnya berpijak di atas udara dengan malaikat kematian yang tak mengizinkannya buat terjatuh. Menuntunnya untuk percaya hingga ketakutannya mengikis pelan-pelan.

“Kau hanya perlu percaya padaku, Jungkook. Beri aku kesempatan, dan aku bersumpah tidak akan menyakitimu.”

Membimbing secuil debu dari serpihan hatinya sukses mengukir nama Kim Taehyung hingga bermuara dan terperi kuat di dalam sana.

.

.

.

.

.

.

.

.

©Boom! Bah!—LOVE!
I : Jungkook, don’t hate me!

tbc.


Jo Liyeol Curhat Timing!


Uyeee! Dedek nepatin janji nih =w= Adududuh maaf banget yeth kalo jadinya begindang(?) Aku tuh tadinya mau bikin series setnya, jadi kisah tentang perjuangan Taehyung dapetin Jungkook jadi drabel-ficlet yang PWP gitu =w= Eh tapi ga tau kenapa malah keterusan ngetik jadi begini TT Yaudah kedepannya lanjut jadi Multi chapter aja dah =w= Muehehehe maafkan kelabilan dedek yang syuper akut inihhh *lambai tisu*

Other pair mungkin bakal kutongolin chapter-chapter depan =w= jadi, waspadalah! Waspadalah!

Btw; kubikin ini dua hari doang, jadi maaf banget kalo banyak typo dan berantakan kaya otaknya si Boo =w= *rajam dedek pake sempak*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s