Fangirlable ©slide two.

Jo Liyeol’s present ©2017

Fangirlable

— i will always smile like an idiot 

[ ©slide two. ]

.


2012.

“Hey mama! Ijen naege gidaedo dwae eonjena yeope!”

(Hey mama! Sekarang kau bisa bersandar padaku, aku kan selalu di sisimu …)

“Hey mama! Naege akkimeobsi jusyeossgie beotimmogieossgie!”

(Hey mama! Karena kau telah membantuku dan mendukungku …)

“Hey mama! Ijen adeulnaemi mideumyeon dwae us-eumyeon dwae!”

(Hey mama! Sekarang kau bisa percaya pada anakmu ini dan tersenyum …)

“Hey mama!—hey mama!”

Pagi itu Jimin menoleh bersama kawan-kawan kelasnya, ikut mencari dari mana sumber rapp asal-asalan itu berasal. Liriknya mungkin benar, tapi tempo dan beatnya itu—ya Tuhan … tidak lebih baik dari gonggongan monyet.

Maka para murid ini tak lagi kaget ketika siswi cantik dengan rambut terurai panjang, dandanan modis berlebel serba Hope-J muncul dari pintu depan kelas bersama jiwa hiperaktifnya.

“Yo! Yo! Istri masa depan Hoseok oppa datang—yo!” suaranya menggema nyaring membuat beberapa siswa yang terlelep seketika bangun dengan sentakan pelan. Lalu tanpa peduli putri bungsu keluarga Jeon ini kembali berhip-hop ria, “Hey mama, i’m sorry mama—!”

“Ya Jeon Jungkook!” rapping gadis SMU itu tersela atas terakan jengah salah satu kawan kelasnya, “Bisa tidak usah cari masalah pagi-pagi begini? Sekali … saja?” suara Min Yoongi menggema sesaat usai mengangkat kepala dari tundukan di atas lipatan kedua lengan. Siswa seputih susu itu duduk di pojok kelas persis di belakang tempat duduk Jimin. Mendengus kuat-kuat, picingan matanya mendelik kesal pada Jungkook yang melangkah sambil terus bersyair.

Tanpa dosa gadis itu mengacuhkannya selayak kotoran hidung, berhenti di meja siswa lain yang duduk dua langkap di depan tempat duduknya sendiri berada, “Seokmin-ah! Bawa barangnya?”

Si pemilik nama mendongak dari kesibukan menatap ponsel, “Surely,” tanggapnya ramah dengan sebelah alis naik. Sesaat, sebelum sedikit menunduk mengambil sesuatu dari dalam ransel di gantungan kecil sisi meja, lalu menyerahkan sebuah kotak pada Jungkook yang lantas disambut girang oleh si Jeon, “This—delapan belas ribu enam ratus won.”

Jungkook mengernyit, langsung mendongak menatap Seokmin lekat-lekat, “Aigoo, mahal sekali. Tidak ada diskon?”

“Hei, hei! Aku jual sembilan belas untuk orang lain,” siswa Lee ini menyahut, wajah tampannya tampak begitu meyakinkan.

Tapi balasan pernyataan itu adalah aegyo sok manis si Jeon—”Ah … Seokminie, ayolahJebal juseyo …,”—yang sumpah mengerikannya kelewat batas.

Jadi sekedar menyelamatkan retinanya dari pemandangan tak senonoh, Seokmin menghela napas putus-putus, dan berakhir mengalah dipenghujung kesabaran, “Kugenapkan delapan belas, itu karena kau langgananku.”

Menyentak sebelah tali ransel berlambang logo besar dengan tulisan abstrak yang terbaca Hope-J di permukaannya, Jungkook kembali memampangkan aegyo menyeramkan, “Tujuh belas?”

Peduli setan kalau itu tidak layak tonton, jiwa penjual Seokmin tak akan membiarkan ini begitu saja, “Tujuh belas delapan ratus,” meski netranya kalang kabut mencari pemandangan lain.

“Tujuh belas!” dan Jungkook lebih keras kepala sebagaimana pembeli di toko obral malam hari. Toko sempak.

Membuat wajah tampan si Lee mengukir gestur keruh, “Please, Jeon, aku juga cari untung. Tujuh belas lima ratus.”

Namun gadis ini tetap pada pendiriannya, “Tujuh belas!”

“Tujuh belas tiga ratus—finally!” pernyataan telak yang di keluarkan Seokmin sebagai usaha penutupan debat terakhir mereka.

Angan-angan berhasil, pernyataan siswi di depannya lebih telak dan final, “Tujuh belas, atau aku adukan ke Kim ssaem kalu kau memanggilnya perjaka tua selama ini?!”

Yang sontak mengundang pekikan tertahan Seokmin sebagaimana para perawan di konser tunggal Hoseok Jung—”Shit! Oke, tujuh belas!”—meski berakhir dirinya menggerutu selayak ibu-ibu yang anaknya menghamburkan ribuan won di sana.

Puas pada argumennya yang menang, senyum kotak begitu lucu merekah di wajah cantik Jungkook. Iseng, sedikit maju gadis itu membungkuk, sekedar membisikan kalimat gaib teruntuk si Lee, “Enam belas lima ratus?”

Hanya buat mengundang amukan Seokmin untuk menatapnya nyalang di puncak kewarasan yang nyaris terkikis musnah, “Fuck you!”

Dan berakhir Jeon Jungkook yang terbahak begitu senang pagi ini. Memeluk kotak di tangannya berbinar-binar sekali.

“Apa itu?” Jimin angkat suara, sesaat ketika Jungkook mendudukan diri di barisan kursi sebelahnya. Kening si Park hampir bertaut menatap barang di tangan kanan kawannya yang terbungkus rapih.

Dibalas gamangan senyum manis lebih dulu dari siswi itu sebelum menanggapi antusias, “YNWA. Album baru Hoseok oppa!”

Mata sipit Jimin membola tak menyangka, mulutnya nyaris menganga menelisik figur kawannya. Berkata setengah yakin sambil menggeleng kepala heran, “Astaga … Kook-ah. Kau keluarkan tujuh belas ribu won hanya untuk kaset?” gelengan di kepalanya semakin kencang beriring mulutnya yang makin menganga. Karena dirinya (bahkan anak-anak sekelas) mendengar pasti bagaimana debat prahara si Jeon versusSeokmin tadi, “—Ya! Otakmu ke mana? Sudah berapa uang yang kau hamburkan cuma-cuma sekedar membeli album, DVD atau … underware apalah itu.”

Seketika mengundang kerucutan sebal di bibir Jungkook, dengan tak terpukau si Jeon memutar bola mata jengah, “Fans wear, Dude,” melepas tali tasnya, ia menggantung ransel itu ke sisi meja.

“Ya, ya. Terserah,” dan Jimin benar-benar tidak mau tau dari bagaimana caranya ikut memutar bolamata malas, “Intinya kau gila.”

Namun balasan Jungkook menjadi sangat-sangat tidak penting ketika dengan amat berbinar ia merekahkan senyum bahagia, lalu kembali memeluk erat-erat kotak yang bahkan belum dibuka isinya sambil memejam mata, “Jim, kau tidak tau rasanya ketika hatimu jatuh untuk benar-benar mencintai seseorang. Sensasinya itu—lordhe’s fucking shit! Aku hampir sinting cuma dengan mengingat suaranya!” pekikan si Jeon kembali membangunkan Yoongi dan beberapa siswa yang telah kembali tertidur di tempat masing-masing.

Maka dari itu Jimin menanggapi lebih santai, setelah berjengit; hampir terjungkal dari tempatnya, “Kau memang sudah sinting, berapa kali sering kubilang ‘kan? Kau bahkan gila,” sambil mencibir sarkas tanpa peduli pada anak perempuan itu yang bersungut-sungut sebal.

Hanya emosi sesaat yang mengerubungi Jungkook, ketika nyatanya senyum merekah kembali ia pampangkan begini cantik, persetan meski telah berkali-kali Jimin terus mengatainya terjangkit gangguan jiwa, “Brengsek, jangan bilang begitu pada kawan sendiri, Man. Aku hanya terlalu mencintai Hoseok oppa dan segala tentangnya.”

Jimin menghela napas berat, sudah terlalu bebal ia berdebat begini susah dengan Jeon Jungkook. Yang pada akhirnya semua orang pun tau, gadis itu akan selalu menang jika beradu argumen dengan siapa saja; berbekal, asal itu tentang Hoseok oppa-NYA. Jadi dengan senyum manis hingga yang terpampang mengerikan, Jungkook akan bicara selicin belut hingga tak ada satupun orang yang dapat menangkap dan membalikan argumennya. Segila dan setidak waras apapun itu.

Ketika Jimin tak menanggapi dalam beberapa detik terakhir, Min Yoongi menengadah dari posisi absolut yang tidak lagi membuatnya mengantuk. Berinisiatif menjadi pendebat selanjutnya untuk mengadu Jungkook yang kini menunduk meletakkan hati-hati benda yang dipindah tangan Seokmin padanya, usai mengecupnya beberapa saat.

“Nah, itu yang membuatmu dibilang gila,” Yoongi memulai dengan sarkastik, nadanya mencemooh seperti biasa prangainya terlihat tiap hari. Mengundang atensi gadis itu untuk menoleh, beserta Jimin yang turut menghadap belakang—menatapnya, “Fall in love pada orang yang tidak kenal denganmu. Buang-buang uang, buang-buang waktu. Selalu tertawa-tawa sendiri dalam kelas—kadang heboh minta dihajar, jiwamu jadi absolut tidak tau malu kalau sudah menyangkut tentangnya; suka teriak-teriak tiap pagi dan rusuh sendiri. Jangan lupa kebiasaan tersenyummu yang kadang mengerikan—sumpah. Tersenyum lah di tempat dan waktu yang tepat, bukan tiap saat! Kau malah mirip psikopat sinting kalau begitu. Dan aku paling tidak kuat kalau kau sudah berisik bilang ke semua orang akan jadi istri masa depannya Jung … Hasok, Hosuk, He—He; he, he … ah! Heseok. Iya—itu, dia sadar kau ada dan hidup di dunia ini pun aku ragu.”

Seketika gadis itu mengatupkan bibir rapat-rapat. Mungkin memang benar apa yang remaja itu bilang. Tapi atas sebab itu lah Jungkook menatap dalam-dalam sekembar obsidian Yoongi, yang terasa sehalus beludru, namun tajamnya melebihi belati—tidak lebih baik dari mulut pedasnya, “Sial,” itu kata pertama yang Jungkook ucapkan, menjadi tersihir pada baris terakhir kalimat si Min yang menghujam jantungnya tepat dan serampangan. Namun kuluman senyum bodoh hariannya kembali terukir tatkala otaknya mencerna keseluruhan pernyataan Yoongi, “Semengerikan itu aku?”

Yang mengundang si pemberi kata-kata serta sosok di depan mejanya menggangguk serentak.

“Yap! Demi tinggi Min Yoongi yang cuma seinci, bahkan itu hanya segelintir yang bisa bocah antagonis ini definisikan.”

Jawaban Jimin membuahkan satu geplakan kencang dihadiahi ke puncak kepalanya, sangat-sangat antusias, “Bangsat,” Yoongi mencebik berlanjut kembali menatap Jimin sambil menoyor pelipis si Park, “Ya, ya. Dan demi anunya Park Jimin yang tidak sampai seibu jari, kata-kata bocah bantet ini benar. Itu hanya sedikit yang bisa kujabarkan.”

Si Jeon sendiri mengabaikan Jimin yang meracau sambil mengusak ganas puncak kepalanya. Ia diam sesaat sambil menerka-nerka kebenaran di balik perkataan dua kawannya (yang sekarang sedang ribut saling cela). Sesaat, sebelum cengir kotak si Jeon kembali menganga lebar, “Biarkan saja, selama itu untuk oppa-ku aku tidak masalah. Dan namanya Jung Hoseok, omong-omong,” sukses menghentikan cek-cok berisik kedua siswa di sana.

Mengakibatkan Yoongi serta Jimin tak lagi paduli pada atensi masing-masing, berbalik mendongak menatap Jungkook tiba-tiba dengan kekesalan mutlak di pendaran retina keduanya, “Motherfucker!”

Sambil mengacungkan jari tengah tinggi-tinggi.

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s