Fangirlable ©slide three. 

Fangirlable

Jo Liyeol’s present ©2017

Fangirlable

— i will always smile like an idiot 

[ ©slide three. ]

.


2013.

Park Jimin masih ingat betul, tak pernah satu haripun ia melihat Jeon Jungkook diselimuti sendu dan duka.

Bahkan ketika sosok itu diteriaki guru untuk berdiri di depan kelas atau keluar selama jam pelajaran penuh. Menjadi begitu urakan setelah terlibat live fanwar dengan Boo Seungkwan, anak kelas sebelah yang mendedikasikan diri sebagai S-Coups fans—idol tersejajar Hoseok Jung. Maupun datang di suatu pagi dengan rambutnya yang biasa tergerai panjang atau tergelung berubah jadi potongan sebahu yang asal-asalan, wajahnya bengap serta pergelangannya terpapar luka gores samar kebiruan, lingkaran hitam terpetak di sekitaran matanya yang membengkak sembab—namun senyum kotak yang biasa ia pampangkan tiap hari tetap merajai air mukanya.

Dan semua anak-anak sekelas sadar, bahwa celana training yang Jungkook pakai hari itu di dalam roknya, adalah cara yang ia gunakan untuk menutupi memar lain di sana—terbukti dari cara berjalan si Jeon yang terseok-seok.

Maka mereka tidak lagi perlu bertanya apa yang terjadi, karena seluruhya paham, bahwa Jeon Jungkook usai dipukuli habis-habisan malam kemarin.

Karena sebelum panorama ini terpampang, adalah hari di mana ayahnya datang memenuhi panggilan Kim Namjoon.

Ya, Park Jimin masih ingat ini dengan sangat baik. Jeon Jungkook tipikal perempuan kuat dan ceria, dia tidak suka menangis apa lagi marah-marah.

Kecuali jika itu berkaitan dengan Hoseok Jung tercintanya.

Maka betapa terperangahnya si Park ketika mendapati gadis itu berteriak emosi di depan seseorang, menunjuk-nunjuk wajah sosok itu dengan kurang ajar, belum lagi cara tatapannya yang menyalak kesal luar biasa.

27 Oktober.

Catat ini sebagai sejarah. Karena untuk kali pertama, Jimin akhirnya bisa melihat sentimentil si Jeon membara begini nyata.

Hari itu liburan di penghujung kelas tiga, ia dan Yoongi mengajak Jungkook buat karaoke dengan kawan-kawan mereka dari sekolah lain, sebagai pemanis kata si Min, sebab yang ikut ke sana cuma anak laki-laki. Meski keduanya tau Jungkook tidak bisa dikategorikan sebagai perempuan di sedikit-banyak kesempatan.

Sementara ia masih terbatu di tempat, Yoongi sudah menganga lebar setiba di belakangnya. Mereka baru sampai di pintu masuk kafe omong-omong. Dan mendapati kawan lain keduanya dari DMN Akademi tengah terperangah bingung, menyaksikan teman sekolah mereka sedang di maki-maki gadis manis—dami Tuhan hanya membuat anak-anak itu keheranan, mesti membela atau mendorong kawannya buat melawan balik.

Oke, Jungkook memang kelewat berani buat siswi seusianya.

“Jungkook-ah!” langkah Yoongi menghentak nyaris terburu, berjalan cepat-cepat disusul Jimin yang mengekor.

Gadis itu tak menggubris sampai si Min berhasil menarik pergelangan atasnya buat mundur. Ini tidak bagus, terlalu banyak orang yang melihat, tapi sialnya Jungkook sama sekali tidak peduli.

“Taetae, kau apakan uri Jeonggukie, hah?” Jimin menuding selepas itu, mengarahkan laser tajam pada yang dimaksud—sebab ini kali pertama ia melihat si Jeon emosi. Maka tidak ada fakta lain, kecuali kawan lelakinya duluan yang mulai prahara.

Kim Taehyung, remaja itu menunjuk dirinya sendiri. Terperangah bukan main lantas menggeleng cepat, “Tidak aku apa-apakan—sumpah!” dengan kasual ia menjawab snobis, “Cewek gila ini saja yang berlebihan.”

Membuat Jungkook mendelik benci karena itu, “Wah-wah! Sialan sekali,” ungkapnya terpukau sambil mendelik tak menyangka. Tanpa sadar menjadi benar-benar marah dengan usaha melepaskan diri dari belenggu Yoongi, “—brengsek, siapa yang kau sebut gila hah?! Bajingan jelek—kemari kau! Kubuat rontok rambut di kepalamu!”

Taehyung mendecak dari sudut bibir, “Nah ‘kan, dia begitu lagi.”

“Hei-hei—sudah! Banyak orang, tau? Duduk dulu, lalu bicarakan baik-baik kenapa sebenarnya. Oke?” Yoongi menjadi penengah diusahanya mengendalikan gerakan tubuh Jungkook yang bersikeras mencakar wajah si Kim.

Pada akhirnya gadis itu menurut, karena Jimin ikut berkata demikian. Luar biasa kesal ketika menerima kenyataan, bahwa anak-anak ini adalah kawan dari dua temannya. Yang bakal menghabiskan satu hari penuh dengannya pula.

Bagus, ini bukan pilihan cerdas buat dituruti. Ingin saja ia buru-buru pulang—kalau Yoongi tidak lebih dulu menikamnya lewat sudut mata.

“Jadi … kenapa?” si Park memulai.

Seungjae yang mengambil jawab saat mendapati Taehyung tak minat buka suara, “Yah, kata Taengie tadi—bukannya aku membela karena dia kawanku. Tapi memang tidak apa-apa, hanya sedikit salah paham dan miss komunikasi.”

Taehyung sendiri cuma mengangkat kedua alis apatis, “Nah.”

Jungkook memberengut tak seatensi, “Hei! Inguk KW super! Bagian mana yang menurutmu hanya sedikit salah paham dan miss komunikasi, saat si jelek ini mengolok-olokku berdandan persis anak bocah, hah?! Terus dengan kurang ajar menyeburku cewek gila! Mananya yang salah paham dan miss komunikasi?!”

Mereka semua saling pandang sebab tuntutan itu (kecuali Taehyung yang tergelak sinis, dan Jungkook yang mendecih sarkas), menjadi memapah bingung di otak masing-masing, sebab si Jeon benar dengan segala emosionalnya saat diperlakukan demikian oleh si Kim. Sisi lain, Taehyung juga tidak salah, sebab hari ini, dandanan gadis itu terlalu kekanakan buat siswi SMU. Atas dress vintage selutut tak berlengan, warna biru pastel dengan kerah lebar berpita pink terang, rambut sebahunya tercepol di atas kepala pakai lilitan ribbon biru dongker, dipadu kaki bersihnya yang tanpa cacat; mengenakan flat shoes baby pink. Gubahan itu melekat di figurnya, lebih kepada menjadikan ia anak perempuan terlampau imut ketimbang cantik diusia nyaris sembilan belas.

—dan ini kekanakan sekali menurut Taehyung.

Maka mengisi hening dari kawan-kawannya yang lama berpikir, si Kim mendecak iseng, “Hei, aku cuma bicara jujur. Tidak menuding macam-macam kok, begitu saja tersinggung—mainmu kurang jauh!” obsidiannya bertumpu langsung pada Jungkook. lamat-lamat memangku dagu di sebelah tangan, mulai menikmati bagaimana wajah dongkol si Jeon yang menggemaskan, “Ini jadi besar karena kau yang terlalu sensi. Lagi pula … cowok waras mana yang terima dimaki-maki anak perempuan? Hah? Wajar ‘kan kalau aku menyebutmu cewek gila—toh, aku tidak merasa bersalah.”

Jungkook memberenggut takjub menanggapinya, “Oh my GodSerius si jelek ini sungguhan cari perkara—kau pikir alasanmu cukup buatku? HAH? Jangan belagak sok inosen—”

“Terus kau maunya apa? Aku minta maaf? Oke— joesonghamnidamianhamnida, maafkan aku—demi Tuhan, tidak bermaksud buat kau jadi marah-marah begini, Nona,” jeda sebentar dan gimik jailnya berubah cuek, “Tapi kurasa kau memang sungguhan gila—atau buta?” latas menunjuk wajahnya sendiri dengan kelewat percaya diri, “Wajah begini kau sebut jelek? Otakmu nyasar ke mana, hm?” nyaris Jungkook bangkit dari kursinya buat benar-benar mencakar habis muka Taehyung, kalau remaja Kim itu tidak lebih dulu megulurkan tangan yang bertumpu siku di meja, “Kim Taehyung—bukan si jelek atau apalah. Maafkan aku, dan kita damai?” dengan tangan lainnya ia membuat V-sign di sisi kepala, “Janji tidak bakal mengataimu sembarangan lagi. Mereka yang jamin, oke?”

Pilihan terakhir ada di tangan Jungkook selepas si Kim menunjuk asal kawan-kawannya pakai ibu jari. Membuat anak lelaki lain di sana saling padang beberapa saat, seketika mendelik, fokus menghakimi siswi itu yang tak kunjung meraih uluran Taehyung.

Maka mau tak mau, meskipun tidak sudi ia menggerakkan jemarinya yang terkepal di atas meja. Menyambut tangan remaja di depannya, dan merasakan nyaman dari telapak besar yang menggenggamnya hangat, “O-oke.”

Jungkook pernah dengar mitos omong kosong dari kakak sintingnya, Seokjin. Kalau seorang wanita berdebar ketika menggenggam jemari laki-laki, maka ia bukan jodohnya. Namun beda urusan, kalau sang gadis merasa nyaman dan benar dalam pangutan mereka.

yeah, you’re fucking damn Kim Taehyung!

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s