Fangirlable ©slide one.

Jo Liyeol’s present ©2017

Fangirlable

— i will always smile like an idiot 

.

[ ©slide one. ]

.


2012.

Namgu, Gwangju, South Korea.

Gelak tawa menggema seisi kamar, terkuar bebas dari celah bibir Jungkook yang berbaring menatap langit kamar dengan binar penuh cinta. Sepasang obsidiannya berpendar ceria, menelisik paras seseorang yang terpampang pas kitaran dua meter di depan wajahnya.

Senyum manis tak kunjung luntur sedari awal ia berandai-andai, berimajinasi mengenai sosok itufigur dalam poster tiga kali empat meter, yang ia tempel tepat pada langit-langit kamar di atas ranjang.

“Oppa! Fanmeet tadi pagi ituastagaaa!” sebelah tangannya berburu, menjamah bantal terdekat sekedar untuk dipeluk begitu gemas, “Bibirmuya Tuhan! Aku tidak kuat—aaa!” setengah waras gadis itu berteriak histeris sambil menenggelamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal, tak luput rasa emosional tertentu membuat kakinya pun menendang abstrak hingga beberapa boneka serta soft minifan di bagian selatan kasur jatuh ke ubin.

Cengir sumeringah tampak mekar ketika ia mendongak, kembali menatap gambar dua dimensi sosok tampan di sana.

Dan sesaat sebelum seluruh kewarasannya hilang sempurna, “Jungkook! Berhenti tertawa-tawa sendiri dan cepat turun!” suara melengking wanita paruh baya itu menggema nyaring, hingga tembus ke dalam kamar putri bungsunya. Seketika menghentikan gelegak rusuh sang gadis, meski senyum merekah tak turut luntur dari petakan wajah cantiknya.

“Aye-aye, Ma!”

.

Setengah berlari Jungkook menuruni tangga, melangkah lebar menuju meja makan. Menarik satu dari empat kursi berhadapan dua bandung dua di sana, tepat di sebelah Jeon Seokjin yang sudah sibuk sendiri dengan nasi dalam mangkuknya. Menyeruakan bokongnya manis, gadis itu pun mulai giat berkutat dengan nasi dan beberapa lauk pada perukaan meja.

Hening sesaat sebelum bunyi ‘ting’ terdengar. Cekatan gadis itu menghentikan kegiatan sekedar merogoh kantung kiri celana trainingnya—mengeluaran ponsel untuk mengambil separuh atensi pada makanan.

Maka ketika melihat fokus perempuan ini tertuju pada benda pipih di genggaman tangan kanan, dan tangan kiri ia gunakan untuk menjajah makanan begitu serampangan dalam mangkuk. Seokjin mendengus sesaat, lirikan sinis dari ujung matan pertanda ia sudah teramat jengah, “Kookid—hei! Hei, hei!”

Yang merasa dipanggil mendongak setelah memasukan nasi ke dalam mulut, menaikkan kedua alis, ia menjawab dengan mulut penuh, “Wae?”

Bisa tidak, simpan ponselmu saat di meja makan?”

Putra sulung keluarga Jeon itu hampir memekik ketika dengan santainya sang adik menjawab, “Tidak,” lalu kembali sibuk dengan ponsel dan nasinya.

Mencebik sekali, Seokjin bersuara dengan intonasi tanpa toleran, “Bocah ini …,” desisannya bersambut perampasan ponsel Jungkook yang begitu tak terelakkan.

“Eeeey—ya! Kembalikan!”

Menanggapi pekikan dongsaengnya, Seokjin menaikkan sebelah alis main-main sambil tersenyum menyebalkan, “Kalau tidak mau, kenapa?” Jungkook mendengus keras, ketika kembali usaha merampas ponselnya dari sang oppa, yang lebih tua cepat-cepat menjauhkan benda itu dari jangkauan adiknya. Berlanjut fokus makan yang tak lagi penting ketika rasa penasaran mengambil alih seluruh rasionalitasnya, jadi pemuda itu mendongak menatap layar ponsel sang adik di tangan kiri, mengangkatnya tinggi-tinggi sambil menscroll layarnya dengan tampang mencemooh, “Coba kita lihat apa yang ada di dalam sini—woah! Orang bodoh ini lagi,” tidak lagi kagum ketika mendapati wajah seseorang terpampang tampan di dalam sana, berbalik, wajah mencemoohnya berganti dengan tatapan meremehkan.

Cara retinanya menatap barganti ketika menoleh pada adik semata wayangnya dengan sirat kasihan, “Bagaimana kau mau pintar kalau yang kau lihat orang bodoh ini terus? Itu kenapa aku menyebutmu Kookid—id untuk idiot, haha, benar-benar cocok. Orang bodoh menyukai orang bodoh, mau jadi apa kau besar nanti?” lalu menggemakan tawa memekakan yang memuncratkan beberapa liur ke wajah Jungkook.

Dengan jijik gadis itu mengusap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan tetes saliva sang kakak di wajahnya. Lalu mengukir senyum menyeramkan sambil mendengus kesal, “Istrinya!” ia menggonggong galak, “Aku akan jadi istrinya besar nanti. Kenapa? Masalah untukmu?!” jeda, retinanya memicing tidak terima menelisik wajah abang tunggalnya, “Dan siapa yang kau sebut orang bodoh ketika dia bisa sesukses ini di usia dua puluh tiga?!” lalu melanjuti dengan desis penuh cibir, “Sebut itu untuk dirimu sendiri yang bahkan lebih tua satu tahun dua bulan darinya tapi jadi pengangguran!” detik ketika ia sadar dari emosi, Jungkook mengatupkan bibir rapat-rapat di pampangan wajah manisnya yang memerah keki. Jungkook menggelegarkan tawa sindir yang lebih memekakan dari gelak sang oppa sebelumnya, “Balik ke kamarmu dan merenung sana—!”

“Ya! Tutup mulutmu!”

Ingatkan Jeon Seokjin untuk tidak merajam adik semata wayangnya sendiri di keesokan hari, ketika pertanyaannya tadi dikembalikan begitu kurang ajar dengan wajah sok inosen si Jeon kecil, “Kalau tidak mau, kenapa?”

Adalah detik Seokjin menggemelatakkan gigi tidak main-main, lantas membuat Jungkook bergegas menyuap nasinya cepat-cepat, bergegas kabur menuju kamar usai merampas balik ponselnya dari pemuda itu sambil berteriak, “Jal mogossemnida!”

Yang disambut, “Kumusnahkan semua barang-barang si Husok itu dari kamarmu!—sialan, kembali kau!” dari Seokjin yang berdiri murka dari kursi makannya sambil menunjuk-nunjuk sang adik ibarat tersangka terkejam di dunia.

Dan amarahnya makin membuncah ketika kepala Jungkook menyembul di pintu kamar, sekedar mengoreksi, “Namanya Hoseok! Jung. Ho. Seok!” benar-benar sukses membuat Seokjin naik pitam sampai ubun-ubun.

“Brengsek!”

Di sebrang pemandangan itu sendiri, Tuan serta Nyonya Jeon sama sekali tak terganggu dengan pemandangan di hadapan mereka. Tetap fokus pada mangkuk masing-masing beserta nasi dan lauknya. Sampai sang kepala keluarga yang buka suara lebih dulu dengan nada prihatin, “Sayang, kenapa kau melahirkan anak-anak seperti mereka?”

Dibalas santai oleh yang ditanya, “Kau yang membuatnya, Babe.”

Maka keduanya kembali diam, sibuk pada makanan serta pemikiran masing-masing. Tanpa peduli lagi Seokjin yang kini sudah meninggalkan meja makan tanpa ucapan apa-apa, untuk mengamuk di depan kamar Jungkook sambil berusaha mendobraknya puluhan kali.

.

.

.

.

.

.

.

.

tbc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s