Fangirlable ©slide four. (END)

Fangirlable

Jo Liyeol’s present ©2017

Fangirlable

— i will always smile like an idiot 

[ ©slide four. ]

.


2017.

Samseong, Gangnam, South Korea.

Sama sekali tak beralih fokus sejak tiga jam lalu, Jungkook menatap layar laptopnya dengan senyum mengembang. Sibuk di meja kerja yang berhadap langsung tembok dekat jendela.

Menggali inspirasi sekedar mengubahnya jadi narasi indah yang patut dibaca. Membenarkan letak kacamata besar yang merosot ke pangkal hidung, Jungkook mengedip beberapa kali sekedar mengingatkan diri jika kadang-kadang lupa menetralkan retinanya.

Embusan sejuk angin malam menerpa wajah cantiknya dari jendela kamar yang sengaja tidak ditutup, lingkar kehitaman tak menyurutkan kecantikan si Jeon meski terpetak jelas di sekitar mata, helaian yang entah sejak kapan sudah kembali panjang tergumpal lucu di puncak kepalanya.

Permainan imajinasi wanita itu harus terhenti sejenak, tepat ketika decit pintu terdengar. Langkah kaki mendekat disusul sepasang lengan memeluk lehernya dari belakang, memberatkan kepalanya dengan dagu seseorang yang bertumpu di sana.

“Belum selesai?” suara bariton ini terdengar sangat lembut. Bersambut helaan napas figur itu berembus berat, ia menenggelamkan wajahnya sekedar mencium dalam-dalam aroma setoberi dari helaian Jungkook.

Sambil melanjuti kegiatan, si Jeon menjawab tanpa minat menoleh, “Belum.”

Yang ditanggapi anggukan maklum di puncak kepalanya.

Hening sesaat ketika sosok di sana memilih diam, iseng-iseng membaca apa yang diketik wanitanya. Sesekali mencuri pandang menatap pantulan wajah berbinar-binar Jungkook dari kaca—yang sumpah menawannya bukan main.

Lalu suaranya kembali terdengar saat sudah terlampau larut untuk wanita itu masih mengerjakan naskah, “Kau tidak mau tidur? Istirahat lah, sudah malam.”

“Nanti.”

Pemuda itu diam, membiarkan wanitanya kembali berkutat dengan diktat-diktat imajinatif. Memilih mengagumi senyuman Jungkook yang selalu membuat jantungnya berdentum—meski ia paham senyum bahagia itu bukanlah karenanya, “Benar-benar senang saat mendapat tawaran membuat naskah itu?”

Tidak perlu menunggu untuk mendapat jawaban dengan nada antusias dari si Jeon, “Tentu saja! Sudah lama dia tidak main drama ‘kan?”

Hal itu cukup untuk pemuda ini mengulum senyum gemas sambil kembali mengusak wajah ke helaian wanita di bawahnya, “Masih secinta itu kau padanya? Aku iri—astaga,” mendengus main-main, ia berlagak sok sebal, “Bahkan si Husok Jung itu sudah punya anak-istri.”

yah, sosok ini Kim Taehyung.

Pemuda yang berhasil mengubah marga Jungkook satu tahun silam, usai trending topik muncul pada beragam siaran televisi nasional, serta tumpukan ganas artikel di internet soal ‘Jung Hoseok Confirmed Wedding‘—Taehyung menafsirkan ini sebagai anugerah terbesar dalam kehidupan.

Walau hal ini pula yang membuat Jeon Jungkook terpukul luar biasa.

Benar-benar butuh pelampiasan dari segala rasa sakit dan nyeri di ulu hati, serta sesak tiada tara yang mengobrak-abrik debar jantungnya, sampai gadis itu merasa dunianya telah porak poranda lalu hancur berantakan.

Namun dipenghujung keterpurukan, Taehyung sempat tergugu ketika gadis itu tetap memampangkan senyum merekah yang terlihat rapuh menyayat —dengan lirih berusaha bahagia buat seluruh rasa remuknya— sambil berkata sengau bersama deras air mata yang tak kunjung berhenti juga sesegukan hebat, “Selamat, Oppa, selamat. Aku bahagia untukmu—untuk kebahagiaanmu …” lalu tenggelam dalam pelukan Taehyung.

“Hoseok Jung, Kim, Hoseok Jung. Kau jadi mirip Jin-oppa dan mereka, tau?” Jungkook mendengus, mengerucutkan bibir sebal hingga membuat Taehyung hampir gila untuk memakannya.

Pria itu tergelak senang sambil menegakkan tubuh, “Tidak masalah, Seokjin-hyung orang tampan—silahkan, jadi tidak masalah. Dan berkat duo bantet itu kita bertemu ‘kan?” kedua alis Taehyung menggedik iseng walau tau Jungkook tidak melihatnya, “Yeah, terkesan jelek dipertemuan pertama. Tapi setidaknya tidak masalah, aku hutang budi pada mereka, maka sama-samakan saja aku yang tampan ini dengan makhluk-makhluk jelek itu,” gelaknya terdengar makin kencang. Namun Jungkook tidak membalas, hanya mencibir ringan sebelum kembali sibuk dengan dunianya yang kembali. Dan Taehyung memilih mengeratkan pelukan sambil membungkuk, membisik di telinga Jungkook dari pada mengganggu, “Love you, Babe.”

Cuma buat ungkapan itu si Jeon sampai repot-repot membalas, “Peduli setan. Aku lebih cinta Hoseok-oppaku.”

Si Kim tertawa, menggelitik lubang telinga wanitanya, “Kalau begitu—fuck you!”

“Nah, kau jadi mirip Seokmin ‘kan?”

Iya, Taehyung tau siapa itu Lee Seokmin. Bisnisman gila yang satu sekolah (bahkan satu kelas) dangan istrinya waktu jaman SMU dulu. Karena Jungkook suka sekali bercerita tentang apapun yang bersangkutan dengan Jung Hoseok, semenjak mereka dekat selepas pertemuan di kafe.

“Hei-hei! Enak saja disamai tukang obral sepertinya, kasihanilah ketampananku.”

“Kau bukan gembel yang mesti kukasih beras, Kim. Jadi untuk apa dikasihani?” sarkas Jungkook tersuara dari nada mencemoohnya, entah kenapa hanya kepada Taehyung dia tibak pernah bisa lembut sekalipun. Rasanya selalu kesalingin menghina, dan meremehkan. Tidak peduli perasaannya yang terbagi dua atas sang idola pada si brengsek ini, “Lagi pula Hoseok-oppaku jauh lebih tampan darimu. Jauh sekali! Sangat-sangat-sangat jauh!”

“Iya-iya … whatever,” Taehyung mendengung asal-asalan tanpa minat, sebelum mengusakkan kepalanya buat tenggelam di ceruk leher Jungkook, “Saranghae, Jeon—very-very-very much.”

.

.

.

.

.

.

Nado—tapi maaf tuan tampan, aku masih kepalang cinta pada Hoseok oppaku sampai detik ini.”

Whatever, Jeon, whatever!”

Ngambek, eh?”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Sungguhan. Mau tau apa lagi yang benar? Aku membencimu loh.”

“Tadi bilang cinta?”

“Tadi aku khilaf.”

“Mana bisa?”

“Tentu, kenapa tidak?”

“Terserahmu! Tidur sana—kau cerewet, aku sibuk. Hoseok oppaku menunggu naskah ini, tau?”

Tidak. ‘kan Hoseok oppamu lebih menunggu anak keduanya lahir ketimbang naskah ini. Dia sudah bahagia dengan istri dan anak-anaknya, Jeon, jadi berhenti mencintainya. Kau mau jadi perusak rumah tangga orang, hah?”

Berisik!”

“Wah-wah! Ngambek, eh?”

Whatever—persetan deh!”

“Hahaha!”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika menyukaimu itu kekeliruan; maka aku akan tenggelam bersama angkara hingga menuju alam baka.

Jika menyayangimu itu kesalahan; maka aku akan bersembunyi di dalam samudera hingga Tuhan mengizinkanku tiada.

Jika mencintaimu itu kejahatan; maka aku akan bersujud pada sang pencipta hingga durkasa membawaku sirna.

I will always smile like an idiot.”

Tidak peduli orang-orang yang menganggapku gila, mencercaku sarkas dengan rentetan cela, imitasi senyum ketika di depan mata, hingga peradaban angkuh mereka yang tak terhingga.

Ketika afeksi ini telah memilihmu; cinta yang berpendar bukan lagi soal sajak dan manifestasi. Melainkan seutuh sanubari yang selalu haus akan sosokmu yang penuh empati.

Imajinasi yang mempertemukanku denganmu, maka tidak masalah jika orang-orang mulai menganggapku berdelusitidak masalah. Karenadiktat emosionalku adalah mengagumimu dengan rasional.

.

.

“I will always smile like an idiot.”because i love you so bad.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

©Fangirlable—clear.

end.

Jo Liyeol’s Curhat Timing


Yuhu, satu utang udah kelar yes =w= Muehehehe … rada rancu ya endingnya?

Oke, pertama, ini memang bukan fanfik romance. Di depan ketulis [Vkook-TaeKook] Cuma biar jelas aja pairingnya, supaya ga keder atau nyangka Jungkook bakal berakhir di tangan Hoseok pas ending. Jadi ga bener-bener pure ke romance.

So, i told you for the beginning karena ide awal yang kupunya emang bener-bener crack parah.

Kedua, emang dedek Li pengen banget nunjukin gimana kegilaan seorang fangirl di depan keluarga, teman-teman/sahabat yang udah bosen liat kelakuan kita, and the him—yang menyukai/kalian sukai (mengesampingkan jodoh atau bukannya).

Yah, bener-bener pengen coba aja sih buat fanfik yang lebih real-life dalam drama-fiksi.

.

And lastly, kucinta kaliaaaan~ ft. titik dua bintang.

(tebar sempak dan kecup basah)

.

.

PS(1): Semua typo yang ada adalah kekhilafan.

PS(2): “I will always smile like an idiot.” ini quots dari suami pertama dedek yang aslinya: “No matter how difficult something is, I will always be positive and smile like an idiot.”

PS(3): Ini fanfik remake sebenernya, dari ff straight lama yang tadinya oneshot berantakan dengan ide sama berantakan yang belom mateng. Dedek ambil aja buat jadi fanfik tentang hidup fangirl seorang Jungkook!GS =w= Muehehe …

.

.

.

Thanks for read this.

So, sorry for typo and all fault.


See you on next tale~ =3=9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s