Blood, Sweat And Tears (Series)

Jo Liyeol’s present ©2017

— Even If I Die, Its Yo

Aku mempercayakannya kepada langit, kunci dari takdirku. Itu pasti dirimu, jangan tinggalkan aku. )

.

OCC || AU || Typo || BL || lil bit Gore

Vignette ]

.


Taehyung-ah.”

Di lorong yang gelap, si pemilik nama menoleh. Mendapati gulita menyambut pendaran retinanya.

Taehyung-ah.”

Suara itu lagi, serak pilu yang kembali menggema memanggil begitu lirih namanya—seakan rotasi dari dunia sang penyuara berkiblat di sana.

Taehyung-ahDorawa.”

Tetapi si pemilik nama hanya terdiam, retinanya basah namun begitu beku buat mengedar. Ia menatap ke satu titik yang ia sendiripun tak tau di mana letaknya, tak ada benderang, gelap terlalu mendominasi di sana; sampai dirinya sendiri pun bingung fokus dari indra pengelihatannya tertuju pada apa.

Hingga hening menyambut untuk kali pertama, membawa terpaan dingin dari angin yang berembus entah dari mana. Api sebagai satu-satunya sumber cahaya pada obor di genggaman Taehyung bergoyang antisipatif, tapi si Kim tetap diam, tak gentar sama sekali meski kini tubuhnya membatu di tempat. Lembap aroma lumut makin memenuhi paru-parunya, seiring embusan angin tadi perlahan memudar.

Menyisakan sesak dan panas.

Taehyung memejam mata, berusaha mengingat mengapa dirinya bisa ada di tempat ini. Namun nihil. Tak ada apapun, ingatannya kosong bagai tak pernah terjamah sesuatu.

Hingga suara itu kembali terdengar. Semakin laif dan merlirih.

Taehyung. Kembalijebal.”

Kepalanya berdenyut sakit dan otaknya seakan berputar. Ia merintih, jemarinya mengepal kuat-kuat pada batang obor.

Perlahan tubuhnya lungsur, ia menunduk dalam-dalam saat tersungkur dalam duduknya. Masih berusaha mengingat, namun hal itu yang membuat memorinya makin perih dan luar biasa sakit, akan tetapi; tetap berakhir pada ingatannya yang tak kembali, bersama suara lirih yang menggema itu semakin meraungkan namanya.

Dalam hening Taehyung sadar. Ada suara lain. Bunyi bib yang melemah seiring suara itu kini meraung.

Sampai waktu di mana embusan angin dingin kembali berembus dengan intensitas yang luar biasa kencang, lantas memadamkan kobaran api pada obor digenggamannya yang membuat gelap melingkupi Taehyung tanpa ampun. Menjadi waktu seserpih cahaya; benderang tertangkap indra pengelihatannya.

Di ujung sana, lentera indah memancarkan kilapan begitu terang, perlahan mendekat dengan volum semakin besar.

Oh—itu bukan hanya lentera. Di sana …

Ada seseorang?

Figur tinggi yang perlahan mendekat, kemudian berjongkok menyetarakan tinggi ketika tepat di sebelahnya. Si Kim menoleh, disambut senyum manis yang begitu familiar bersama sebelah tangan sosok itu terangat, dengan tangan yang tak memegang lentera ia mengusap sebelah pipi Taehyung penuh kasih—begitu lembut dan hati-hati.

Dalam sekejap, seketika sosok itu hilang saat sebuah portal muncul di hadapannya.

Gerbang yang membuat si Kim terlingkup dengan begitu banyak cahaya. Dua belah sisi yang terbuka, membawanya pada suatu ruangan serba putih.

Di mana beberapa sosok begitu sendu memandanginya, dengan kilapan netra berbanjir air mata itu tertulis jelas kebahagiaan.

“I-ini,” susah payah Taehyung berusaha membuka mulut, begitu berat menyuarakan nada serak dari kerongkongannya yang kering, “Di—di mana?”

Matanya masih terbuka sayu, tapi ia dapat memastikan senyum bahagia orang-orang di sana merekah.

Dan ketika sosok yang entah mengapa serasa amat ia rindukan memeluknya begitu erat, Taehyung sempat tergugu di tempat, kepalanya kembali berdenyut menyakitkan.

Apa ia kenal sosok itu? Ia kenal mereka semua? Kenapa kini ia berbaring?

Di menit ketika sosok itu berkata sambil terisak, “Di rumah sakit, Tae. Kau di rumah sakit, terimakasih Tuhan—terimakasih,” kemudian memeluknya begitu erat seakan rotasi dunianya telah beralih kiblat ke sana.

Taehyung sadar itu Jeon Jungkook—kekasihnya. Dan orang-orang itu, mereka semua kawan-kawan baiknya.

Maka sudut bibir si Kim tertarik di balik aerosol mask yang ia pakai, jemari di sebelah tangan yang tak tertanam jarum infus ia kepal kuat-kuat. Sedikit Taehyung melirik deretan kawan-kawannya yang mengulum senyum, mengekspresikan bagaimana mereka terenyuh namun ada sedikit iba juga sendu yang sulit diartikan.

Oh, iya. Sekarang Taehyung ingat.

Mereka baru saja selesai ikut festival musik tingkat SMU, ia mendapat juara satu dari permainan saksofonnya. Berdiri di atas panggung, mendongak dengan bangga diiringi tepuk tangan meriah. Ia melambai pada Jungkook yang menatap riang ke arahnya.

Kebahagiaan sesaat.

Sebelum sebuah mini bus datang membawa pengemudinya yang mabuk berat. Menyetir ugal-ugalan dan dengan tak berperasaan; membabi buta menabraki seluruh penonton di sana. Tak terkecuali Jungkooknyayang tidak tau apa-apa, masih melambai tatkala mobil itu beberapa senti di belakang tubuhnya. Taehyung yang melihat seketika membatu, tak dapat melakukan apa-apa bahkan sekedar buka suara. Bibirnya kelu. Sampai berakhir tubuh Jungkook tertabrak dan terpental begitu jauh, terseret, pun terlindas saat mini bus itu berbalik arah.

Menghasilkan tubuh proposionalnya yang dipenuhi cidera serius, darah mengalir deras dari setiap luka-lukanya, pun tengkorak yang jelas Taehyung lihat hancur sebelah. Menjelaskan jika Jungkooknya telah tiada.

Di tempatnya, Taehyung histeris. Kala orang-orang berusaha keras menjauhi lapangan yang telah terbanjir darah dengan mayat-mayat berserakan, ia justru hendak meloncat dari atas panggung, menghampiri kekasihnya di sana.

Namun takdir tak mengizinkan.

Sesaat sebelum ia melompat, mini bus itu melaju kencang ke arah sisi panggung. Menubruk bahan besi itu bringas sampai mesin kendaraan itu mati dengan sendirinya, lantas membuat fondasi panggung tak lagi kokoh, sampai besi-besi berat yang tersangga di atas sana berhambur jatuh menimpa Taehyung di bawahnya. Sedangkan di akhir kesadaran, si Kim menyaksikan ledakan terdengar disambut api berkobar dari mini bus yang terbakar beserta sang pengemudi di dalamnya.

Banyak yang meninggal. Banyak sekaliDan Jungkook jadi salah satunya.

Maka ketika Taehyung kambali ke kenyataan usai beberapa detik kermangu dari memorinya, ia mendelik, dan mendapati yang mendekapnya bukan lagi sosok manis kekasihnya, melainkan seonggok arwah yang tersenyum begitu bangga kepadanya.

“Kau hebat, Tae. Selamat.”

Karena kenyataan itu adalah dasar dari mengapa air matanya mulai menetes perlahan hingga menjadi deras, menyaksikan kawan-kawanya yang memandang iba kearahnya kerena mereka paham. Sang sahabat tengah berdelusi selepas koma. Maka seluruhnya diam, membiarkan histeria Taehyung mengawang ketika ia tak dapat membalas pelukan Jungkook.

 

 

 

 

end.


Jo Liyeol’s Curhat Timing


Ceritanya absurd ya? Wkwkwk ku bawa kalian ke tiga dimensi sekaligus di sini =w= Dari alam bawah sadar, waktu nyata, ama flashback :v Semoga ga gagal feelnya muehehe.

Ga tau kenapa kayanya judul ini cucok banget :v

Reviewnya sangat-sangat-sangat dedek nanti loh~ =3= Muah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s