Little bla-bla❤

 

Jo Liyeol’s present ©2017

PROHIBITED COPAS, DON’T BE PLAGIAT, DON’T BE SILENT!

BTS Fanfiction! DLDR! RnR!


Little bla-bla

— piece of life thing 

.

.

.

.

| | YoonMinYoon | |

.

.

.

.

Park Jimin, 28 tahun. Tampan, kaya, mapan. Sempurna.

Hanya saja kurang tinggi—okelupakan. Intinya dia memiliki takdir; lahir menjadi orang sukses. Soal uang tidak usah ditanya, dia pengusaha muda yang punya segala-galanya.

Sayang. Keseluruhan transendennya mesti luntur pelan-pelan hanya karena satu fakta rancu.

Dia homo.

Sejenis biseksual, hemafrodit, gay, LGBT—atau apalah nama lainnya. Tapi Jimin sendiri tak yakin ini benar atau tidak, yang pasti semua orang belum tau fakta baru ini. Dia tidak pernah berdebar sekalipun saat bertatapan dengan lelaki, hormonnya masih lurus saat melihat bokong perempuan di jalan, dan libidonya tetap naik ketika menonton payudara padat pekerja-pekerja binal di kantornya.

Oke, sebenarnya Jimin yakin dia belum benar-benar belok.

Tapi yang salah di sini adalah ketika puncak malam tahun baru beberapa bulan ke belakang, saat ia diundang ke salah satu bar daerah Gangnam. Waktu itu perayaan ulang tahun Taehyung, sahabat brengseknya. Menghabiskan berjam-jam lamanya di tengah suasana mewah, meriah, dan panas di sekitar wanita-wanita segar hostess di sana. Sebisa mungkin Jimin mengontrol diri agar tidak kelepasan dan pulang di larut malam, tapi salah karena Taehyung itu brengsek, ia mabuk di gelas keenam yang si Kim tuang penuh-penuh.

Berakhir pulang di subuh hari, menyetir dalam keadaan hangover.

Ugal-ugalan, serampangan. Sampai waktu mengutus moncong mobilnya buat menabrak toko roti yang baru saja buka. Membuat keributan besar ketika potongan kaca berhamburan dan separuh badan mobilnya masuk memberantakan isi toko, satu etalase pecah, tiga konter hancur, dua pasang meja-kursi besi penyok, dan keterperangahan pemilik bangunan memperlengkap keadaan saat ia bergegas muncul dari arah dapur, menganga lebar tatkala tidak jadi menjerit.

Beruntung saat itu masih pagi buta, belum banyak orang berlalu-lalang di jalanan Seoul, dan lagi pegawai toko di sana belum ada yang datang kecuali si pemilik itu sendiri.

Maka di sana awal mula Jimin mulai mempertanyai jalur seksualitasnya.

Saat seorang pemuda manis menggedor sadis kaca mobilnya dengan sebelah tangan kotor yang memegang rolling pin. Lelaki seputih susu itu memakai apron berminyak, celemotan bukan main dengan wajahnya yang dihiasi serbuk roti dan butiran wijen. Berteriak geram dan menyerapah blak-blakan, nyaris memecahkan kaca mobil Jimin kalau saja yang dimaksud tidak lebih dulu pingsan di dalam mobil.

Polisi datang dua puluh menit setelahnya. Matahari mulai bersinar, mereka menggeret Jimin ke kantor dengan Yoongi sebagai saksi. Menyisakan tanda tanya besar di kepala pegawai-pegawai pemuda itu yang baru datang dan mendapati tempat kerja mereka menjadi begitu lululantak, belum lagi tatapan penasaran orang sekitar yang berhenti lalu-lalang sekedar menatap lama keadaan toko roti tidak terlalu besar ini.

Yang salah, Park Jimin sudah sober dari pingsannya, tapi masih kelewat hangover sesampai di kantor. Hingga jawaban asal-asalan yang cuma ia jabarkan saat petugas Jeon meminta keterangannya saat itu. Tak lama, karena si polisi akhirnya jengah dan mengambil inisiatif lain dengan memanggil Kim Taehyung, sebagai orang di list terakhir log panggilan dalam ponsel Jimin.

Waktu itu masalah menjadi kelar hanya dengan kedipan mata.

Taehyung yang datang dengan sama tidak warasnya terlalu pandai bernegosiasi, menyerapahi Jimin, dan menggoda polisi tampan di depannya. Iya, kalau saja tidak ingat profesionalitas, mungkin saja si Kim yang sudah polisi muda itu lempar ke sel tahanan.

Jadi dengan adu argumen kurang dari setengah jam, semua mendapat hikmah dari negosiasi memuaskan. Yoongi mencapai apa yang dia mau dan melepaskan Jimin. Karena Taehyung menawarkan keuntungan dua kali lipat untuknya, seenak jidat bicara kalau si Park bakal memperbaiki toko rotinya dengan ronovasi pengupgradetan, menjadi toko yang lebih besar dengan dua lantai. Sebab Jimin kaya. Taehyung bahkan tidak peduli kalau kemungkinan besar yang terjadi esok hari adalah Park Jimin yang berniat memenggal kepalanya. Dan yang paling penting adalah, Taehyung pun mendapatkan apa yang dia mau, dengan bahasa tingginya yang ngelantur dan semerawut, ia bicara dalam bahasa komunikasi alien, berucap soal idealisme Park Jimin dan kemitraan kerja jalur hukum. Memperlama bahasan kompromi yang mestinya disepakati kurang dari sepuluh menit, cuma sebagai cara untuk mendapatkan nomor personal petugas Jeon.

Iya, dia dapat. Dan Jeon Jungkook menyesal bukan main karena memberikannya.

Nah, semua sentimentil Jimin soal hormonnya berawal dari sana. Semuanya. Karena mulai detik itu ia berdebar keras sekali, sekedar menatap air muka Min Yoongi yang sedatar papan karambol.

.

.

.

.

.

.


Warning!

OCC || AU || T+ || Typo || BLStraight!

[DramaRomanceHumorUrban]


“Sudah sampai?” itu suara datar Yoongi yang menggema dalam ruangan, menjawab kata-kata dari sebrang sambungan ponselnya. Jimin masuk menjejakan kaki ke sana, membiarkan pintu tertutup sendiri dan melangkah santai mendekati Yoongi yang sedang bercengkrama di telepon, “Hm … datang saja ke toko, oppa ada di ruangan. Tanya pegawai yang namanya Jung Hoseok di mana tempatnya,” kemudian sambungan diputus dari Yoongi. Si Min beralih pada lembaran-lembaran di atas meja ruangannya.

“Penjualan oke?”

Yoongi menengadah mendapati Jimin yang berdiri angkuh, beranjak bersandar di ujung lain meja.

“Oke.”

Sebelah alis si Park terangkat, berbalik sekedar menelisik iseng isi kertas yang sibuk dijadikan Yoongi sumber fokusnya, “Tidak terganggu dengan pembangunan di atas?”

“Pengaruhnya hanya untuk pelanggan yang makan di sini dan memesan meja. Tidak lebih baik dari awal sebelum pembangunan, tapi setidaknya lumayan berkembang dari pada dua bulan kemarin,” sama sekali tak berminat pemuda Min ini menggubris tatapan Jimin, ia tetap mensibukkan diri dengan deretan abjad di lembaran itu, “Peresentasenya naik empat puluh persen, keuntungan tujuh puluh, dan total rugi yang tertutupi nyaris habis. Toh sebentar lagi pembangunannya sudah mau selesai, tidak masalah, kau bisa lepas tangan saat ini semua kelar.”

Jimin mendelik dari ujung mata, merasa tidak percaya dan sedikit terpukau. Tidak peduli kata-kata lain Yoongi, ia cuma minat menanggapi yang terasa janggal, “Rugi yang tertutupi?” nadanya menyeret sinis, “Man, kaca yang kugunakan buat mengganti perbaikan depan itu jenis tempered kualitas tinggi loh, beda sekali dengan tinted glassmu yang jelek itu. Kalau kau mau tau, pertiga kubik sudah cukup melunasi seperempat dari hutangku. Dan lihat berapa kubik yang menjadi dindingi kaca di depan sana!” bersungut-sungut Jimin bersuara, cukup buat mengundang Yoongi mendongak menatapnya, “Belum lagi semen dan tetek bengek perabotan. Rugi yang tertutupi nyaris habis katamuNyaris? Kalau kutotal jumlah pengeluaranku, lembaran won itu bisa masuk ATM jadi black card di rekening gendut! Atau kabar baik lainnya, toko ini bisa menjelma jadi restoran mahal—paham?!”

Kening si pemilik toko berkerut tipis, emosionalnya tertahan namun pendaran obsidiannya yang mengarmada sama sekali tidak menutup-nutupi tatapan tajamnya, “Jangan berlagak sok berkuasa atas segala-galanya, brengsek. Aku tidak peduli kalau kau dibesarkan dengan menelan butiran berlian atau susu emas murni. Yang pasti aku tidak peduli dengan omong besarmu,” intonasinya tenang namun terdengar sarkas luar biasa, “—kau kaya? Terserah! Aku tidak minta kau gunakan uang banyak-banyak buat beli barang kualitas bagus untuk perbaikan dan pembangunan tokoku. Aku tidak minta. Yang kutuntut cuma janji kawanmu di kantor polisi waktu itu, dan apa yang kuhitung di sini bukan soal jenis kaca atau semen juga anak cucu perabotan bermerk suntikanmu dalam toko ini. Tapi hasil dari penjualan harian yang sempat merugi karena orang gila menghancurkan jerih payahku cuma dalam semalam,” alis Jimin terangkat ketika Yoongi membereskan kertas-kertasnya. Sedikit waspada dan nyaris mendegguk saat tanpa aba-aba si Min menarik simpul dasinya yang menggantung, dalam sekali sentak memangkas jarak wajah mereka, “Tidak tau ‘kan berapa roti baru jadi yang berserakan karena moncong mobilmu? Puluhan hancur, sebagian tidak lagi layak konsumsi, dan selebihnya berjamur karena penutupan toko yang terlalu lama,” tidak terdengar meninggi, akan tetapi di situ letak intimidasi vokal Yoongi mengudara. Belum lagi tatapan retinanya yang membunuh, “Itu hanya secuil dari kerugian besar yang kuterima sebab ulahmu! Belum lagi langgananku yang kabur, sisa-sisa bahan yang basi, karyawanku yang terbengkalai, etcetera, and you shit fucking damn!”

Jimin menelan liur susah payah. Memiliki jarak sedekat ini dengan Yoongi menjadi permasalahan tersendiri buatnya. Min Yoongi laki-laki; tapi bagi Jimin dia cantik luar biasa, karena alasan itu manjadi sebab utama mengapa jantungnya berdentam abstrak sekencang ini.

Korea negara beretika, Man. Homoseksual benar-benar saru dan tidak mendapatkan tempat sosial di negri gingseng ini. Memalukan dan memunculkan spekulasi negatif tersendiri. Jimin paham betul tempat kelahirannya bukan Amerika atau asia bebas seperti Jepang. Banyak prinsip bermoral yang terpaten di sini. Maka kalau benar dia menyukai sesama jenis, kabar pengusaha muda yang sukses memiliki hormon melenceng pasti bakal heboh seantero Korsel.

Tidak, itu sama sekali tidak etis buat jadi bahan pembicaraan publik. Bisnis, karis, dan segala kesempurnaannya bakal hancur lebur. Terutama fakta absolut soal figur yang disukainya jelas-jelas lurus dan menyukai seorang gadis.

Kedekatannya dengan Yoongi beberapa bulan ini membuat Jimin menemukan konsekuensi soal mencintai dan timbal balik. Akhirnya paham betul mangapa kadang ada orang yang menjadi bodoh karena perkara cinta, tetap menggilai meski sudah paham kalau perasaannya bertepuk sebelah tangan. Sebab perasaan Jimin masih terasa tetap sama sampai sekarang, jantungnya berdetak tiap kali mendapati Yoongi, menyukai wajah cantiknya dan mengagumi sosok itu tanpa perlu penjelasan.

Meski ia tau Min Yoongi sudah punya kekasih.

Namanya Son Naeun, gadis manis yang telah menjalin hubungan dengan si Min kurang lebih tiga tahun. Kisah romansa bahagia dengan sedikit cekcok dan masalah-masalah kecil yang bisa diatasi hanya pakai bantuan waktu.

Jadi Park Jimin memilih untuk tetap tinggal dalam diam, tidak mau menjadi si pemeran antagonis di tengah hubungan mereka. Membiarkan keduanya bahagia meski perasaannya sendiri di ambang sekarat.

Ya, selama Yoongi tetap dalam jangkauan matanya, tetap bersamanya dan tidak mengetahui perasaannya. Ia rasa ini tidak terlalu buruk ketimbang dunia tau bahwa ia mencintai Min Yoongi begitu tulus, dan kehilangan sosok yang ia cintai sebab masalah sosial, atau bahkan fakta lain yang paling menyakitkan; adalah Yoongi yang bakal menjauhinya karena rasa jijik.

Min Yoongi itu lelaki tulen dengan kelurusan luar biasa, tampangnya selalu datar dan auranya dingin. Maka menjaga jarak dengan kaum belok seperti Park Jimin akan menjadi begitu absolut baginya. Tidak peduli kalaupun si Park menjadi seperti ini karena dan khusus padanya. Ini bisa menjadi menggelikan luar biasa bagi Yoongi.

“Jadi berhenti berlagak sok paling hebat di depanku, sialan, tinggimu bahkan tidak ada oke-okenya sama sekali,” Yoongi mendecak, mendorong kepala Jimin dengan menepak keningnya keras-keras.

Saat si Park mengaduh ribut, si pelaku justru kembali sibuk pada lembaran kertas yang ia buka kembali.

Jimin mendelik lewat ujung mata. Kesal sekesal-kesalnya, tapi Yoongi terlalu cantik buat dihadiahi bogem mentah, retina pengusah muda itu menyalak saat ia berdiri kembali bersandar di ujung meja, “Lupakan soal uang apapun itu—pardon, yeah?” ia memulai sambil menggali ponsel di saku celana, yang diajak bicara hanya menanggapi pakai dengungan ringan, “Hei, kalau perkara hutang-pihutang ini kelar, aku masih boleh mampir ke mari ‘kan?”

“Terserah. Kudengar pengusaha sukses sepertimu tidak banyak punya waktu santai?”

“Sebenarnya—iya. Tapi kalau aku mau ya tidak juga. Perusahaan-perusahaanku, bisnis milikku, maka suka-suka aku.”

“Kekanak-kanakan.”

“Orang sibuk juga butuh bernapas dan yang manis-manis, Man.”

“Kalau kau kebanyakan makan roti markisa nanti kena diabetes, baru tau rasa. Kontrol asupan gizimu, brengsek. Misalkan kau mati karena kebanyakan gula di lambung gara-gara cuma makan roti manis dari tokoku, nanti aku yang kena masalah.”

Jimin mendegus keras-keras sebelum bergumam tidak jelas, “Ih, dasar tidak peka.”

Tidak ada tanggapan dari Yoongi setelahnya. Cuma berisik suara pena dan kertas-kertas yang riuh menggema, sebelum si pemilik toko roti akhirnya bersuara setelah lebih dari tiga menit, “Cari pacar sana.”

Jimin mendongak nyaris tersedak liur sendiri, “Hm?”

“Cari pacar,” Yoongi mengulang tanpa beban, “Aku iba melihatmu begini terus, diusia matang menikah malah lontang-lantung tidak jelas, menghabiskan malam mabuk-mabukkan di klub, aku jamin kau pakai layanan seks cepat untuk melampiaskan hasrat sesaatmu. Atau dugaanku selama ini benar kalau kau memanfaatkan wanita-wanita binal di perusahaanmu buat memberikan blowjobhandjobone night stands, etcetera, and really you’re shit fucking damn.”

Decakkan mengudara dari celah bibir di Park, mencebik main-main dan menjadi frustasi tingkat atas, “Yah, dugaanmu mungkin benar. Tapi jaminanmu nol besar, Man. Aku bukan pria brengsek yang suka menyebar sperma di sembarang ranjang, tidur dengan siapa saja dan dengan lapang dada menerima penyakit dari kejahatan seksual. Hanya berbuat ketika ingin, dengan gadis mana yang datang tanpa paksaan—yeah, hanya itu.”

Yoongi mendongak dari tempatnya, mengernyit tidak suka dan matanya memicing meremehkan, “Hanya itu?” jeda, “Kau melakukkan hal tidak senonoh dan bilang hanya itu? Wow! Park Jimin, you got no jams. Aku bahkan masih perjaka sampai sekarang, padahal kita seusia loh.”

Mata sipit si Park membola, menatap Yoongi dengan terperangahan luar biasa, “Seriously?” nyaris menjerit kalau saja lupa dirinya laki-laki. Kedua alisnya nyaris berpaut sekarang, “Apa yang kau lakukan dengan Naeun selama tiga tahun kalau begitu?”

Yoongi menggedik bahu atas pertanyaannya, “Berkencan, pegangan tangan, pelukan, dan ciuman kadang-kadang,” berkata lugas dengan binar tersendiri yang bisa Jimin dapati dari bagaimana pemuda Min itu mengeja. Oke, ada denyut nyeri yang meremat pelan-pelan jantung hati pengusaha muda itu sekarang. Dan perasaan sakit di dalam sana makin terasa saat dengan inosen Yoongi melanjuti atas binar yang semakin jernih, mendamba akan cintanya yang tulus, “Tidak lebih karena aku tidak mau membuka segelnya sebelum kami resmi menikah. Aku tau ini mungkin terdengar lembek dan menggelikan di era modern, lebih-lebih kita tinggal di Seoul, kota metropolitan dengan akses motel yang sangat mudah buat orang dewasa” sengaja pemilik toko itu menggantung kalimat ketika retinanya menembus barbar sekembar obsidian Jimin yang berpendar sok kuat, “tapi sumpah, aku cuma sungguhan mau menjaganya baik-baik,” dan pemuda Park itu nyaris menggigit bibir bawahnya keras-keras ketika kakinya terasa sekenyal jeli, sekedar menerima konseuensi dari cinta terlarangnya yang sungguh tak mungkin terjangkau, “Ingin lindungi dia, bukan merusaknya dari awal. Karena—i love her so bad. Sampai rasanya aku bisa gila kalau dia jauh-jauh daiku.”

Betapa Yoongi tidak tau bahwa ujarannya lebih melumpuhkan Jimin ketimbang segala caci makinya pada sosok itu. Bertambah parah ketika dengan begitu rindu ia mengukir senyum manis di wajah cerahnya.

Park Jimin mati di detik itu. Tidak lagi merasakan bagaimana rotasi bumi menelannya bulat-bulat, dalam pijakan yang serasa menyentuh dasar bumi begitu curam.

Tapi Jimin tetap tersenyum, karena Yoongi melempar senyum cerah padanya. Berusaha setengah mati untuk ikut bahagia karena Yoongi terlihat sangat-sangat bahagia di depannya, “Ewh, kau jadi seperti anjing cupu yang kelaparan, Man,” ungkapnya usil menahan sesak paru-parunya begitu baik, “Tidak menyangka Min Yoongi yang persis papan selancar bisa lembek sekali seperti ini.”

Yoongi kembali ke mode awal karena itu. Mata tajamnya memicing emosional untuk si Park, “Berisik. Setidaknya aku lebih baik ketimbang maniak tanpa komitmen sepertimu.”

“Eeey, sialan. Siapa yang kau sebut maniak, hah?”

“Bajingan sepertimu pasti lebih suka jadi singgle abadi sampai mampus, Park. Kerjaanmu cuma main-main soal perasaaan.”

“Bagsat. Kau tau apa soal aku? Tidak tau saja aku bakal benar-benar setia kalau sudah mencintai seseorang.”

Bullshit.”

“Tidak bohong. Aku bahkan sudah berusaha move on dari bulan lalu, semenjak tau kalau dia punya pacar.”

Mendengar tanggapan santai Jimin, Yoongi memasang gimik sendu yang dibuat-buat, “Ow, sedih sekali … jalang mana yang berani menolakmu, Man? Lihat siapa yang terlihat persis anjing jelek kelaparan sekarang?”

Dalam hati Jimin menyerapah. Ingin menyembur dan memaki lelaki itu dengan umpatan-umpatan kasar, sebab dengan bahagianya Yoongi justru terbahak-bahak senang tanpa tau isi perasaannya sekarang. Tapi di waktu yang sama hatinya lululantak tak tentu. Antara ingin terbahak keras sekali atau mesti sedih menanggapi pertanyaan awal si Min, maka Jimin mendecih sekilas sebelum menyergah, “Aku tidak ditolak sialan

Tanggapannya tersela tatkala dobrakan keras menggema dari arah pintu. Yoongi yang mendongak awal dan lantas menghentikan gelaknya dalam sekejap, “Oh, sudah datang? Sendirian? Hoseok tidak mengantarmu?”

Reflek Jimin ikut menoleh sebab itu. Dan slowmotion terjadi nyaris seperti drama romansa di serial cantik. Saat obsidian si Park mendapati seorang gadis manis berdiri di ambang pintu sana, rambut sebahu, berpakaian sekolah, menggendong ransel di belakang punggungnya dan kulit seputih susu.

Oh astaga, apa dia bermimpi karena terlalu larut mencintai Min Yoongi?

Jantungnya … berdegup serampangan. Makin berdentam-dentam tak terkendali ketika pertanyaan halus Yoongi, dibalas tanggapan judes separuh manja dari siswi SMU itu, “Sudah balik ke alamnya dan aku tidak peduli! Oppa kenapa menutup telponku padahal aku belum selesai bicara?! Tidak sopan sekali!”

Yang dimaksud menjawab acuh tak acuh, “Kau cerewet, aku tidak tahan.”

Mengundang yang ditanya berjalan kesal ke arahnya dengan hentakan keras-keras. Yang entah kenapa terasa seperti diiringi taburan keopak bunga di pengelihatan Jimin.

Gadis itu berhenti di depan meja Yoongi persis di sebelah si Park, sekedar makin mengkeruhkan wajah manisnya yang merengut, lantas beraegyo centil di sana, “Neomuhae neomuhae!”

Itu tidak lucu sama sekali bagi si Min, tapi entah mengapa kontan mengundang gelak tawa dari pengusaha muda di sana. Gadis itu menoleh, menelisik baik-baik orang di sebelahnya, berlagak jadi intelijen kelas menengah sampai Jimin berdeham dan menghentikan kegiatannya kikuk.

Si Park nyaris tersedak ketika dengan tanpa dosanya, siswi itu menoleh pada Yoongi sambil menunjuk Jimin dengan acuh, “Oppaahjussi tampan ini siapa?”

Kakanya terdiam sejenak, “Park Jimin. Dia orang gila yang menghancurkan tokoku ini karena menyetir di bawah pengaruh alkohol, ingat? Aku pernah cerita ‘kan?”

Jimin membelalak, nyaris menerkam Yoongi dan meminta penjelasan atas apa yang pemuda itu katakan pada adiknya soal dirinya. Tapi Yoongi lebih dulu berganti fokus menatapnya dalam-dalam, seiring ia yang mulai bangkit dari kursi sekedar berdiri di sana.

“Dan, Park. Dia adikku, Min Yoonji. Maaf tidak pernah cerita, dia tidak terlalu penting juga buat kupamerkan pada orang-orang.”

Jimin terbatu di tempat. Merasa ada ribuan kupu-kupu yang menghantam seisi kepalanya, menjadi linglung luar biasa. Min Yoonji. Adiknya … atau kembarannya? Mereka sangat-sangat mirip, hanya saja dalam versi berbeda.

“Oh! Ahjussi ini orangnya?!” Yoonji berseru heboh. Oke, dia pasti tipikal siswi populer di sekolahnya dengan mulut selebar itu, ia menunduk pelan-pelan ketika otaknya yang sama cerdas dengan sang kakak mulai bekerja. menimbang-nimbang keuntungan dalam jalur rasionalisme bocah SMU, maka ia mendongak dan berkata blak-blakan, “Berarti kau juga yang membiayai perbaikan dan pembangunan toko ini? LB Aventador yang menabrak toko Yoongi oppa pasti punyamu ‘kan? Benar ‘kan?” pertanyaannya menuntut seakan menghakimi Jimin, maka si Park cuma mengangguk ayam. Masih tak mengerti di tengah huru-hara otaknya, “Kalau begitu, dijamin … kau orang kaya ya?!”

Kelopak mata Jimin mengedip beberapa kali, berubah dungu sekedar mendapati jantungnya berdebar lebih keras lagi mendapati figur Min Yoongi perempuan mode nyata. Oke, ini bukan mimpi. Gadis itu benar-benar manis dengan tatapan inosennya yang berbinar-binar ceria, seperti Yoongi, hanya saja … lebih manis, tubuhnya lebih ramping dan pendek. Mungil dan menyesatkan.

Maka Jimin hanya menggedik bahu sok cuek sambil menyulum senyum gemas, ketika Yoongi nyaris membentak adiknya yang memang perangainya kelewat begini asal-asalan untuk seukuran siswi manis seusianya.

Maka putra pertama keluarga Min itu mesti menepuk kening keras-keras, merosot di kursinya tanpa mau peduli siapa anak perempuan di hadapan Park Jimin yang terbengong.

Ketika dengan seenak jidat Yoonji berseru girang, “Kalau begitu ahjussi harus menikah denganku! Tahun ini aku lulus dan bakal masuk universitas YaGook! Ahjussi seusia dengan oppaku ‘kan? Berarti cumaterpaut sepuluh tahun—tidak masalah, hanya sepuluh tahun sih bukan apa-apa! Iya ‘kan?! Intinya ahjussi mesti menikah denganku! Tunggu aku semester dua dan kita bakal menikah, kalau kau mau menikahiku saat lulus sekolah juga aku tidak keberatan. Bagaimana? Aku jago memasak loh!”

“Min Yoonji!”

Oppa, diam saja. Ini demi masa depanku, kau tidak mau lihat aku bahagia saat besar nanti hah?”

“Anak ini

Ahjussi! Kau tampan, aku cantik—lihat? Bahkan Tuhan sudah mentakdirkan kita dari awal! Hm, hm, hm?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

end.


Jo Liyeol Curhat Timing


Hai, hai, hai. Duh akhirnya kesampean juga pengen bikin fanfik MinYoon yang begini =w=

Gareget pengen munculin Yoonji gitu tiap kali liat foto ini orang nongol dimana-mana dengan cantiknya :v Dan daku ga terima, suka kesel sambil ngomong jorok tiap kali nonton ulang House Of Army terus keinget babeh Momon yang jadi bencong ala-ala di situ =w= Sumpah, ga cantik sama sekali bruh.

Dah lah yaw gitu ajin =3=

PS: Semua typo yang ada adalah kekhilafan.

.

.

Thanks for read this.

So, sorry for typo and all fault.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s