Blood, Sweat And Tears (Series)

Jo Liyeol’s present ©2017

— Kuggnoe Juvuli 

Taehyung hanya tidak tau bagaimana cara menyampaikan perasaan pada Jeon Jeongguk—sosok manis yang selalu menjadi kiblat kehidupannya, mentarinya, pula kemilau purnamanya—ialah sahabat terkasihnya. )

.

OCC || AU || Typo || BL

Ficlet ]

.


Benderang lampu mendominasi ketimbang temaramnya langit malam ini. Pintu kamar seratus tiga puluh asrama akademi YaGook berderit seiring menampakkan perawakan tinggi Kim Taehyung di ambangnya. Melangkahkan kaki kedalam ruangan meninggalkan daun pintu yang perlahan menutup dengan sendirinya, menghampiri sosok Jungkook yang terduduk di atas karpet pada permukaan lantai kamar, berbagi ruang dengan tumpukan buku berserekan di sekitarnya.

Taehyung terhenti melangkah di sebelah sosok yang ia hampiri, melempar spiral notebook tepat di pangkuan sila sosok itu hingga mengambil alih perhatiannya—ia menodongak, menatap Taehyung dengan kerutan samar di dahi, “Apa ini?”

Jjamppong,” Taehyung bersuara datar tanpa menampakkan raut berarti pada ekspresinya

“Hah?” kerutan di kening Jungkook menebal, kebingungan sendiri pada tanggapan satu-satunya sosok lain dalam kamar ini.

“Kau idiot? Itu buku,” intonasi Taehyung masih sama pada air muka yang tak kunjung berubah. Namun aksen sarkas sedikit ia tekan pada kalimat cela di sana.

“Kalau itu aku tau!” suara Jungkook meninggi menahan kesal akibat celaan Taehyung yang tanpa beban, “Akukan hanya tanya,” sulutnya kemudian.

Namun dengan santai Taehyung mendudukkan diri di sebelah sosok yang ia katai, menanggapi ujaran Jungkook dengan nada datarnya yang selalu tanpa bumbu kecuali kesarkasan, dominasi dan penuh cibir, “Pertanyaanmu kelewat bodoh. Sudah jelas itu buku—dan kau tau, jadi untuk apa kautanyai?”

Jungkook sendiri memutar bola mata malas mendengar ujaran sahabatnya. Terlalu sering menghadapi tingkah Kim Taehyung, “Terserahmu, Tae.”

Dan Taehyung diam, tak menanggapi dengan menyibukan diri memakan cookies dalam toples kaca yang ia ambil di atas nakas tak jauh dari mereka.

“Omong-omong, ini untuk apa?” Jungkook yang memecah keheningan setelah dua menit, mengamit spiral notebook yang tadi di lempar Taehyung ke pangkuannya dengan kedua tangan.

“Tatakan gelas,” Taehyung menjawab asal di tengah kesibukan menelan kue-kue kering dalam mulutnya.

Jungkook menoleh, menatap datar sosok di sebelahnya, “Serius.”

Taehyung membalas pandang, menatap Jungkook tepat di mata saat kembali memasukan sisa cookies dari tangannya; sebelum menjawab sambil mengunyah, “Kurasa kau benar-benar idiot, Kook. Kalau itu buku, sudah jelas untuk dibaca ‘kan?”

Kini gantian Jungkook yang memilih diam. Hanya akan memacu tekanan darah tinggi bila berlama-lama meladeni kelakuan Kim Taehyung, dan dia tidak mau memiliki riwayat stroke di usia dini. Jadi Jungkook membuang pandang, menatap lekat-lekat buku di tangannya akan lebih baik dari pada menatap Taehyung lebih lama.

‘Kuggnoe Juvuli’

Kalimat itu yang Jungkook tangkap pada lembar pertama dalam buku tipis Taehyung, dua kata yang tertulis paling besar di bagian atas garis tulis. Mengundang kerutan samar pula terpatri pada keningnya, “Apa-apaan dengan judulnya?” ia mendongak, kembali menoleh pada sang sahabat yang entah sejak kapan telah ikut menatap halaman perdana buku itu.

“Jangan banyak omong, sudah baca saja,” titah Taehyung. Menusuk retina Jungkook dengan obsidian coklatnya yang selalu terlihat bosan kapan pun dan dimana pun.

Sama sekali tak mempedulikan sosok yang ia titah mendengus penuh ketidak terimaan namun pada akhirnya tetap menurut.

Dengan fokus yang terpasung pada deretan kata di dalam garis-garis tulis yang ada, Jungkook membaca penuh khidmat tulisan tangan Taehyung yang berjejer rapih di sana.

 

… I silent in my dreams loving you …

Looking at your beautiful face in silence …

Curled up in memory with you …

Kuggnoe Juvuli …

Space who bring my …

Fly me along delusions about you …

Kuggnoe Juvuli …

Love you in silence …

My love does not need a reply …

Kuggnoe Juvuli …

Fly me …

Take my love …

Kuggnoe Juvuli …

Kuggnoe Juvuli …

I luv u …

 

Di detik ia menghentikan bacaannya, Jungkook tak dapat menahan betapa ia terpukau pada deretan kalimat yang baru saja ia baca. Terbengong sesaat sebelum dengan binar menatap Taehyung penuh kagum, “Ya! Kau benar-benar mengikuti saranku, hah? ‘Menulis dengan hatimu’?” menyenggol iseng ujung bahu Taehyung, Jungkook menaik turunkan kedua alis lincah lalu mengangkat bangga buku di kedua tangannya tinggi-tinggi, “Ini bagus. Ganti judulnya, dan kuyakin kali ini lirikmu pasti diterima.”

“Tidak mau. Aku akan mengirimnya dengan judul itu.”

Lagi-lagi Jungkook mengernyit. Menurunkan kedua tangan lalu menatap Taehyung tak terpukau, “Sungguh, Tae. Saranku selalu tepat—benar?” cetusnya mendominasi. Dengan enggan Taehyung menggedik kedua alisnya acuh, “Judul melambangkan isi lagunya, kuyakin kau tau itu. Kuggnoe Juvuli? Ayolah, aku tau kau suka sesuatu yang berbeda. Tapi judul apaan itu? Apa artinya? Dari bahasa apa? Aku baru dengar dan kuyakin google translate pun tidak akan mengeluarkan definisi kalimat itu. Lirikmu sangat bagus Tae, jadi mengalah saja, dapur rekaman pun pasti akan menyuruhmu mengganti judulnya kalau-kalau lirik ini diambil.”

Taehyung menarik ujung mulut hingga bibirnya masuk dan tak lagi terlihat, terdiam sesaat dengan obsidian menatap tak kalah malas ke arah Jungkook sebelum menjawab enteng sambil membuang muka melanjutkan aktifitas makannya, “Kalau begitu aku tidak akan menyarahkan liriknya. Dapat royalti besar pun aku tidak sudi.”

“Jangan keras kepala, Bodoh. Apa susahnya mengganti judul? Ada ribuan kata indah di luar sana, kau hanya perlu mengutipnya lalu kaususun menjadi kalimat yang tepat,” Jungkook berujar setengah kesal, terdengar sebersit paksaan di tengah ujarannya.

Taehyung melengos, menutup toples cookies yang ia makan sebelum menaruhnya di lantai, “Kubilang tidak mau,” ujarnya penuh tekan menatap balik Jungkook. Lalu dengan separuh sebal menarik bukunya dari sang sahabat sebelum mengapitnya di ketiak kiri, “Lagi pula aku menyuruhmu membacanya, bukan mengomentarinya,” ia bangkit, menepuk puncak kepala Jungkook dua kali, “Aku mau balik ke kamar, kunci saja pintu kamarnya kalau roommate bantetmu itu belum kembali sampai pukul sembilan. Kerjanya mencumbui Yoongi sunbae terus,” kemudian melangkah ke arah pintu meninggalkan Jungkook yang mengusung raut datar di wajah.

“Terserah saja, dasar Bodoh,” cibirnya sesaat selepas debuman halus pintu terdengar bersama hilangnya sosok Kim Taehyung dalam kamar ini.

Hingga detik di mana gema jejak Taehyung mengecil dari lorong kamarnya, Jungkook tak juga menyadari betapa rapuh sosok Kim Taehyung saat di sampingnya.

Sosok yang dengan tegar menahan gemuruh sesak di dadanyanya, memajamkan mata kuat menahan debar keputus asaan beriring langkah tegas membawanya menjauhi pintu kamar yang selalu membuat raga beserta hatinya meretak dan begitu tertutup.

Meski tak Taehyung pungkiri, di sana lah semestanya berada, tiap jengkal kebahagiaannya, membawa seluruh jejak senyumannya pada seorang lelaki manis di dalam sana.

“Percuma,” gumam lemah terdengar setelah dengan lelah Taehyung melempar pelan spiral notebooknya pada tong sampah di pinggir koridor yang ia lalui.

 

Kegetiran Tuhan yang membawa hatinya berlabuh pada pilihan tunggal Jeon Jungkook. Tak ada sosok lain yang bisa ia perjuangkan selain dirinya, hingga saat di mana Taehyung kembali jatuh dan gagal. Ia akan kembali bangkit dengan cara yang berbeda untuk mendapatkannya.

 

 

… Ku diam dalam angan ku mencintaimu …

Memandang indah paras mu dalam sunyi …

Bergelung dalam memori bersamamu …

Kuggnoe Juvuli …

Angkara yang membawaku …

Menerbangkanku bersama delusi tentangmu …

Kuggnoe Juvuli …

Mencintaimu dalam diam …

Cintaku yang tak butuh balasan …

Kuggnoe Juvuli …

Terbangkan aku …

Bawalah cintaku …

Kuggnoe Juvuli …

Kuggnoe Juvuli …

I luv u …

I luv u Jeongguk …

 

 

 

 

end.


Jo Liyeol’s Curhat Timing


Oke, ini gaje. Dan dedek terinspirasi dari Winter woods yang lagunya Zoe itu loh.

Odelia Roav I love Adora :v

Itu udah lama banget, dan inspirasinya baru nongol sekarang =w= Wok wok wok.

Btw, itu lagunya bang Mphi kubikin sendiri make inspirasi asal-asalan yang penting jadi :v :v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s