ROFL Boyfriend

Jo Liyeol’s present ©2017

.

ROFL Boyfriend

sometimes I ask, why I love you

.

CastPark Chanyeol (EXO), Oh Nayoon (YOU/OC)

.

 

[]

.

.

.

“… A-ya-ya, oneul bam nawa dance all night …!”
(… a-ya-ya, menarilah sepanjang malam ini bersamaku ….)

 

Kalau ada satu hal yang paling Nayoon cemburui dekat-dekat dengan Chanyeol, ia adalah headset. Gadis itu sadar betul dirinya memacari lambang dari keindahan, pemuda yang seakan dibuat begitu minat oleh para dewa-dewi khayangan. Ambassador kampus dengan ketampanan memikat luar biasa.

“Chanyeol.”

Tapi tak ada yang bisa membuatnya cemburu mati-matian hingga begini frustasi.

 

“Oh, jiruhaessdeon harul beoseo deonjyeo beorigo …!”
(oh, lempar dan buang hari yang membosankan ….)

 

Sekalipun—satu kali bahkan satu detik. Tak pernah Nayoon kepayahan karena Chanyeol digoda ayam-ayam kampus berpakaian minim, dengan dandanan tebal menggoda si Park terang-terangan. Pekikan gemas siswi-siswi SMU saat mereka kencan akhir pekan. Atau bahkan pada kerlingan genit puluhan bibi centil di sepanjang jalan tiap kali Chanyeol mengantarnya pulang tanpa motornya.

Nayoon tak sekalipun cemburu.

Karena ia paham, Chanyeol tidak pernah sungguh-sungguh menanggapi mereka selain melempar senyuman sopan. Tidak lebih dari itu. Fokusnya hanya tertuju pada Nayoon seorang, tidak peduli berapa ribu kaum hawa yang menatapnya buas seakan ingin memangsanya bulat-bulat.

ugh! Romantis.

“Chanyeol.”

Tapi sikap si Park bisa sungguh-sungguh beda kalau telah didampingi Heyeol (headset kesayangannya yang dengan berseri-seri ia beri nama begitu). Chanyeol itu biasanya cerewet, tidak pernah mau diam dan luar biasa berisik. Belum lagi cengir bodohnya—di luar kata tampan, kadang kala Nayoon bingung mengapa makhluk sepertinya bisa jadi primadona kampus. Namun pemuda Park itu bisa jadi sepenuhnya abai akan kehadirannya, bertingkah seolah Nayoon tidak berada di sana; ketika sibuk pada alunan musik dan dunianya sendiri. Memberi seluruh cinta kasihnya utuh pada Hayeol tanpa pedulikan Nayoon saat itu juga.

Menyebalkan.

ya, memang. Hebat sekali ‘kan Park Chanyeol?

 

“Nae ane jamdeureo issdeon heungeun chaenggigo …!”
(ambilah kebahagiaan yang terlelap dalam dirimu ….)

 

“Chanyeol!” lagi, gadis 22 tahun itu mendengus keras sebelum menggelung asal surai panjangnya ke atas kepala. Si pemilik nama akhirnya mendelik, sesaat, sekedar mendapati Nayoon yang sibuk uring-uringan. Lalu kembali fokus mengangguk-angguk sambil merapalkan lirik yang tidak jelas tersyair dari mulutnya.

 

“Ollata bwa yeogi rideumiran mabeobe …!”
(lompatlah ke sini pada sihir dari irama ….)

“Senorita! Kkamjjak nollal bameul seonmulhae julge …!”
(senorita! Aku akan menghadiahkanmu malam yang mengejutkan ….)

 

“Chanyeol—astagaaa, sudah tuli, hah?!” jemari lentiknya bergemelatuk pada meja kini. Tiga garis simetris terbentang di permukaan keningnya, pangkal hidungnya berkerut sedangkan sepasang matanya menyipit jengah.

 

“Seotun momjise neoreul matgyeo geunyang michyeo …!”
(gerakan yang kaku akan meninggalkanmu, cukup menjadi gila ….)

“Ooh ah ah ah ah ah—”

 

“Park. Chan. Yeol! Excuse me?!”

Pada akhirnya Chanyeol menoleh, melepas sepasang headset di telinga demi menghindari amukan Nayoon yang nyaris muncul ke peradaban. Dengan tanpa dosa memampangkan wajah kalem sok inosen, “Hm? Kenapa, Sayang?”

Tanggapan yang cukup membuat kekasihnya mengepal tangan di atas meja, mengarahkan laser dari sekembar retinanya yang berpendar emosi, “Sayang? Pantatmu tuh—dasar sialan.”

Si Park mengulum senyum menahan tawa mendapati gadis itu bersungut-sungut.

“Hei, hei, hei. Kenapa marah-marah padaku?”

“Punya otak? Pikir sendiri!”

Eeey, lihat siapa yang merajuk? Mukamu bisa jelek kalau tertekuk begitu.”

“Apa pedulimu, hah? Pacarmu kan Heyeol!”

Geraman kesal itu sukses membuat tawa Chanyeol membahana, gelaknya mengudara kencang sekali sambil bertepuk tangan heboh; tidak peduli pengunjung kafe lain. Sedangkan Nayoon menyernyit pias mendapati panorama ini, maka dengan kesal jemarinya terjulur mencubit punggung tangan Chanyeol di meja.

Membuat pemuda itu mengaduh histeris, sebelum mengerucutkan bibir—mendumal. Dan membuka resleting depan ranselnya selang beberapa detik, sekedar memasukan headset yang sudah di pisahkan dari ponsel. Lantas bersuara sembari mengelus punggung tangannya, “Jahat, aku dicubit.”

“Untung tidak kupukul sekalian!”

“Iiih … seram, aku takuuut.”

Atas perkataan yang dibuat-buatnya, kali ini menjadi detik kepalan tangan Nayoon benar mendarat di sebelah kepalanya. Lagi-lagi membuat Chanyeol mengaduh, namun tak lama karena dalam tunduk mengusak kepala pemuda Park itu mengembangkan senyum seraya tergelak senang.

Membuat Nayoon menyipitkan mata makin geram, tidak mengerti ke mana arah pikiran kekasihnya itu bermuara, “Sudah gila, ya?”

Namun Chanyeol justru makin tergelak di posisinya.

Perlu diketahui, sejujurnya si Park sama sekali tak menyalakan lagu, tidak ada alunan musik yang memenuhi gendang telinganya sedari tadi. Hanya sengaja memancing amarah kekasihnya karena menurut ia itu sangat menggemaskan. Dari bagaimana cara sekembar obsidian Nayoon menyalang kesal, raut marahnya, gemerisik graham gadis itu saling adu, dan umpatan tipis atas sumpah serapahnya yang mengudara.

holly.

Momen itu luar biasa imut menurut Chanyeol.

 

 

.

.

.

.

.

.

finish.

Review Juseyooo!

.                                                                            

.

Personal blog; Jo Liyeol’s Fantasy [ https://joliyeol27.wordpress.com/ ]

Ppyong! Saranghae Bbuing! ^^v

[08-03-2017]

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s